Seperti biasa minimal satu hari tiap pekan, biasanya hari sabtu aku bersama dua sahabat yang lain menyempatkan waktu melihat lokasi yang akan dijadikan base camp outbound Rumah Organizer. Semua kami lakukan bertiga, mulai dari membuat rumah pohon, tempat duduk, merumput, menanam pohon hingga membuat sketsa pembangunan base camp.

Tidak mudah untuk mencapai kesana, butuh perjuangan mental dan fisik yang kuat. Dari segi mental kami harus mengokohkan tekat karena lahan yang ditempuh cukup jauh, lahan yang jauh membuat kami harus ekstra menguatkan hati untuk bisa sampai kesana tanpa keluhan sedikitpun. Dari sisi fisik mengharuskan kami membulatkan semangat untuk dapat mengalahkan lumpur yang hampir sedalam betis orang dewasa, belum lagi tanaman ilalang rawa yang sisi-sinya berduri sering kali menyayat kulit kaki tanpa perasaan.

Namun semua itu terbalaskan ketika berada di lahan base camp. Lahan yang lumayan luas itu membangkitkan impian kami kembali, seolah duka yang baru saja dilewati seketika menjadi suka. Angin deras melunturkan egois untuk mementingkan diri sendiri. Suasana senyap menghilangkan ambisi duniawi yang menghantui manusia-manusia kota besar. Rintikan dan hujan deras yang turun malah membangkitkan semangat untuk menggergaji, memukul paku, mengangkat kayu. Ditambah teriakan-teriakan lucu menambah semarak dinamika kerja kami bertiga.

Sebuah rangka pondok telah berdiri, dan kami berharap mudah-mudahan kokoh. Karena tak satupun dari kami yang mengerti betul teknik pertukangan. Yang kami handalkan adalah intuisi perhitungan matematis yang terkadang kurang nyambung. Dua orang lulusan fisika ditambah satu orang lulusan ekonomi menjadikan alasan kuat bahwa rangka pondok itu berdiri atas intergrasi ilmu yang tidak mumpuni.

Hanya bermodal cerita-cerita lucu, perdebatan yang alot hingga debat kusir yang tak begitu penting menemani gerakan tangan-tangan kami yang mulai berkarya. Satu dengan celotehannya yang tak begitu bermakna, satu lagi dengan cerita-cerita seputar pernikahan yang entah memotivasi untuk segera menikah atau hanya membuat gatal telinga karena jujur saja terkadang cerita-ceritanya tak lebih baik dari hikmah pernikahan yang biasanya diperdengarkan. Tapi itulah seninya bersahabat.

Hingga suatu waktu dalam perjalanan pulang salah satu dari sahabatku itu berkata, “ternyata menjadi sukses itu tidak mudah ya?” tampak dari raut wajahnya sahabatku berkata serius. Kalau biasanya setiap komentar ditanggapi dengan lelucon yang membuat perut melilit sakit akibat terlalu banyak ketawa, tapi kali ini aku tak berani mengacaukan keseriusannya.

Tergelitik dengan pernyataannya, aku pun bertanya, “emang kenapa?”. Mendengar pertanyaanku, diapun menjawab, “ini buktinya, harus susah payah menguras tenaga demi kesuksesan yang kita belum tau kapan akan terjadi?”

Dengan sedikit memberikan gambaran aku pun bersuara, “kalau sukses itu mudah, maka kita tak pernah bisa menikmati indahnya sebuah perjuangan untuk menggapai kesuksesan tersebut.”
________

Sahabat semua, bayangkan setiap kesuksesan yang pernah kita gapai! Perhatikan dan ingatlah baik-baik maka akan kita temukan suatu hal yang menarik. Ternyata kesuksesan yang kita peroleh tidak kita dapatkan dengan cara yang mudah. Ingat ketika dulu ketika mampu menyelesaikan sekolah kita mulai dari Sekolah Dasar hingga SMA, semua kita hadapi bertahun-tahun dengan belajar dan diakhiri dengan ujian akhir yang menentukan berhasil atau tidaknya kita mendapatkan selembar surat tamat. Atau ingatlah ketika kita memperoleh gelar keserjanaan, semua dilalui dengan tidak mudah. Ada proses yang panjang, kuliah berapa tahun, melakukan penelitian, melaporkan dalam bentuk tulisan, mempertahankan sekuat tenaga dalam ruangan yang disiapkan untuk menguji setiap mahasiswa, tak jarang kita bingung, cemas atau bahkan ada yang menangis karena “dibantai” dosen dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjebak.

Bagi yang telah berkeluarga, bayangkan betapa susahnya menguatkan tekat untuk berkata pada orang tua calon istri bahwa “saya siap menikahi anak bapak dan ibu”. Atau jika anda seorang istri , betapa sulitnya mengubah kebiasaan-kebiasaan lama untuk beralih menuju kebiasaan baru karena anda menguatkan tekat “saya harus menjadi istri yang baik bagi suami saya”.

Satu hal yang bisa kita saksikan bahwa ternyata kita sukses karena perjuangan dan proses yang panjang. Termasuk balasan bagi orang-orang yang bertakwa pada Allah. Mereka diganjar dengan kebahagiaan akhirat yang indah karena perjuangan panjang mereka di dunia untuk akhirat mereka. Simak apa yang mereka katakan ketika memperoleh syurga, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan :Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu….”(QS. 2: 25).

Namun jangan bayangkan mudah meraih syurga saudaraku, karena butuh perjuangan yang
tidak mudah. Karena memang syurga diciptakan sebagai ganjaran bagi orang-orang yang meneguhkan pendirian mereka dan menggapai keberkahan dengan istiqamahnya ibadah.

Tak ada kesuksesan yang digapai dengan cara yang mudah saudaraku. Semua memiliki jalannya sendiri, berkelok, menikung bahkan terkadang curam. Memang itulah jalan yang harus ditempuh dan tak ada pilihan kecuali menjalaninya, karena memang tak ada jalan pintas. Yang menjadi pertanyaan, sanggupkah kita? Karena banyak orang yang bermimpi untuk menjadi sukses pun enggan apalagi menjalaninya. Sadarkan diri bahwa Allah menciptakan kita dengan bentuk yang sempurna! Ada pikiran untuk berfikir, ada hati untuk menilai dan ada mata untuk melihat, ada perasaan untuk membandingkan mana yang halal dan mana yang haram.

Dalam konteks keimanan, sukses bagi orang mukmin hanya satu, berhasil menjalani kehidupan dunia dengan takwa dan menikmati kehidupan akhirat dengan bahagia. Kesuksesan dimaknai secara massif dan bukan pada satu sisi kehidupan saja. Sukses itu tidak sempit, karena ia akan membawa keberkahan yang luas. Sukses itu memiliki efek syukur yang tinggi! Karena orang beriman yakin “jika kalian mensyukuri nikmat-Ku, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim : 7).

Saudaraku, memang sukses tidaklah mudah. Butuh persiapan yang matang, ide yang cemerlang dan tentu saja kekuatan pikiran yang seimbang. Namun tidak hanya cukup dengan usaha namun membutuhkan sebuah harapan pada Allah yang menciptakan kesuksesan. Semoga menginspirasi kita untuk terus mensukseskan setiap langkah hidup kita dengan usaha dan keimanan. Wallahu’alam

Pagi hari yang mendung di kota Palembang,
14 Safar 1431 H/29 Januari 2010
Sebuah tulisan yang mudah-mudahan menginspirasi untuk memaknai kesuksesan dengan perjuangan.

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Terlahir dari keluarga Moslem yang taat dan dilahirkan dengan nama lengkap Amrullah Fikri serta memiliki nama hijrah Al-Ghifari yang mengambil nama salah satu sahabat Rasul yang Ruarrrr Biasaaa. Menjadi wali Allah didunia (InsyaAllah),Ahli Ibadah,Ahli Syukur,Ahli Sedekah,Ahli Sabar,berakhlak mulia,Ahli Ilmu,punya kerajaan di syurga yang tertinggi dan menjadi salah satu anggota majelis Rasul di Syurga menjadi tujuan hidupku.(Amin.....), Aku Makhluk yang lemah,Manusia biasa yg Bercita2,yang gemar belajar dari kesalahan+pengalaman,bersahabat dengan siapa saja(kecuali mahluk halus), menyukai tantangan, petualangan, kebebasan, resiko, perjalanan, ketidak pastian, kemandirian, keindahan, ketidaknyamanan, dll. Cinta Alloh+Rasul-Nya,Cinta Orang2 Sholeh,cinta kebenaran,cinta akhirat,cinta anak2,cinta orang tua,cinta saudara,cinta wanita+anak-anak,cinta akhwat(khusus yang menjadi istriku kelak)^_^ !! hidup berdasarkan Al-Quran danSunah2 shoheh (InsyaAllah),keinginan, impian dan cita-cita. Mengharapkan Khusnul Khatimah, mengharapkan Syurga, mengharapkan perjumpaan dgn Alloh+Rasul-Nya.

Blog apa ini?

sebuah blog yang dibuat tujuannya untuk belajar merefleksikan sebuah renungan. Kadang berupa kesedihan, kadang sebuah kesyukuran, kadang juga sekedar curhatan, tak jarang pula merefleksikan sebuah ide agar tidak hilang dan sekedar menjadi sampah di kepala. Yang jelas agar kita (saya pribadi tentunya) senantiasa menjadi Generasi Muslim Pembelajar. Yang senantiasa belajar dari banyak hal - terutama dari agama Islam yang sangat Indah - agar hidup menjadi bermakna.

Pesan Ruhiyah

"Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS. Ali-'Imran : 153)

label

Jam Berapa Ya?

Ngobrol Yuk


ShoutMix chat widget

Numpang Nebeng

Numpang Nebeng

Pengikut