Ditemani motor vespa tua kesayanganku, pagi itu aku menembus jalanan kota Palembang, udara yang sesak akibat telalu banyak polusi tak menghambat untuk terus melaju, teriknya matahari pagi tak menyurutkan niat untuk terus menggeber motor tua itu. Sedikit was-was, karena di dalam tasku ada uang tunai sebesar 15 juta rupiah yang terbungkus rapih dengan Koran. Tujuanku pagi itu hanya satu, menuju Bank Muamalat untuk menyetorkan uang ke rekening ayahku. Beliau memintaku untuk menyetorkan uang tersebut ke rekeningnya karena kebetulan hari itu beliau ada pekerjaan mendadak keluar kota selama beberapa hari.

Zikir panjang, do’a-do’a dan harapan tak pernah berhenti membasahi lisanku, pintaku hanya satu, sampai dengan selamat menuju Bank Muamalat tanpa ada masalah sedikitpun. Kecemasanku sedikit berkurang ketika tiba di depan kantor Bank Muamalat, disambut dengan senyuman tulus seorang laki-laki separuh baya yang menggunakan safari plus menggunakan peci hitam, membukakan pintu kemudian mempersilahkanku untuk masuk, tentu saja tetap dengan kesopanannya.

Kantor Bank Muamalat pagi itu masih terlihat lengang, hanya beberapa orang yang sedang duduk mengantri menunggu panggilan. Aku mengambil slip setoran, mengisi sejumlah data yang diinginkan lalu lalu turut mengantri seperti yang lain di kursi-kursi yang telah disediakan. Tak berapa lama tiba giliranku, dan akhirnya tugasku hari ini selesai, uang pun telah berhasil disetorkan.

Itulah pertama kalinya aku melangkahkan kaki ke Bank Muamalat, tak banyak memang aktifitas dalam hidupku yang bersinggungan dengan Bank, seingatku aku hanya punya satu rekening di Bank Konvensional, itu pun sebagai syarat wajib dari kampusku sebagai alat untuk membayar uang setiap semesternya. Setelah selesai kuliah, persis tak pernah sekalipun berhubungan dengan Bank itu lagi. Karena memang sejak awal aku mengetahui bahwa Bank (khususnya Bank Konvensional) terkait erat dengan praktik ribawi yang diharamkan oleh agamaku.

Karena tuntutan zaman yang tak memungkinkan lagi untuk menyimpan setiap lembar uang di bawah kasur, atau melipat uangku agar bisa masuk ke dalam celengan berbentuk ayam. Melihat kebutuhan yang penting terhadap Bank itulah, mau tak mau aku tetap harus bersinggungan kembali dengan Bank, agar kenyamanan, keamanan, dan kepraktisan dapat diperolah, namun tetap Bank yang kupilih harus berlabelkan Syariah.

Mengapa Harus Syariah?

Mengapa harus syariah? Pertanyaan ini layak untuk dipertanyakan, karena jawabannya nanti tidak hanya terkait pada sisi keuntungan saja tapi juga nilai keadilan dan humanistic, sehingga mendorang orang lain untuk lebih memilih melangkah bersama Bank Syariah dibanding Bank Konvensional.
Pertama dari sisi keuntungan, yang perlu dipahami secara sederhana adalah adanya perbedaan mendasar antara Bank Syariah dan Bank Konvensional, Bank Syariah tidak menerapkan sistem bunga, tetapi sistem bagi hasil (mudharabah), dimana nasabah Bank Syariah akan memperoleh nisbah atau memperoleh presentase bagi hasil yang tertera dalam perjanjian sebelumnya. Jika pada Bank konvensional bunga bank ditentukan persentasenya oleh masing-masing Bank sehingga untung atau tidaknya sebuah bank bunga yang dibayarkan akan tetap sama sejumlah persentase bunga yang dijanjikan. Berbeda dengan Bank Syariah yang menggunakan sistem bagi hasil, sehingga keuntungan yang diperoleh oleh nasabah berdasarkan hasil keuntungan Bank, semakin besar keuntungan Bank maka semakin besar bagi hasil yang bisa didapat oleh nasabah.
Kedua dari sisi keadilan dan humanistic, dengan adanya bagi hasil nilai keadilan ditanggung bersama antara pihak Bank dan nasabah. Sehingga hubungan antara Bank Syariah dengan nasabahnya bukan hubungan antara debitur dengan kreditur seperti yang terjadi pada Bank Konvensional, melainkan hubungan kemitraan antara penyandang dana (shahib al maal) dengan pengelola dana (mudharib). Sehingga keuntungan yang diperoleh tidak hanya dimiliki oleh para pemegang saham, namun juga berpengaruh terhadap bagi hasil yang dapat diberikan kepada nasabah menyimpan dana. Dari sisi humanistic, bank syariah terintegrasi pada nilai-nilai kemanusian, menjadi nasabah bank syariah berarti menjadi bagian dari langkah untuk senantiasa memperhatikan kesejahteraan dan kepedulian terhadap orang banyak, karena pada bank syariah keuntungan yang diperoleh langsung dipotong zakat perbulannya sebesar 2,5 % sesuai dengan perintah ajaran Islam. Dari 2,5 % inilah nasabah membantu anak yatim, pengelolaan pendidikan, fakir miskin dan segala bentuk social activity lainnya. Sehingga keuntungan yang diperoleh pun tidak hanya sebatas materi saja tapi menjadikan kita sebagai manusia-manusia yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi yang pada akhirnya mampu meraih keberkahan dunia dan akhirat.

Kekokohan Perbankan Syariah

Siapa yang menyangkal bahwa muslim adalah populasi terbesar negeri ini, seharusnya dengan kondisi ini menjadikan segala sesuatu yang berhubungan dengan keislaman lebih bisa diterima. Namun tentu saja kondisi bisa berkata lain, tengok saja banyak hal yang berhubungan dengan keislaman dapat dengan mudah ditentang atau ditolak, ironisnya oleh umat Islam sendiri.

Seperti perbankan syariah misalnya, baru semenjak tahun 1992 dikembangkan di tanah air yang diawali dengan lahirnya Bank Syariah Muamalat Indonesia, padahal gagasan mengenai perbankan syariah telah dimulai di Mesir pada tahun 70-an.

Pada awalnya perbankan syariah di tanah air belum mendapat tempat yang berarti, termasuk bagi umat Islam sendiri, hanya sebatas segelintir umat Islam yang percaya pada Bank Syariah. Bank ini sempat terimbas oleh krisis moneter pada akhir tahun 90-an sehingga ekuitasnya hanya tersisa sepertiga dari modal awal. Barulah ketika IDB (Islamic Development Bank) memberikan suntikan dana kepada bank ini dan pada periode 1999-2002 Bank Muamalat dapat bangkit dan menghasilkan laba (http://id.wikipedia.org/wiki/Perbankan_syariah).

Perlahan namun pasti perbankan syariah menunjukkan jati dirinya, hingga pada akhirnya sistem perbankan syariah diminati dan dikaji secara meluas. Bak kacang goreng, kini sistem syariah di Indonesia menjadi sangat diminati, tak ayal ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah Bank dan lembaga keuangan yang berlandaskan sistem syariah terbanyak di dunia. Setidaknya seperti diungkapkan pakar ekonomi syariah sekaligus Direktur Tazkia Institute Dr Syafi’i Antonio ada 33 bank, 46 lembaga asuransi, dan 17 mutual fund yang menganut sistem syariah (http://www.kompas.com/lipsus102008/). Ini menunjukkan geliat syariah dalam perbankan nasional menuju arah yang positif. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Ayo menabung di Bank syariah..!!!

Tulisan ini jg telah dimuat di kompasiana dengan link:
(http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com/2010/03/27/indahnya-melangkah-bersama-bank-syariah/)


Seperti biasa minimal satu hari tiap pekan, biasanya hari sabtu aku bersama dua sahabat yang lain menyempatkan waktu melihat lokasi yang akan dijadikan base camp outbound Rumah Organizer. Semua kami lakukan bertiga, mulai dari membuat rumah pohon, tempat duduk, merumput, menanam pohon hingga membuat sketsa pembangunan base camp.

Tidak mudah untuk mencapai kesana, butuh perjuangan mental dan fisik yang kuat. Dari segi mental kami harus mengokohkan tekat karena lahan yang ditempuh cukup jauh, lahan yang jauh membuat kami harus ekstra menguatkan hati untuk bisa sampai kesana tanpa keluhan sedikitpun. Dari sisi fisik mengharuskan kami membulatkan semangat untuk dapat mengalahkan lumpur yang hampir sedalam betis orang dewasa, belum lagi tanaman ilalang rawa yang sisi-sinya berduri sering kali menyayat kulit kaki tanpa perasaan.

Namun semua itu terbalaskan ketika berada di lahan base camp. Lahan yang lumayan luas itu membangkitkan impian kami kembali, seolah duka yang baru saja dilewati seketika menjadi suka. Angin deras melunturkan egois untuk mementingkan diri sendiri. Suasana senyap menghilangkan ambisi duniawi yang menghantui manusia-manusia kota besar. Rintikan dan hujan deras yang turun malah membangkitkan semangat untuk menggergaji, memukul paku, mengangkat kayu. Ditambah teriakan-teriakan lucu menambah semarak dinamika kerja kami bertiga.

Sebuah rangka pondok telah berdiri, dan kami berharap mudah-mudahan kokoh. Karena tak satupun dari kami yang mengerti betul teknik pertukangan. Yang kami handalkan adalah intuisi perhitungan matematis yang terkadang kurang nyambung. Dua orang lulusan fisika ditambah satu orang lulusan ekonomi menjadikan alasan kuat bahwa rangka pondok itu berdiri atas intergrasi ilmu yang tidak mumpuni.

Hanya bermodal cerita-cerita lucu, perdebatan yang alot hingga debat kusir yang tak begitu penting menemani gerakan tangan-tangan kami yang mulai berkarya. Satu dengan celotehannya yang tak begitu bermakna, satu lagi dengan cerita-cerita seputar pernikahan yang entah memotivasi untuk segera menikah atau hanya membuat gatal telinga karena jujur saja terkadang cerita-ceritanya tak lebih baik dari hikmah pernikahan yang biasanya diperdengarkan. Tapi itulah seninya bersahabat.

Hingga suatu waktu dalam perjalanan pulang salah satu dari sahabatku itu berkata, “ternyata menjadi sukses itu tidak mudah ya?” tampak dari raut wajahnya sahabatku berkata serius. Kalau biasanya setiap komentar ditanggapi dengan lelucon yang membuat perut melilit sakit akibat terlalu banyak ketawa, tapi kali ini aku tak berani mengacaukan keseriusannya.

Tergelitik dengan pernyataannya, aku pun bertanya, “emang kenapa?”. Mendengar pertanyaanku, diapun menjawab, “ini buktinya, harus susah payah menguras tenaga demi kesuksesan yang kita belum tau kapan akan terjadi?”

Dengan sedikit memberikan gambaran aku pun bersuara, “kalau sukses itu mudah, maka kita tak pernah bisa menikmati indahnya sebuah perjuangan untuk menggapai kesuksesan tersebut.”
________

Sahabat semua, bayangkan setiap kesuksesan yang pernah kita gapai! Perhatikan dan ingatlah baik-baik maka akan kita temukan suatu hal yang menarik. Ternyata kesuksesan yang kita peroleh tidak kita dapatkan dengan cara yang mudah. Ingat ketika dulu ketika mampu menyelesaikan sekolah kita mulai dari Sekolah Dasar hingga SMA, semua kita hadapi bertahun-tahun dengan belajar dan diakhiri dengan ujian akhir yang menentukan berhasil atau tidaknya kita mendapatkan selembar surat tamat. Atau ingatlah ketika kita memperoleh gelar keserjanaan, semua dilalui dengan tidak mudah. Ada proses yang panjang, kuliah berapa tahun, melakukan penelitian, melaporkan dalam bentuk tulisan, mempertahankan sekuat tenaga dalam ruangan yang disiapkan untuk menguji setiap mahasiswa, tak jarang kita bingung, cemas atau bahkan ada yang menangis karena “dibantai” dosen dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjebak.

Bagi yang telah berkeluarga, bayangkan betapa susahnya menguatkan tekat untuk berkata pada orang tua calon istri bahwa “saya siap menikahi anak bapak dan ibu”. Atau jika anda seorang istri , betapa sulitnya mengubah kebiasaan-kebiasaan lama untuk beralih menuju kebiasaan baru karena anda menguatkan tekat “saya harus menjadi istri yang baik bagi suami saya”.

Satu hal yang bisa kita saksikan bahwa ternyata kita sukses karena perjuangan dan proses yang panjang. Termasuk balasan bagi orang-orang yang bertakwa pada Allah. Mereka diganjar dengan kebahagiaan akhirat yang indah karena perjuangan panjang mereka di dunia untuk akhirat mereka. Simak apa yang mereka katakan ketika memperoleh syurga, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan :Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu….”(QS. 2: 25).

Namun jangan bayangkan mudah meraih syurga saudaraku, karena butuh perjuangan yang
tidak mudah. Karena memang syurga diciptakan sebagai ganjaran bagi orang-orang yang meneguhkan pendirian mereka dan menggapai keberkahan dengan istiqamahnya ibadah.

Tak ada kesuksesan yang digapai dengan cara yang mudah saudaraku. Semua memiliki jalannya sendiri, berkelok, menikung bahkan terkadang curam. Memang itulah jalan yang harus ditempuh dan tak ada pilihan kecuali menjalaninya, karena memang tak ada jalan pintas. Yang menjadi pertanyaan, sanggupkah kita? Karena banyak orang yang bermimpi untuk menjadi sukses pun enggan apalagi menjalaninya. Sadarkan diri bahwa Allah menciptakan kita dengan bentuk yang sempurna! Ada pikiran untuk berfikir, ada hati untuk menilai dan ada mata untuk melihat, ada perasaan untuk membandingkan mana yang halal dan mana yang haram.

Dalam konteks keimanan, sukses bagi orang mukmin hanya satu, berhasil menjalani kehidupan dunia dengan takwa dan menikmati kehidupan akhirat dengan bahagia. Kesuksesan dimaknai secara massif dan bukan pada satu sisi kehidupan saja. Sukses itu tidak sempit, karena ia akan membawa keberkahan yang luas. Sukses itu memiliki efek syukur yang tinggi! Karena orang beriman yakin “jika kalian mensyukuri nikmat-Ku, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim : 7).

Saudaraku, memang sukses tidaklah mudah. Butuh persiapan yang matang, ide yang cemerlang dan tentu saja kekuatan pikiran yang seimbang. Namun tidak hanya cukup dengan usaha namun membutuhkan sebuah harapan pada Allah yang menciptakan kesuksesan. Semoga menginspirasi kita untuk terus mensukseskan setiap langkah hidup kita dengan usaha dan keimanan. Wallahu’alam

Pagi hari yang mendung di kota Palembang,
14 Safar 1431 H/29 Januari 2010
Sebuah tulisan yang mudah-mudahan menginspirasi untuk memaknai kesuksesan dengan perjuangan.


Dunia adalah tempat yang licin nan menggelincirkan,
Rumah yang hina, bangunan-bangunannya akan runtuh,
Penghuninya akan beralih ke kuburan,
Perpisahan dengannya adalah keniscayaan,
Kekayaan di dunia sewaktu-waktu bisa berubah menjadi kemisinan
Jangan terpesona dengan kehidupanmu di dunia sehingga meninggalkan kehidupan akhirat.
Ketahuilah sesungguhnya hidupmu di dunia akan sirna,
Dindingnya juga miring dan hancur,
Maka perbanyaklah perbuatan baik
Dan jangan terlalu banyak berangan-angan.

(Imam Syafi’i)

Simak apa yang dilantunkan Imam Syafi’i dalam untaian sajak yang bisa mengingatkan kita atas jebakan dunia. Karena sebenarnya dunia dengan jebakannya siap merobohkan dan mendangkalkan hati nurani dan kejernihan pikiran kita saudaraku. Inilah tabiat dunia, mempesona orang-orang yang tak berfikir panjang, membuai orang-orang yang haus akan kenikmatan sesaat. Dan ironisnya ini menjadi penyakit kronis yang menyerang kebanyakan manusia, termasuk di negeri ini.

Akhir-akhir ini banyak polemik menghampiri bangsa kita, terasa terbis, buram bahkan memalukan. Inilah jejak langkah yang lambat laun akan terkuak. Ketika kezaliman menampakkan wujudnya, yang berkuasa adalah orang-orang yang ditangannya memegang berlembar-lembar uang yang dengan mudahnya membeli harga diri manusia. Yang dibeli pun seolah tak malu manunjukkan bobroknya moral mereka dengan menggadaikan hukum negara, menjual keadilan dan menyebarkan busuknya bau fitnah.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka…...” (QS. Ar-Ruum : 41)

Inikah yang membanggakan seseorang ketika seragam lengkap dengan pangkat membalut tubuh yang sejatinya ringkih? Atau ini pulalah yang membuat orang-orang berebut untuk mendapatkan sebuah kursi jabatan yang sejatinya penuh pertanggung jawaban? Hanya untuk sebuah alasan sederhana, “agar harta melimpah dan dipuji banyak orang”. Jika itu alasannya maka tunggu saja, diakhir hidupmu akan merasakan hinanya dimaki, dicaci oleh orang yang dulu menjilat-jilatmu dengan muka manis.

Jangan harap dengan harta haram bisa bahagia. Karena mau atau tidak mau kita terhina dengan harta itu sendiri. Hancur karena kejahatan akibat tangan kita sendiri. Ibarat boomerang yang siap berbalik menekuk tuannya sendiri jika tak siaga.

“Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat).” (QS. Asy-Syuura: 48)

Kehidupan ibarat sebuah lorong yang sempit, pengap dan mampu memburamkan penglihatan mata. Jika tak hati-hati dapat dengan mudah menjerembabkan kita pada kehinaan, karena begitu banyaknya jebakan-jebakan yang tak terlihat mata. Belum sampai pada tujuan akhir, namun telah banyak menyerah karena terlena. Karena sejatinya jebakan itu sungguh melenakan saudaraku.

Coba simak sebuah kisah hidup yang menggadaikan kehidupan dunia demi kemuliaan. Ia mendapatkan pujian sekaligus mendapatkan doa dari Rasulullah. Kisah ini diriwayatkan oleh ‘Abd al-Jabbar ibn al-‘Ala dari Yusuf ibn ‘Athiyyah, dari Anas ibn Malik r.a.
Suatu ketika ada seorang pemuda dari kalangan Anshar menghampiri Rasulullah yang sedang berjalan-jalan. Melihat pemuda tersebut mendekatinya, Rasulullah tak segan menyapa terlebih dahulu, “wahai Haritsah, bagaimana engkau menyambut harimu?”.
Sang pemuda menjawab, “Aku menyambut hariku dalam keadaan beriman kepada Allah dengan benar.”

“Jelaskanlah apa yang kuucapkan, sebab setiap ucapan memiliki makna.” Ujar Rasulullah.

“wahai Rasulullah, aku menjauhkan jiwaku dari dunia. Aku menghabiskan malam dengan beribadah dan siang dengan berpuasa. Aku pun melihat Arsy Tuhan tampak nyata, para penduduk surga saling mangunjungi, dan penghuni neraka melolong minta tolong.”

“Kamu sudah tahu, kukuhkan tekadmu! Kamu adalah hamba yang Allah terangi hatinya dengan cahaya iman.”

“Rasulullah, doakanlah agar aku mati syahid.”

Rasulullah mengabulkan permintaan Haritsah dan mendoakannya agar mati Syahid. Lalu apa yang terjadi kemudian? Dalam sebuah peperangan Haritsah wafat dengan kemuliaan yang tinggi. Hingga Rasulullah meyakinkan ibunda Haritsah dengan pujian, “Haritsah saat ini sedang berada di surga yang tertinggi yakni surga Firdaus.”

Hanya orang-orang yang tak mudah tertipu silaunya dunia yang mampu bertahan dikerasnya ujian ini saudaraku. Haritsah mengajarkan kepada kita bahwa dunia tak lebih dari sekedar barang tanpa nilai. Hanya sebuah fase untuk menggapai kebahagiaan hakiki. Bukan berarti dunia tak mesti kita nikmati, tapi bagaimana kita menikmati dunia hanya sebatas bagaimana ia mampu mengantarkan kita pada kebahagiaan yang sejati. Perhatikan nasihat imam Syafi’i berikut ini agar kita terhindar dari jebakan lorong kehidupan yang melenakan.

“Maka perbanyaklah perbuatan baik…..
Dan jangan terlalu banyak berangan-angan……”


Wallahu a’lam…

Hujan mengguyur kota Palembang tercinta…
28 Muharram 1431 H/ 14 Januari 2010 M
Sebuah tulisan yang mudah-mudahan menjadi renungan untuk negeri….


Tampaknya negeri ini tak bisa jauh dari kontroversi. Mulai dari ranah politik, ekonomi, sosial, masyarakat, agama, hingga ranah hukum dan keadilan. Kembali masyarakat dipaksa untuk mengurut dada dan dibuat tidak percaya akan adanya keadilan dan kesetaraan di mata hukum di Negara ini. Bagaimana tidak? Baru-baru ini kita dikejutkan ada beberapa tahanan yang tersandung kasus hukum mampu tenang dan tersenyum-senyum ria menikmati fasilitas tak biasa dari sebuah penjara layaknya sedang berada di kamar hotel berbintang lima.

Salah satu tahanan terlihat sedang melakukan perawatan wajah disebuah kamar berukuran 8 x 8 meter lengkap dengan lemari pendingin, kamar mandi mewah, pendingin ruangan, TV, memiliki pembantu dan bahkan dalam ruangan tahanan lain ada fasilitas ruang karaoke.

Pertanyaan sederhana muncul, “lalu apa fungsi penjara bagi pelaku kejahatan?.” Bukankah penjara adalah tempat pembinaan mental dan sikap agar jadi lebih baik? Bukan sebaliknya, penjara menjadikan pelaku kejahatan semakin brutal dan menjadi-jadi setelah ia bebas dari penjara.

Mungkin Karena hal inilah kejahatan tak pernah pudar, karena bisa jadi ada anggapan penjara akan memanjakan mereka dengan berbagai aktifitasnya. Suap meraja lela dikalangan sipir. Lagi-lagi yang diuntungkan adalah yang berduit dan bisa menyuap. Maka wajar saja jika koruptor di negeri ini menjadikan jumlah uang sebagai prestise bagi mereka. Tak segan dan tak malu menjarah uang rakyat toh jika pun masuk penjara, kamar hotel prodeo bisa disulap menjadi kamar berkelas layaknya hotel berbintang lima. Maka tak aneh jika koruptor berlomba-lomba meninggikan nominal jarahan mereka agar lebih besar dari teman-teman koruptornya yang lain.

Tetap saja yang diuntungkan adalah orang kaya. Hingga wajar jika istilah “The rich richer, the poor poorer” yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin menjadi latar belakang sosial bagi masyarakat Indonesia. Betapa tidak? Dengan uang-uang haram, mereka bisa menyuap orang-orang bermental kerdil seperti sipir-sipir penjara agar bisa memasukkan barang-barang tak layak ke dalam penjara.

Lalu bagaimana nasip tahanan yang miskin? Mereka tergilas dalam penderitaan yang berkepanjangan. Bertumpuk-tumpuk dalam penjara kecil layaknya ikan sarden dalam kaleng. Jangankan AC, tiupan angin luar pun berubah menjadi pengap akibat berjubelnya orang-orang dalam sel yang sempit. Jangankan sofa empuk, untuk duduk di lantai tanpa alas pun diatur sedemikian rupa agar semua bisa muat. Jangankan untuk berkaraoke, menyanyikan lagu lawasnya D’loyd “Hidup di Bui” pun mungkin mereka tak sanggup.

Coba bandingkan dengan sistem keadilan dalam Islam. Dalam penerapan hukum Islam ada beberapa prinsip penting yang harus diperhatikan. Pertama, Tauhid. Kedua, Keadilan. Ketiga, Amar ma’ruf nahi munkar. Keempat, al-Hurriyah (kemerdekaan). Kelima, al-Musawwa (persamaan). Keenam, al-Ta’awun (tolong menolong) dan ketujuh, al-Tasamuh (Toleransi). Jadi, keadilan merupakan salah satu prinsip dalam hukum Islam.

Begitu perkasanya hukum Islam hingga sejarah membuktikan berabad-abad dunia diterangi dengan keadilan ketika Islam menjadi pemimpin peradaban di masa lampau. Bandingkan dengan 2 abad yang kini di pimpin oleh dunia Barat, semua menjadi kabur bahkan menjadi buram.

Disadari atau tidak keadilan menjadi tujuan mutlak dari hukum. Keadilan adalah tolok ukur keberhasilan sebuah hukum, oleh karenanya sangat aneh jika ada hukum yang tidak mampu memberikan keadilan bagi manusia. Islam sangat menekankan keadilan terhadap semua makhluk. Tidak ada yang diistimewakan dan dibeda-bedakan. Bahkan Rasulullah pun menyatakan akan memotong tangan Fatimah jika ia mencuri.

Simak bagaimana Allah menegaskan dalam Firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 5: 8). Bayangkan begitu indahnya Islam dalam mengatur keadilan walaupun kepada kaum yang kita benci sekalipun. Tak ada keadilan yang lebih indah dari keadilan yang ditampilkan oleh Islam.

Keadilan adalah keniscayaan yang kita butuhkan, dengan keadilan akan membawa kita pada sebuah peradaban baru yang lebih baik karena sejatinya keadilan melahirkan mentalitas-mentalitas baru yang memikirkan kemajuan bersama bukan kemajuan pribadi. Percayalah keadilan bisa ditegakkan jika kita bersama meyakini Islam adalah solusi terbaik bagi bangsa ini. Wallahu’alam.


Lelaki itu terlihat ringkih. Bahkan sekedar untuk melangkah pun membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Setelah penyakit stroke melumpuhkan separuh dari tubuhnya beberapa tahun yang lalu, sempat tak ada kenyakinan diri bahkan cukup lama terlarut dalam kesedihan panjang. Namun subhanallah pada akhirnya dimula dari renungan panjang akhirnya penyakit itu tak mampu menyiutkan nyalinya untuk berjalan mengukur jarak untuk on time ketika azan bergema.

Guratan nasib seolah tak terlalu dihiraukan. Yang terlihat malah sentuhan semangat ditengah lemahnya fisik yang menggrogoti jasad. Memang fisik tak mendukung untuk berbagai aktifitas yang padat namun jangan tanyakan kesungguhannya. Seolah ada azzam yang kuat “tubuh boleh dimakan penyakit, namun penyakit tak kan mampu menggoyahkan semangat untuk beribadah.”

Itulah semangat yang tampak dari sosok laki-laki tua yang sempat bercakap-cakap denganku setelah sholat ashar beberapa waktu yang lalu. Wajah tua yang mengguratkan garis-garis masa lalu yang keras, namun sejuk dipandang. Ia sempat bercerita tentang masa muda, anak dan keluarganya. Tak ada yang special ketika masih gagah, tapi sungguh bermakna setelah ujian melumpuhkan kesombongan-kesombongan masa muda.

Kini ia merasakan manisnya ibadah dan indahnya keimanan. Sholat menjadi waktu yang ditunggu-tunggu walau pada praktiknya ia tampak kesulitan menjalankan rukun-rukunnya akibat penyakit yang menimpanya. Satu hal yang luar biasa, seolah penderitaan dan kesulitan yang ia hadapi tak menghalanginya untuk menikmati setiap rekaat yang ia lakukan demi Rabbnya.

--oOo--

Saudaraku, waktu memang memiliki moment tersendiri bagi setiap manusia. Ia bisa saja dengan mudah membalik keadaan hingga 360 derajat sekalipun. Hari ini buruk, besok telah kembali pada kebaikan. Namun tak jarang, hari ini baik, besok berlumuran dosa menuju kehinaan.

Tak penting kapan dan dimana, tapi yang terpenting adalah bagaimana akhirnya. Karena pada akhirlah yang menentukan nasib kita selanjutnya. Kondisi inilah yang membuat Rasulullah mengajarkan sebuah do’a yang luar biasa maknanya pada kita, “Wahai Engkau yang membolak-balikkan hati. Tetapkanlah hati kami pada agama-Mu dan ketaatan pada-Mu.” Karena Rasulullah mewanti-wanti kita bahwa seseorang dilihat pada akhir cerita hidupnya.

Saudaraku, jangan sampai nasib kita seperti sindiran sebuah ayat al-Qur’an yang ketika manusia mengetahui bahwa hari pembalasan itu adalah benar, lalu kemudian tersadarkan akan dosa-dosa dan kesombongan yang pernah ia lakukan, lalu kemudian dengan mengemis ia berkata, “……..Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul." Lalu apa yang didapat??? Allah menegaskan pada mereka, "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?” (QS. Ibrahim: 44).

Bersungguh-sungguhlah dalam memperbaiki setiap waktu kita dengan usaha dan do’a. karena tak ada yang mampu mengubah nasib kita kecuali diri kita sendiri saudaraku. Berharaplah pada akhirnya kita mendapatkan keberkahan waktu dan kebaikan waktu pada akhir hidup kita.

Berdo’a dengan penuh harap agar hidayah Allah menaungi kita, dan berharaplah agar kita tak tergilas oleh biasnya lipatan waktu yang melenakan, tidak terjerembab dalam waktu yang sia-sia, dan tidak terpuruk dalam waktu yang menjerumuskan kita pada kesalahan dan dosa. Karena sesungguhnya kitalah yang berhak menentukan diri kita sendiri, tetap dalam ketaatan atau kemungkaran.

Ya Rabb….Engkau yang Maha mengetahui hati-hati kami, maka kami mohon berikan jalan yang terbaik bagi kami.

Ya Rabb….tak ada yang lebih kami inginkan kecuali bisa menhadap-Mu dengan senyuman karena mampu mengoptimalkan waktu-waktu kami untuk taat pada-Mu. Maka mudahkan langkah kami.

Ya Rabb….jadikan di masa akhir hidup kami adalah keberkahan, dan jangan engkau murkai kami di masa akhir waktu kami.

Ya Rabb….ampuni dosa-dosa yang entah telah berapa banyak kami lakukan.

Ya Rabb….wafatkan kami dalam keadaan yang baik, dan mendapatkan kenikmatan kubur yang baik pula.

Ya Rabb….Wahai Engkau yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami dalam agama dan ketaatan pada-Mu.


Mungkin kisah ini tak asing bagi telinga kita. Namun sayang, tak banyak orang yang benar-benar merenungkannya. Sebuah kisah yang menceritakan bagaimana pilihan muncul ditengah-tengah perubahan yang terjadi disekitar kita. Mari kita kembali menyimak kisah ini saudaraku…

Suatu ketika seorang anak tampak murung dan kemudian mengeluh pada ayahnya mengenai kehidu-pannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Melihat kegelisahan sang anak, sang ayah kemudian membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Sang ayah membiarkan semua bahan itu mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.

Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya. Lalu ia bertanya kepada anaknya, "Apa yang kau lihat, nak?" "Wortel, telur, dan kopi" jawab si anak.
Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia merasakan wortel itu terasa begitu lunak. Ayahnya memintanya mengambil telur dan memecahkannya. ia mendapati telur tersebut telah mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, "Apa arti semua ini, Ayah?"

Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelahdirebus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.

Kini coba tanyakan dalam dirimu, apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu ? atau apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya ujian dan cobaan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku? Atau apakah kamu adalah bubuk kopi? Yang Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.

---ooOoo---

Saudaraku……, sadarkah kita bahwa kehidupan dunia ini tabiatnya meresahkan. Karena masalah demi masalah akan muncul memberikan warna pada hidup kita. Masalah demi masalah dalam hidup akan menyisakan berbagai banyak pilihan. Pilihan untuk bertahan, pilihan untuk menyelesaikan atau bahkan pilihan untuk menyerah.

Tergantung pilihan mana yang kita ambil dalam hidup kita. Ingin seperti wortel yang pada awalnya keras namun akhirnya melembek menyisakan keraguan. Atau seperti telur yang awalnya dinamis akhirnya keras tanpa sisa seolah mengungkapkan keangkuhan dan kesombongan. Pilihan bijak tak lain seperti biji kopi, yang mengharumkan, menyegarkan bahkan memberi efek “melek” bagi siapa saja yang “ngantuk”.

Dalam keimanan pun pilihan menjadi keniscayaan. Bagaimana tidak? Tak semua orang yang mengaku muslim yang benar-benar sepenuh hati menjalankan keimanannya. Hanya orang-orang yang menghujamkan kesungguhanlah yang berani menerima kenyataan bahwa berislam tak lengkap tanpa keimanan. Sehingga al-Qur’an menyindir orang-orang yang lalai dengan sebuah ayat, “…..Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" (QS. 6: 50). Ayat ini terkait pada masalah tuntutan-tuntutan di masyarakat. Bahkan di ayat yang lain Allah menegaskan pada kita, “Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama.” (QS. 32: 18). Sebuah penjelasan yang menegaskan sebuah perbedaan saudaraku. Ya, perbedaan antara orang yang memilih keimanan atau hanya berislam tanpa nyawa keimanan.

Lihat bagaimana Ibnu Mas’ud membuat pilihan hidup dan menjadi sejarah bagi orang-orang yang berjuang demi kebenaran. Tak ada rasa takut menyuarakan kebenaran. Mendekati ka’bah di waktu dhuha lalu kemudian melantunkan indahnya ayat-ayat al-Qur’an, padahal ketika itu orang-orang Quraisy tengah berkumpul. Merasa terganggu orang-orang Quraisy berdiri lalu beramai-ramai memukuli Ibnu Mas’ud. Apakah kemudian pukulan yang bertubi-tubi itu menghentikan Ibnu Mas’ud dalam melantunan ayat-ayat al-Qur’an???jawabannya, TIDAK, ia tetap meperdengarkan indahnya firman Allah tersebut walau wajahnya lebam tak berbentuk lagi dan tubuh yang menyisakan luka-luka. Itulah sebenarnya pilihan, akan selalu ada konsekuensi yang menaunginya.

Dunia dan akhirat pun adalah pilihan. Lebih memprioritaskan dunia atau lebih mengutamakan akhirat pun sebuah pilihan hidup. Ambilah pelajaran dari sebuah nasihat Abu Darda’, “Di antara kehinaan dunia di mata Allah adalah bahwa Ia dimaksiati di dalamnya. Dan tidak mungkin miliknya (akhirat) bisa diraih kecuali dengan meninggalkan dunia.” Ya, dunia hanya tempat sebagian banyak manusia melakukan maksiat pada Allah, sedangkan akhirat diperoleh dengan kesungguh-sungguhan menghinakan dunia dan menjaga diri dari bermaksiat.

Saudaraku…..., ternyata pilihanlah yang menentukan segalanya. Pilihan itulah yang pada akhirnya membuahkan sikap, menguatkan tujuan, membiaskan keraguan, memantapkan hati serta meniadakan kelemahan.

Akan ada banyak pilihan hidup, renungkanlah dengan sungguh-sungguh yang mana membawa pada kebaikan, maka insya Allah kita akan tetap berada dalam jalan yang di ridhoi-Nya. Salah dalam memilih akan membenamkan serta menterpurukkan kita pada sempitnya kehidupan. Tetap bersyukur, dan melangkah penuh harap agar Allah menuntun kita pada pilihan-pilihan yang benar apapun bentuk pilihan yang akan kita hadapi….Insya Allah…


Wajah cantik itu tampak lemas tak berdaya. Air mata tumpah ruah tak tertahankan. Ada sebuah kerinduan terasa dari raut wajahnya. Kerinduan besar yang terselip untuk ibunda tercinta. Dahsyatnya gempa yang mengguncang kampung halamannya tak lagi ia rasakan. Karena kini ia merasakan sebuah penderitaan yang lebih dahsyat dari itu, kehilangan seorang ibu jauh lebih menyakitkan dibandingkan hempasan getaran gempa, berapapun besarnya.

Sesegukan disela-sela untaian kata yang menggetarkan, memohon pada pemirsa TV untuk segera menghubunginya jika menemukan atau melihat sang ibunda terkasih. Bibir mungil itu bergetar kencang akibat tak mampu menahan larut ketika seorang reporter meminta ia menyampaikan beberapa kata agar didengar oleh pemirsa TV. Setiap kata yang keluar dari lisannya seolah menggambarkan penderitaan yang begitu menyesakkan dada.

Itulah sekelumit gambaran yang terlihat jelas ketika sebuah TV swasta menayangkan berita kehilangan anggota keluarga dari salah seorang korban gempa Sumatra Barat. Ia ibarat “ambassador“ yang mewakili penderitaan korban gempa yang juga kehilangan anggota keluarganya. Entah tersesat, entah dirawat di posko-posko kesehatan, atau mungkin analisa yang paling memilukan adalah tewas tertimpa bangunan yang roboh.

Tak ada yang tau pasti keadaan korban gempa itu selain diri mereka sendiri. Bagi yang selamat ini boleh jadi sebuah teguran yang teramat indah sekaligus awal dari sebuah perbaikan diri. Bagi yang telah meninggal, semoga mereka menjadi para syuhada sebagaimana yang disampaikan Rasulullah lewat lisannya yang mulia, bahwa yang tewas akibat tertimpa bangunan termasuk buah dari kesyahidan.

Bagi orang-orang yang beriman, ujian, cobaan dan penderitaan adalah salah satu cara terbaik dari Allah untuk menguji hamba-hambaNya yang bertakwa. Simak dengan iman bagaimana sebuah ayat seharusnya mampu menyadarkan kita, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al 'Ankabuut: 2). Bahkan ditambahkan oleh Rasulullah “Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik maka ia diberi-Nya cobaan.”? (HR.Bukhari).

Belum cukupkah bagi kita menyadari bahwa ujian ini sebenarnya mampu mengeluarkan kekuatan dahsyat dalam diri kita. Kekuatan yang semakin lama akan semakin menguatkan kita bukan menterpurukkan kita. Karena sejatinya ketika kita mampu keluar dari masalah ini, maka besok jika dihadapkan lagi dengan masalah yang serupa kita akan mampu bertahan bahkan tersenyum karena punya rumus jitu untuk menyelesaikan masalah dengan cepat.

Sabarkan diri dalam menerima setiap ketetapan Allah, bukan berarti kita ingin memasrahkan diri tanpa perbuatan dan tindakan. Tapi lebih kepada menunggu hasil akhir setelah kita berusaha dengan maksimal. Dalam kaitannya dengan musibah ini, sabar menjadi untaian kata mutlak yang harus bersemayam di diri kita. Karena Rasulullah menyampaikan, “Sesungguhnya apabila Allah Ta’ala itu mencintai suatu kaum maka Ia mencobanya. Barang siapa yang rela menerimanya, ia mendapat keridhoan Allah, dan barang siapa yang murka, maka ia pun mendapat murka Allah” (H.R.Tirmidzi).

Jangan biarkan kepiluan semakin menterpurukkan kita, jadikan kesedihan sebagai langkah awal untuk mengubah keadaan agar bisa membiasakan kita menerima ketetapan Allah. Semoga Allah dengan rasa Kasih Sayang-Nya mampu mentarbiyah kita menjadi manusia-manusia unggul. Yang unggul dalam ilmu, unggul dalam amal serta unggul dalam kesabaran insya Allah……

Mengenai Saya

Foto saya
Terlahir dari keluarga Moslem yang taat dan dilahirkan dengan nama lengkap Amrullah Fikri serta memiliki nama hijrah Al-Ghifari yang mengambil nama salah satu sahabat Rasul yang Ruarrrr Biasaaa. Menjadi wali Allah didunia (InsyaAllah),Ahli Ibadah,Ahli Syukur,Ahli Sedekah,Ahli Sabar,berakhlak mulia,Ahli Ilmu,punya kerajaan di syurga yang tertinggi dan menjadi salah satu anggota majelis Rasul di Syurga menjadi tujuan hidupku.(Amin.....), Aku Makhluk yang lemah,Manusia biasa yg Bercita2,yang gemar belajar dari kesalahan+pengalaman,bersahabat dengan siapa saja(kecuali mahluk halus), menyukai tantangan, petualangan, kebebasan, resiko, perjalanan, ketidak pastian, kemandirian, keindahan, ketidaknyamanan, dll. Cinta Alloh+Rasul-Nya,Cinta Orang2 Sholeh,cinta kebenaran,cinta akhirat,cinta anak2,cinta orang tua,cinta saudara,cinta wanita+anak-anak,cinta akhwat(khusus yang menjadi istriku kelak)^_^ !! hidup berdasarkan Al-Quran danSunah2 shoheh (InsyaAllah),keinginan, impian dan cita-cita. Mengharapkan Khusnul Khatimah, mengharapkan Syurga, mengharapkan perjumpaan dgn Alloh+Rasul-Nya.

Blog apa ini?

sebuah blog yang dibuat tujuannya untuk belajar merefleksikan sebuah renungan. Kadang berupa kesedihan, kadang sebuah kesyukuran, kadang juga sekedar curhatan, tak jarang pula merefleksikan sebuah ide agar tidak hilang dan sekedar menjadi sampah di kepala. Yang jelas agar kita (saya pribadi tentunya) senantiasa menjadi Generasi Muslim Pembelajar. Yang senantiasa belajar dari banyak hal - terutama dari agama Islam yang sangat Indah - agar hidup menjadi bermakna.

Pesan Ruhiyah

"Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS. Ali-'Imran : 153)

label

Jam Berapa Ya?

Ngobrol Yuk


ShoutMix chat widget

Numpang Nebeng

Numpang Nebeng

Pengikut