
Cobalah mendefinisikan cinta, maka pengertiannya akan beragam rupa. Dari yang melankonis, romantis, harmonis, atau bahkan terasa sadis. Jawaban sederhananya karena cinta didefinisikan sesuai hati sang pencinta.
Tabiatnya cinta akan mempengaruhi jiwa, ia akan bersandar pada pikiran dan berbuah pada tindakan. Karena cinta, seorang ibu tega mencuri, sebagian orang berfikir “ini terlihat gila” namun tak perlu aneh karena tindakannya digerakkan oleh rasa cinta. Seorang remaja tewas bunuh diri karena cinta, masyarakat kebanyakan pun akan berteriak senada, “ini sebuah kebodohan”. Tapi itulah anehnya cinta, ia seolah mampu menggerakkan jiwa dan raga tanpa berfikir panjang.
Tinggal dilihat dari sisi manakah cinta itu sebenarnya, dilihat dari hasrat dan syahwat atau cinta yang bermuara pada kecintaan pada syariat. Karena jelas sisi inilah yang akan melatar belakangi munculnya sebuah tindakan.
Lihatlah sejarah! Islam berkembang dan menemui kemuliaannya karena digerakkan oleh cinta. Seorang ayah akan rela meninggalkan keluarganya untuk sebuah kemuliaan di medan perang. Seorang ibu dengan bangga melepas anak-anaknya menjadi mujahid di jalan juang demi menegakkan kalimah syahadat juga atas nama cinta. Seorang istri rela melepas suami yang baru menikahinya ke medan jihad juga atas nama cinta. Atau anak-anak remaja yang memaksa Rasul agar mengizinkan mereka berperang itu pun juga atas nama cinta.
Permasalahannya bukan apa itu cinta, tapi bagaimana cinta didefinisikan. Cinta menjadi ajal yang begitu menyengsarakan jika ia didefinisikan sempit, sekedar untuk memuaskan nafsu syahwat kemudian berpaling dan menghilang. Berbeda jika cinta didefinisikan sebagai pengubah, dari kelam menjadi terang, dari samar menjadi jelas, dari hitam menjadi putih. Itulah cinta sesungguhnya.
Belajarlah dari seorang pecinta sejati, ia adalah Muhammad. Berapa kali jiwanya diancam? Berapa banyak ia di sakiti? Berapa banyak pula ia di zhalimi? Namun perlakuannya tetap sama, mendoakan kebaikan, memafkan dan membalas dengan kebaikan. Inilah persepsi cinta yang muncul dari sanubari yang sangat dalam. Wajar jika Allah memuji beliau dengan ayat, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu……(QS Al-Ahzab:21).
Ketika berhari-hari melakukan perjalanan dakwah ke Thaif bersama Zaid bin Haritsah, tanpa hasil bahkan yang didapat adalah cacian, makian dan lemparan batu yang mengenai kepala, badan dan tumit beliau hingga darah mengucur deras dari kaki beliau yang mulia. Kemudian turunlah malaikat Jibril dan malaikat Jabal atas perintah Allah untuk membantu Rasulullah dan memenuhi apa saja yang beliau inginkan.
Ketika Rasulullah ditanya oleh malaikat Jabal, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu, dan aku adalah malaikat gunung. Aku diutus Tuhan supaya bisa menyuruhku apa saja yang kamu mau. Jika kamu mau aku bisa menimpakan gunung kepada mereka”. Namun saksikan saudaraku, apa yang dikatakan Muhammad? “Sebenarnya aku hanya memohon supaya Allah mengeluarkan keturunan mereka untuk mau menyembah Allah Yang Maha Esa dan agar tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun.”
Itulah makna cinta saudaraku, cinta yang membuat seseorang dengan tulus mendoakan kebaikan. Cinta yang sebenarnya muncul dari hati yang menginginkan orang yang dicintainya menjadi luar biasa. Cinta yang mengalahkan egoisme pribadi, mengalahkan kehendak pribadi, mengalahkan keinginan diri sendiri. Cinta yang luar biasa ketika ia terwujud demi kepentingan bersama, demi kemajuan bersama, dan demi perbaikan bersama.
Do’a tulus seorang saudara kepada saudaranya adalah cinta yang sebenarnya….
Keritikan yang diutarakan dengan cara yang bijak kepada saudaranya adalah cinta sebenarnya….
Maaf yang diberikan sebelum permohonan maaf pada sahabatnya adalah cinta sebenarnya…..
Berbaik sangka dan menghilangkan buruk sangka adalah cinta sebenarnya….
Pujian mesra seorang suami kepada istrinya adalah cinta sebenarnya…..
Seorang istri yang menjaga kehormatan suaminya itu juga cinta sebenarnya….
Tangisan seorang ibu untuk anaknya di tengah malam itu cinta sebenarnya….
Keringat yang mengucur deras dari wajah sang ayah ketika bekerja demi anaknya juga cinta yang sebenarnya….
Terisak-isak meratapi dosa dalam nunajat panjang dan bertaubat kepada Allah itu juga cinta sebenarnya…
Menggenggam sunnah dengan sungguh-sungguh karena cinta Rasul juga cinta yang sebenarnya….
Mari kita bicarakan cinta yang sebenarnya pada siapa pun yang ada di dekat kita saudaraku…
Karena dengan cinta yang sebenarnyalah, kegundahan akan sirna, permusuhan akan hilang, silaturrahim akan terjaga, persatuan akan terwujud, dan kemulian agama ini akan bisa terbina….
Wallahu a’lam.

Siapa ummat Islam yang tidak mengenalnya? Namanya menghiasi sejarah panjang dari setiap perkataan dan perbuatan Rasulullah. Ia menjadi rujukan utama bagi yang haus akan telaga untaian hikmah dari Rasulullah.
Pada awalnya ia bukanlah orang yang luar biasa. Sebelum masuk Islam tak banyak yang mengenalnya, paling-paling orang-orang mengenalnya hanya sebagai orang yang miskin dan pekerja sebagai pesuruh Basrah binti Ghazwan. Imbalan yang didapatnya dari membantu Basrah hanya berupa makanan. Ia hidup sebagai yatim, bahkan termasuk yang memasuki Islam pada masa-masa belakangan, kurang lebih dua puluh tahun dari orang-orang yang lain. Setelah memeluk Islam ia hanya merasakan hidup selama empat tahun saja bersama Rasulullah.
Namun jangan tanyakan kekuatan tekatnya. Muslim yang baru saja merasakan indahnya Islam ini mulai memikirkan bagaimana caranya agar ia berarti bagi sejarah ummat Islam. Dalam hal keberanian, mungkin ummat akan lebih mengenal Umar bin Khatab atau Khalid bin Walid. Dalam kecerdasan mungkin orang lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib atau Zaid Tsabit dan sederet nama lainnya. Dalam segi ketaatan, orang lebih mengenal Abu Bakar. Dan dalam kedarmawanan ummat lebih menjunjung sosok Utsman bin Affan atau bahkan Abdurrahman bin Auf. Ia sadar ia tak akan mampu mengalahkan nama-nama besar mereka. Namun itu tak membuat nyalinya kendur atau bahkan melemah, bahkan semakin bersemangat.
Ia malah memikirkan sesuatu yang mungkin tak akan pernah bisa didapat dan dilakukan oleh orang lain. Atau minimal tak banyak yang ahli dibidang itu. Ketika itu ia memiliki pemikiran bahwa agama ini harus dijaga. Dan pada saat itu mempelajari al-Qur’an adalah yang paling banyak digeluti oleh para sahabat, akhirnya ia lebih memilih menghafal hadits-hadits dari Rasulullah.
Karena tekat yang luar biasa, sejarah kemudian mencatat namanya sebagai penghafal hadits terbanyak. Dialah Abu Hurairah, yang dengan kekuatan hafalannya agama ini terjaga terjaga kemurniannya dari hadits-hadits yang beliau riwayatkan. Bahkan Imam Syafi’i memuji beliau “Ia paling banyak menghafalkan hadits daripada penghafal semasanya.”
--oOo--
Itulah kebulatan tekat saudaraku, semakin besar tekat maka akan semakin besar pula kekuatan yang mendorongnya. Semakin lemah tekat, maka perlahan tapi pasti membuat langkah kita statis dan tak beraturan yang pada akhirnya menenggelamkan kita pada kebuntuan jalan.
Hidup ini sejatinya hanya bisa dilewati dengan tekat dan optimisme. Itulah sumber kekuatan yang luar biasa bagi manusia. Tanpa itu, kita diibaratkan sebagai mesin tua yang tak mampu lagi berjalan. Diam, kelam, tak bernilai dan teronggok tak berdaya dimakan usia.
Simak bagaimana kekuatan tekad Abu Hurairah, ia tidak hanya ingin dikenal atau menyejarah tetapi karena ingin bisa bermanfaat. Inilah kekuatan sesungguhnya. Perhatikan sebuah hadits Rasulullah,” Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” (HR. Bukhari).
Ya…..paling banyak manfaatnya, itulah manusia yang terbaik. Karena sejatinya orang yang bermanfaat tidak akan memikirkan hanya satu kepentingan saja. Tapi dua kepentingan sekaligus, diri dan orang lain. Namun, saksikan berapa banyak orang yang saat ini mau menjadi manfaat bagi orang lain? Kalau tidak kepentingan pribadi, jelas hanya untuk kepentingan golongan saja.
Dalam konteks global, kita adalah ummat yang terbaik yang diperintahkan untuk tidak memikirkan diri sendiri, namun ada amanah dakwah yang luar biasa. Simak bagaimana Allah menjelaskan dalam al-Qur’an, “Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq.” (QS. Ali Imran : 110)
Menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran, itulah tujuan hidup seorang muslim. Mendedikasikan dirinya tanpa henti untuk dakwah dan maslahat hidup orang banyak. Tidak ada perintah untuk memikirkan segelintir golongan apalagi diri sendiri.
Kekuatan sejatinya akan semakin menguatkan, jika tujuannya adalah Allah. simak bagaimana Ibnul Qayyim menjelaskan, “jika kebahagiaan hidup seseorang adalah Allah, maka ia menganggap kekayaan adalah kefakiran tanpa Allah dan kefakiran adalah kekayaan bersama Allah. Kemuliaan adalah kehinaan tanpa Allah dan kehinaan adalah kemuliaan bersama Allah.”
Saudaraku…sejauh mana kita memiliki kekuatan tekad yang mengantarkan kita pada kemuliaan? Kekuatan yang memikirkan orang lain dan bukan egoisme pribadi saja. Kekuatan untuk kebahagiaan bersama bukan untuk diri sendiri.
Milikilah tekad untuk jadi manusia yang terbaik, manusia yang paling banyak manfaatnya. Bergeraklah, melangkalah dan berletih-letihlah dalam dakwah karena kekuatan itu tidak hanya memuluskan jalan kita meraih kebahagiaan tapi juga mengantarkan kita pada kemuliaan yang kekal diakhirat….insya Allah. Wallahu a’lam…


