
Lelaki itu terlihat ringkih. Bahkan sekedar untuk melangkah pun membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Setelah penyakit stroke melumpuhkan separuh dari tubuhnya beberapa tahun yang lalu, sempat tak ada kenyakinan diri bahkan cukup lama terlarut dalam kesedihan panjang. Namun subhanallah pada akhirnya dimula dari renungan panjang akhirnya penyakit itu tak mampu menyiutkan nyalinya untuk berjalan mengukur jarak untuk on time ketika azan bergema.
Guratan nasib seolah tak terlalu dihiraukan. Yang terlihat malah sentuhan semangat ditengah lemahnya fisik yang menggrogoti jasad. Memang fisik tak mendukung untuk berbagai aktifitas yang padat namun jangan tanyakan kesungguhannya. Seolah ada azzam yang kuat “tubuh boleh dimakan penyakit, namun penyakit tak kan mampu menggoyahkan semangat untuk beribadah.”
Itulah semangat yang tampak dari sosok laki-laki tua yang sempat bercakap-cakap denganku setelah sholat ashar beberapa waktu yang lalu. Wajah tua yang mengguratkan garis-garis masa lalu yang keras, namun sejuk dipandang. Ia sempat bercerita tentang masa muda, anak dan keluarganya. Tak ada yang special ketika masih gagah, tapi sungguh bermakna setelah ujian melumpuhkan kesombongan-kesombongan masa muda.
Kini ia merasakan manisnya ibadah dan indahnya keimanan. Sholat menjadi waktu yang ditunggu-tunggu walau pada praktiknya ia tampak kesulitan menjalankan rukun-rukunnya akibat penyakit yang menimpanya. Satu hal yang luar biasa, seolah penderitaan dan kesulitan yang ia hadapi tak menghalanginya untuk menikmati setiap rekaat yang ia lakukan demi Rabbnya.
--oOo--
Saudaraku, waktu memang memiliki moment tersendiri bagi setiap manusia. Ia bisa saja dengan mudah membalik keadaan hingga 360 derajat sekalipun. Hari ini buruk, besok telah kembali pada kebaikan. Namun tak jarang, hari ini baik, besok berlumuran dosa menuju kehinaan.
Tak penting kapan dan dimana, tapi yang terpenting adalah bagaimana akhirnya. Karena pada akhirlah yang menentukan nasib kita selanjutnya. Kondisi inilah yang membuat Rasulullah mengajarkan sebuah do’a yang luar biasa maknanya pada kita, “Wahai Engkau yang membolak-balikkan hati. Tetapkanlah hati kami pada agama-Mu dan ketaatan pada-Mu.” Karena Rasulullah mewanti-wanti kita bahwa seseorang dilihat pada akhir cerita hidupnya.
Saudaraku, jangan sampai nasib kita seperti sindiran sebuah ayat al-Qur’an yang ketika manusia mengetahui bahwa hari pembalasan itu adalah benar, lalu kemudian tersadarkan akan dosa-dosa dan kesombongan yang pernah ia lakukan, lalu kemudian dengan mengemis ia berkata, “……..Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul." Lalu apa yang didapat??? Allah menegaskan pada mereka, "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?” (QS. Ibrahim: 44).
Bersungguh-sungguhlah dalam memperbaiki setiap waktu kita dengan usaha dan do’a. karena tak ada yang mampu mengubah nasib kita kecuali diri kita sendiri saudaraku. Berharaplah pada akhirnya kita mendapatkan keberkahan waktu dan kebaikan waktu pada akhir hidup kita.
Berdo’a dengan penuh harap agar hidayah Allah menaungi kita, dan berharaplah agar kita tak tergilas oleh biasnya lipatan waktu yang melenakan, tidak terjerembab dalam waktu yang sia-sia, dan tidak terpuruk dalam waktu yang menjerumuskan kita pada kesalahan dan dosa. Karena sesungguhnya kitalah yang berhak menentukan diri kita sendiri, tetap dalam ketaatan atau kemungkaran.
Ya Rabb….Engkau yang Maha mengetahui hati-hati kami, maka kami mohon berikan jalan yang terbaik bagi kami.
Ya Rabb….tak ada yang lebih kami inginkan kecuali bisa menhadap-Mu dengan senyuman karena mampu mengoptimalkan waktu-waktu kami untuk taat pada-Mu. Maka mudahkan langkah kami.
Ya Rabb….jadikan di masa akhir hidup kami adalah keberkahan, dan jangan engkau murkai kami di masa akhir waktu kami.
Ya Rabb….ampuni dosa-dosa yang entah telah berapa banyak kami lakukan.
Ya Rabb….wafatkan kami dalam keadaan yang baik, dan mendapatkan kenikmatan kubur yang baik pula.
Ya Rabb….Wahai Engkau yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami dalam agama dan ketaatan pada-Mu.

Mungkin kisah ini tak asing bagi telinga kita. Namun sayang, tak banyak orang yang benar-benar merenungkannya. Sebuah kisah yang menceritakan bagaimana pilihan muncul ditengah-tengah perubahan yang terjadi disekitar kita. Mari kita kembali menyimak kisah ini saudaraku…
Suatu ketika seorang anak tampak murung dan kemudian mengeluh pada ayahnya mengenai kehidu-pannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.
Melihat kegelisahan sang anak, sang ayah kemudian membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Sang ayah membiarkan semua bahan itu mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.
Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya. Lalu ia bertanya kepada anaknya, "Apa yang kau lihat, nak?" "Wortel, telur, dan kopi" jawab si anak.
Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia merasakan wortel itu terasa begitu lunak. Ayahnya memintanya mengambil telur dan memecahkannya. ia mendapati telur tersebut telah mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, "Apa arti semua ini, Ayah?"
Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelahdirebus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.
Kini coba tanyakan dalam dirimu, apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu ? atau apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya ujian dan cobaan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku? Atau apakah kamu adalah bubuk kopi? Yang Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.
---ooOoo---
Saudaraku……, sadarkah kita bahwa kehidupan dunia ini tabiatnya meresahkan. Karena masalah demi masalah akan muncul memberikan warna pada hidup kita. Masalah demi masalah dalam hidup akan menyisakan berbagai banyak pilihan. Pilihan untuk bertahan, pilihan untuk menyelesaikan atau bahkan pilihan untuk menyerah.
Tergantung pilihan mana yang kita ambil dalam hidup kita. Ingin seperti wortel yang pada awalnya keras namun akhirnya melembek menyisakan keraguan. Atau seperti telur yang awalnya dinamis akhirnya keras tanpa sisa seolah mengungkapkan keangkuhan dan kesombongan. Pilihan bijak tak lain seperti biji kopi, yang mengharumkan, menyegarkan bahkan memberi efek “melek” bagi siapa saja yang “ngantuk”.
Dalam keimanan pun pilihan menjadi keniscayaan. Bagaimana tidak? Tak semua orang yang mengaku muslim yang benar-benar sepenuh hati menjalankan keimanannya. Hanya orang-orang yang menghujamkan kesungguhanlah yang berani menerima kenyataan bahwa berislam tak lengkap tanpa keimanan. Sehingga al-Qur’an menyindir orang-orang yang lalai dengan sebuah ayat, “…..Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" (QS. 6: 50). Ayat ini terkait pada masalah tuntutan-tuntutan di masyarakat. Bahkan di ayat yang lain Allah menegaskan pada kita, “Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama.” (QS. 32: 18). Sebuah penjelasan yang menegaskan sebuah perbedaan saudaraku. Ya, perbedaan antara orang yang memilih keimanan atau hanya berislam tanpa nyawa keimanan.
Lihat bagaimana Ibnu Mas’ud membuat pilihan hidup dan menjadi sejarah bagi orang-orang yang berjuang demi kebenaran. Tak ada rasa takut menyuarakan kebenaran. Mendekati ka’bah di waktu dhuha lalu kemudian melantunkan indahnya ayat-ayat al-Qur’an, padahal ketika itu orang-orang Quraisy tengah berkumpul. Merasa terganggu orang-orang Quraisy berdiri lalu beramai-ramai memukuli Ibnu Mas’ud. Apakah kemudian pukulan yang bertubi-tubi itu menghentikan Ibnu Mas’ud dalam melantunan ayat-ayat al-Qur’an???jawabannya, TIDAK, ia tetap meperdengarkan indahnya firman Allah tersebut walau wajahnya lebam tak berbentuk lagi dan tubuh yang menyisakan luka-luka. Itulah sebenarnya pilihan, akan selalu ada konsekuensi yang menaunginya.
Dunia dan akhirat pun adalah pilihan. Lebih memprioritaskan dunia atau lebih mengutamakan akhirat pun sebuah pilihan hidup. Ambilah pelajaran dari sebuah nasihat Abu Darda’, “Di antara kehinaan dunia di mata Allah adalah bahwa Ia dimaksiati di dalamnya. Dan tidak mungkin miliknya (akhirat) bisa diraih kecuali dengan meninggalkan dunia.” Ya, dunia hanya tempat sebagian banyak manusia melakukan maksiat pada Allah, sedangkan akhirat diperoleh dengan kesungguh-sungguhan menghinakan dunia dan menjaga diri dari bermaksiat.
Saudaraku…..., ternyata pilihanlah yang menentukan segalanya. Pilihan itulah yang pada akhirnya membuahkan sikap, menguatkan tujuan, membiaskan keraguan, memantapkan hati serta meniadakan kelemahan.
Akan ada banyak pilihan hidup, renungkanlah dengan sungguh-sungguh yang mana membawa pada kebaikan, maka insya Allah kita akan tetap berada dalam jalan yang di ridhoi-Nya. Salah dalam memilih akan membenamkan serta menterpurukkan kita pada sempitnya kehidupan. Tetap bersyukur, dan melangkah penuh harap agar Allah menuntun kita pada pilihan-pilihan yang benar apapun bentuk pilihan yang akan kita hadapi….Insya Allah…

Wajah cantik itu tampak lemas tak berdaya. Air mata tumpah ruah tak tertahankan. Ada sebuah kerinduan terasa dari raut wajahnya. Kerinduan besar yang terselip untuk ibunda tercinta. Dahsyatnya gempa yang mengguncang kampung halamannya tak lagi ia rasakan. Karena kini ia merasakan sebuah penderitaan yang lebih dahsyat dari itu, kehilangan seorang ibu jauh lebih menyakitkan dibandingkan hempasan getaran gempa, berapapun besarnya.
Sesegukan disela-sela untaian kata yang menggetarkan, memohon pada pemirsa TV untuk segera menghubunginya jika menemukan atau melihat sang ibunda terkasih. Bibir mungil itu bergetar kencang akibat tak mampu menahan larut ketika seorang reporter meminta ia menyampaikan beberapa kata agar didengar oleh pemirsa TV. Setiap kata yang keluar dari lisannya seolah menggambarkan penderitaan yang begitu menyesakkan dada.
Itulah sekelumit gambaran yang terlihat jelas ketika sebuah TV swasta menayangkan berita kehilangan anggota keluarga dari salah seorang korban gempa Sumatra Barat. Ia ibarat “ambassador“ yang mewakili penderitaan korban gempa yang juga kehilangan anggota keluarganya. Entah tersesat, entah dirawat di posko-posko kesehatan, atau mungkin analisa yang paling memilukan adalah tewas tertimpa bangunan yang roboh.
Tak ada yang tau pasti keadaan korban gempa itu selain diri mereka sendiri. Bagi yang selamat ini boleh jadi sebuah teguran yang teramat indah sekaligus awal dari sebuah perbaikan diri. Bagi yang telah meninggal, semoga mereka menjadi para syuhada sebagaimana yang disampaikan Rasulullah lewat lisannya yang mulia, bahwa yang tewas akibat tertimpa bangunan termasuk buah dari kesyahidan.
Bagi orang-orang yang beriman, ujian, cobaan dan penderitaan adalah salah satu cara terbaik dari Allah untuk menguji hamba-hambaNya yang bertakwa. Simak dengan iman bagaimana sebuah ayat seharusnya mampu menyadarkan kita, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al 'Ankabuut: 2). Bahkan ditambahkan oleh Rasulullah “Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik maka ia diberi-Nya cobaan.”? (HR.Bukhari).
Belum cukupkah bagi kita menyadari bahwa ujian ini sebenarnya mampu mengeluarkan kekuatan dahsyat dalam diri kita. Kekuatan yang semakin lama akan semakin menguatkan kita bukan menterpurukkan kita. Karena sejatinya ketika kita mampu keluar dari masalah ini, maka besok jika dihadapkan lagi dengan masalah yang serupa kita akan mampu bertahan bahkan tersenyum karena punya rumus jitu untuk menyelesaikan masalah dengan cepat.
Sabarkan diri dalam menerima setiap ketetapan Allah, bukan berarti kita ingin memasrahkan diri tanpa perbuatan dan tindakan. Tapi lebih kepada menunggu hasil akhir setelah kita berusaha dengan maksimal. Dalam kaitannya dengan musibah ini, sabar menjadi untaian kata mutlak yang harus bersemayam di diri kita. Karena Rasulullah menyampaikan, “Sesungguhnya apabila Allah Ta’ala itu mencintai suatu kaum maka Ia mencobanya. Barang siapa yang rela menerimanya, ia mendapat keridhoan Allah, dan barang siapa yang murka, maka ia pun mendapat murka Allah” (H.R.Tirmidzi).
Jangan biarkan kepiluan semakin menterpurukkan kita, jadikan kesedihan sebagai langkah awal untuk mengubah keadaan agar bisa membiasakan kita menerima ketetapan Allah. Semoga Allah dengan rasa Kasih Sayang-Nya mampu mentarbiyah kita menjadi manusia-manusia unggul. Yang unggul dalam ilmu, unggul dalam amal serta unggul dalam kesabaran insya Allah……

Cobalah mendefinisikan cinta, maka pengertiannya akan beragam rupa. Dari yang melankonis, romantis, harmonis, atau bahkan terasa sadis. Jawaban sederhananya karena cinta didefinisikan sesuai hati sang pencinta.
Tabiatnya cinta akan mempengaruhi jiwa, ia akan bersandar pada pikiran dan berbuah pada tindakan. Karena cinta, seorang ibu tega mencuri, sebagian orang berfikir “ini terlihat gila” namun tak perlu aneh karena tindakannya digerakkan oleh rasa cinta. Seorang remaja tewas bunuh diri karena cinta, masyarakat kebanyakan pun akan berteriak senada, “ini sebuah kebodohan”. Tapi itulah anehnya cinta, ia seolah mampu menggerakkan jiwa dan raga tanpa berfikir panjang.
Tinggal dilihat dari sisi manakah cinta itu sebenarnya, dilihat dari hasrat dan syahwat atau cinta yang bermuara pada kecintaan pada syariat. Karena jelas sisi inilah yang akan melatar belakangi munculnya sebuah tindakan.
Lihatlah sejarah! Islam berkembang dan menemui kemuliaannya karena digerakkan oleh cinta. Seorang ayah akan rela meninggalkan keluarganya untuk sebuah kemuliaan di medan perang. Seorang ibu dengan bangga melepas anak-anaknya menjadi mujahid di jalan juang demi menegakkan kalimah syahadat juga atas nama cinta. Seorang istri rela melepas suami yang baru menikahinya ke medan jihad juga atas nama cinta. Atau anak-anak remaja yang memaksa Rasul agar mengizinkan mereka berperang itu pun juga atas nama cinta.
Permasalahannya bukan apa itu cinta, tapi bagaimana cinta didefinisikan. Cinta menjadi ajal yang begitu menyengsarakan jika ia didefinisikan sempit, sekedar untuk memuaskan nafsu syahwat kemudian berpaling dan menghilang. Berbeda jika cinta didefinisikan sebagai pengubah, dari kelam menjadi terang, dari samar menjadi jelas, dari hitam menjadi putih. Itulah cinta sesungguhnya.
Belajarlah dari seorang pecinta sejati, ia adalah Muhammad. Berapa kali jiwanya diancam? Berapa banyak ia di sakiti? Berapa banyak pula ia di zhalimi? Namun perlakuannya tetap sama, mendoakan kebaikan, memafkan dan membalas dengan kebaikan. Inilah persepsi cinta yang muncul dari sanubari yang sangat dalam. Wajar jika Allah memuji beliau dengan ayat, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu……(QS Al-Ahzab:21).
Ketika berhari-hari melakukan perjalanan dakwah ke Thaif bersama Zaid bin Haritsah, tanpa hasil bahkan yang didapat adalah cacian, makian dan lemparan batu yang mengenai kepala, badan dan tumit beliau hingga darah mengucur deras dari kaki beliau yang mulia. Kemudian turunlah malaikat Jibril dan malaikat Jabal atas perintah Allah untuk membantu Rasulullah dan memenuhi apa saja yang beliau inginkan.
Ketika Rasulullah ditanya oleh malaikat Jabal, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu, dan aku adalah malaikat gunung. Aku diutus Tuhan supaya bisa menyuruhku apa saja yang kamu mau. Jika kamu mau aku bisa menimpakan gunung kepada mereka”. Namun saksikan saudaraku, apa yang dikatakan Muhammad? “Sebenarnya aku hanya memohon supaya Allah mengeluarkan keturunan mereka untuk mau menyembah Allah Yang Maha Esa dan agar tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun.”
Itulah makna cinta saudaraku, cinta yang membuat seseorang dengan tulus mendoakan kebaikan. Cinta yang sebenarnya muncul dari hati yang menginginkan orang yang dicintainya menjadi luar biasa. Cinta yang mengalahkan egoisme pribadi, mengalahkan kehendak pribadi, mengalahkan keinginan diri sendiri. Cinta yang luar biasa ketika ia terwujud demi kepentingan bersama, demi kemajuan bersama, dan demi perbaikan bersama.
Do’a tulus seorang saudara kepada saudaranya adalah cinta yang sebenarnya….
Keritikan yang diutarakan dengan cara yang bijak kepada saudaranya adalah cinta sebenarnya….
Maaf yang diberikan sebelum permohonan maaf pada sahabatnya adalah cinta sebenarnya…..
Berbaik sangka dan menghilangkan buruk sangka adalah cinta sebenarnya….
Pujian mesra seorang suami kepada istrinya adalah cinta sebenarnya…..
Seorang istri yang menjaga kehormatan suaminya itu juga cinta sebenarnya….
Tangisan seorang ibu untuk anaknya di tengah malam itu cinta sebenarnya….
Keringat yang mengucur deras dari wajah sang ayah ketika bekerja demi anaknya juga cinta yang sebenarnya….
Terisak-isak meratapi dosa dalam nunajat panjang dan bertaubat kepada Allah itu juga cinta sebenarnya…
Menggenggam sunnah dengan sungguh-sungguh karena cinta Rasul juga cinta yang sebenarnya….
Mari kita bicarakan cinta yang sebenarnya pada siapa pun yang ada di dekat kita saudaraku…
Karena dengan cinta yang sebenarnyalah, kegundahan akan sirna, permusuhan akan hilang, silaturrahim akan terjaga, persatuan akan terwujud, dan kemulian agama ini akan bisa terbina….
Wallahu a’lam.

Siapa ummat Islam yang tidak mengenalnya? Namanya menghiasi sejarah panjang dari setiap perkataan dan perbuatan Rasulullah. Ia menjadi rujukan utama bagi yang haus akan telaga untaian hikmah dari Rasulullah.
Pada awalnya ia bukanlah orang yang luar biasa. Sebelum masuk Islam tak banyak yang mengenalnya, paling-paling orang-orang mengenalnya hanya sebagai orang yang miskin dan pekerja sebagai pesuruh Basrah binti Ghazwan. Imbalan yang didapatnya dari membantu Basrah hanya berupa makanan. Ia hidup sebagai yatim, bahkan termasuk yang memasuki Islam pada masa-masa belakangan, kurang lebih dua puluh tahun dari orang-orang yang lain. Setelah memeluk Islam ia hanya merasakan hidup selama empat tahun saja bersama Rasulullah.
Namun jangan tanyakan kekuatan tekatnya. Muslim yang baru saja merasakan indahnya Islam ini mulai memikirkan bagaimana caranya agar ia berarti bagi sejarah ummat Islam. Dalam hal keberanian, mungkin ummat akan lebih mengenal Umar bin Khatab atau Khalid bin Walid. Dalam kecerdasan mungkin orang lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib atau Zaid Tsabit dan sederet nama lainnya. Dalam segi ketaatan, orang lebih mengenal Abu Bakar. Dan dalam kedarmawanan ummat lebih menjunjung sosok Utsman bin Affan atau bahkan Abdurrahman bin Auf. Ia sadar ia tak akan mampu mengalahkan nama-nama besar mereka. Namun itu tak membuat nyalinya kendur atau bahkan melemah, bahkan semakin bersemangat.
Ia malah memikirkan sesuatu yang mungkin tak akan pernah bisa didapat dan dilakukan oleh orang lain. Atau minimal tak banyak yang ahli dibidang itu. Ketika itu ia memiliki pemikiran bahwa agama ini harus dijaga. Dan pada saat itu mempelajari al-Qur’an adalah yang paling banyak digeluti oleh para sahabat, akhirnya ia lebih memilih menghafal hadits-hadits dari Rasulullah.
Karena tekat yang luar biasa, sejarah kemudian mencatat namanya sebagai penghafal hadits terbanyak. Dialah Abu Hurairah, yang dengan kekuatan hafalannya agama ini terjaga terjaga kemurniannya dari hadits-hadits yang beliau riwayatkan. Bahkan Imam Syafi’i memuji beliau “Ia paling banyak menghafalkan hadits daripada penghafal semasanya.”
--oOo--
Itulah kebulatan tekat saudaraku, semakin besar tekat maka akan semakin besar pula kekuatan yang mendorongnya. Semakin lemah tekat, maka perlahan tapi pasti membuat langkah kita statis dan tak beraturan yang pada akhirnya menenggelamkan kita pada kebuntuan jalan.
Hidup ini sejatinya hanya bisa dilewati dengan tekat dan optimisme. Itulah sumber kekuatan yang luar biasa bagi manusia. Tanpa itu, kita diibaratkan sebagai mesin tua yang tak mampu lagi berjalan. Diam, kelam, tak bernilai dan teronggok tak berdaya dimakan usia.
Simak bagaimana kekuatan tekad Abu Hurairah, ia tidak hanya ingin dikenal atau menyejarah tetapi karena ingin bisa bermanfaat. Inilah kekuatan sesungguhnya. Perhatikan sebuah hadits Rasulullah,” Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” (HR. Bukhari).
Ya…..paling banyak manfaatnya, itulah manusia yang terbaik. Karena sejatinya orang yang bermanfaat tidak akan memikirkan hanya satu kepentingan saja. Tapi dua kepentingan sekaligus, diri dan orang lain. Namun, saksikan berapa banyak orang yang saat ini mau menjadi manfaat bagi orang lain? Kalau tidak kepentingan pribadi, jelas hanya untuk kepentingan golongan saja.
Dalam konteks global, kita adalah ummat yang terbaik yang diperintahkan untuk tidak memikirkan diri sendiri, namun ada amanah dakwah yang luar biasa. Simak bagaimana Allah menjelaskan dalam al-Qur’an, “Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq.” (QS. Ali Imran : 110)
Menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran, itulah tujuan hidup seorang muslim. Mendedikasikan dirinya tanpa henti untuk dakwah dan maslahat hidup orang banyak. Tidak ada perintah untuk memikirkan segelintir golongan apalagi diri sendiri.
Kekuatan sejatinya akan semakin menguatkan, jika tujuannya adalah Allah. simak bagaimana Ibnul Qayyim menjelaskan, “jika kebahagiaan hidup seseorang adalah Allah, maka ia menganggap kekayaan adalah kefakiran tanpa Allah dan kefakiran adalah kekayaan bersama Allah. Kemuliaan adalah kehinaan tanpa Allah dan kehinaan adalah kemuliaan bersama Allah.”
Saudaraku…sejauh mana kita memiliki kekuatan tekad yang mengantarkan kita pada kemuliaan? Kekuatan yang memikirkan orang lain dan bukan egoisme pribadi saja. Kekuatan untuk kebahagiaan bersama bukan untuk diri sendiri.
Milikilah tekad untuk jadi manusia yang terbaik, manusia yang paling banyak manfaatnya. Bergeraklah, melangkalah dan berletih-letihlah dalam dakwah karena kekuatan itu tidak hanya memuluskan jalan kita meraih kebahagiaan tapi juga mengantarkan kita pada kemuliaan yang kekal diakhirat….insya Allah. Wallahu a’lam…

“Ya Allah perbaikilah bagiku agamaku yang merupakan pelindung perkaraku, perbaikilah duniaku yang merupakan tempat kehidupanku, perbaikilah akhiratku yang disana tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini sebagai sarana bagiku untuk menambah kebaikan, dan kematianku sebagai tempat istirahat dari segala keburukan” (HR. Muslim)
Simak sebuah doa yang dilantunkan Rasulullah itu saudaraku, sungguh luar biasa, karena di dalamnya ada pengharapan, ada munajat dan tentu saja ada keinginan untuk menggapai keberkahan hidup.
Sikap yang mentawazzunkan dua kehidupan yang akan kita lewati bersama. Keberkahan hidup di dunia dan kemuliaan di akhirat. Sebuah keinginan yang wajar, namun tentu saja tidak serta merta diraih hanya dengan berpangku tangan saurdaraku. Harus ada ikhtiar, mesti ada usaha dan tentu saja harus terealisasi dengan tindakan, agar semua bisa jadi kenyataan.
Dunia dengan segala keindahannya seringkali menggoda kita untuk tanpa batas menikmati keindahannya, hingga terkadang membuat kita lalai saudaraku. Dunia dengan kemegahannya membuat kita tak sadarkan diri, membuang waktu kita yang berharga hanya untuk memikirkan bagaimana meraih kemegahan yang abadi. Dunia yang sebentar ini dengan sangat gampang melenakan kita untuk meraih kehidupan yang lebih kekal keindahannya.
Kekekalan itu hanya di akhirat saudaraku, itulah kesenangan yang nyata sekaligus penderitaan yang sangat jelas bagi kita. Tolok ukur kesenangan dan penderitaannya hanya dilihat dari bagaimana kita menjalani kehidupan dunia. Akan berbuah kesenangan, jika setiap waktu di dunia digunakan sebagai tempat untuk menambah pundi-pundi amal dengan wujud ketaatan, atau bahkan menjadi sangat menderita di akhirat jika kita menjadikan setiap jengkal nafas dunia hanya kemirisan langkah akibat senantiasa membiarkan diri terjerembab berkali-kali dalam kubangan maksiat.
Lihatlah bagaimana Allah menjelaskan kepada kita dengan sejelas-jelasnya, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (QS. Al-An’aam: 32). Begitulah saudaraku, dunia tak lebih dari sekedar permainan dan senda gurau. Lantas mengapa kita begitu menginginannya? Bukankah sejatinya permainan itu tak kekal? Sewaktu-waktu bisa rusak, atau bahkan merusak kita!
Ada sebuah tujuan yang semestinya lebih kita harapkan. Tujuan itu adalah akhirat saudaraku. Tempat dimana kita nanti berkumpul dengan orang-orang yang shalih, meneguk nikmatnya air telaga bersama Rasulullah. Bercerita tentang perjananan masa lalu bersama orang-orang yang diberkahi Allah. dan tentu saja ada berjuta kesenangan yang telah dipersiapkan Allah untuk kita disana.
Saudaraku…,jangan salahkan diri kita jika terkadang masih saja kita terjerembab dalam maksiat. Karena itu merupakan bagian dari sifat kemanusiawian kita. Yang harus kita lakukan adalah senantiasa bertaubat dan memohon ampunan. Karena rahmat Allah begitu luas saudaraku.
Saudaraku….,Simak baik-baik sebuah hadits Rasulullah ini, Dari Anas r.a. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Demi Zat yang jiwaku dalam genggaman tangan-Nya, andaikata kalian membuat kesalahan hingga memenuhi langit dan bumi, lalu kalian memohon ampunan kepada Allah, niscaya Dia akan mengampuni kalian. Dan, demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman tangan-Nya, andaikata kalian tidak membuat kesalahan, niscaya Allah akan mendatangkan kaum yang berbuat kesalahan, lalu mereka memohon ampunan kepada Allah, dan Dia pun akan mengampuni mereka.”(HR. Ahmad).
Masihkah kita ragu atas ampunan Allah saudaraku? Tanamkan dalam benak kita bahwa setiap saat Allah akan senantiasa mengampuni setiap kesalahan-kesalahan yang kita lakukan jika kita dengan sepenuh hati dan bersungguh-sungguh bertaubat atas dosa kita serta dengan azam yang kuat berusaha untuk tidak kembali mengulangi kesalahan yang telah kita perbuat.
Saudaraku…..,mari bersama kita menghisab diri kita, mari kita bersama menghitung kesalahan dan dosa-dosa kita. Karena dengan mengintropeksi diri, kita telah berada selangkah dalam jalan kebaikan. Jangan pernah berhenti berharap Allah akan memberkahi setiap langkah kita untuk mentawazzunkan dunia dan akhirat kita. Wallahu a’lam.

Laki-laki itu hanya bertopang pada sesuatu atau bahkan hanya bisa dituntun orang lain ketempat yang ia mau. Ia memang tak sebebas dulu, kini aktifitasnya terbatas akibat kebutaannya yang ia rasakan menjelang akhir hayatnya. Namun jangan heran, jika setiap hari orang-orang mendatanginya untuk minta didoakan, karena ia termasuk orang-orang yang berlisan suci.
Setiap lisannya merapalkan doa, keajaiban muncul, seolah keberkahan menaungi setiap perkataannya. Maka tak heran jika banyak orang menjumpainya untuk didoakan. Karena setiap doanya mustajab. Lelaki buta yang rapuh itu bernama Sa’ad bin Abi Waqqas, ia bukan lelaki sembarangan, ia adalah sahabat sekaligus paman Nabi.
Jarang yang datang kepadanya memendam kekecewaan, karena setiap hajat yang diminta untuk didoakan, dengan izin Allah terkabulkan. Namun yang menarik adalah ketika suatu hari ada seorang pemuda bertanya padanya, “wahai sahabat sekaligus paman Rasulullah, tidakkah engkau berdoa agar penglihatanmu dikembalikan?”
Dengan tenang Sa’ad bin Abi Waqqas menjawab, “wahai anak saudaraku, ketentuan Allah lebih kusukai daripada penglihatanku. Pantaskah aku tidak menyukai sesuatu yang disukai Allah untukku?!”
--oOo--
Lihatlah bagaimana seorang hamba yang shaleh meletakkan ketetapan Allah lebih dari kebutuhannya. Ketika sebenarnya ia mempunyai kesempatan untuk mengubah kekurangan yang ada padanya melalui kemustajaban doanya. Namun ia tetap tenang karena merasa itu adalah keketapan Allah, maka dengan suka cita ia terima dengan sabar, tanpa mengeluh sedikitpun.
Terkadang kita begitu mempermasalahkan berbagai ketetapan Allah dalam diri kita. Bahkan ironisnya kita sering membanding-bandingkan pemberian Allah terhadap kita dengan orang lain. Seorang yang mempunyai wajah yang tak seberapa dapat dengan mudah mencela pemberian Allah ketika ia membandingkan dengan orang lain yang berwajah tampan. Seorang yang memiliki kecacatan dapat dengan arogan mempermasalahkan takdir Allah kepadanya ketika ia melihat kebagusan fisik orang lain. Itulah tabiat manusia, tak pernah merasa puas.
Simak bagaimana ketabahan Sa’ad bin Abi Waqqas, dibalik kesucian lisannya, tak pernah sedikitpun ia mempergunakannya untuk mengubah ketetapan Allah atas dirinya. Bahkan ia mensyukurinya dengan penuh suka cita hingga maut menjemputnya.
Ini masalah kesyukuran bukan masalah berpangku tangan tanpa tindakan. Takdir sejatinya digerakkan oleh tindakan, namun ketetapan Allah adalah sesuatu yang terjadi atas kehendak Allah sendiri bagi setiap hamba-Nya. Bedakan antara tindakan dan sikap statis.
Ketetapan Allah atas fisik manusia adalah keniscayaan, namun takdir hidup manusia jelas manusia itu sendiri yang mengubahnya. “Allah tidak mengubah nasib suatu kaum hingga merekalah yang mengubah nasib diri mereka sendiri.” maka tak ayal manusia harus berjuang untuk takdirnya sendiri.
Memang butuh perjuangan yang tak mudah untuk bisa menerima ketetapan Allah. karena terkadang apa yang Allah berikan itu tak selamanya menarik bagi kita. Namun bagi orang-orang yang beriman mereka percaya dan yakin atas apa yang Allah firmankan, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Terkadang apa yang baik menurut kita ternyata banyak membawa kemudharatan, dan terkadang apa yang tidak baik menurut kita sesungguhnya merupakan manfaat yang luar biasa bagi kita. Tinggal saja bagaimana kita mampu menumbuhkan kesadaran bahwa ketetapan Allah adalah kebaikan yang seharusnya disyukuri bukan untuk dicela. Wallahu a’lam…

Ketika itu dua pasukan telah bertemu di dekat gunung Uhud. 15 Syawal 3 Hijriyah tepatnya hari sabtu, kedua pasukan itu bertemu. Tentu saja dengan strategi dan kekuatan yang telah dipersiapkan secara matang. Perang ini adalah tindak lanjut dari kekalahan kaum Quraiys atas perang Badar. Dan perang inilah yang nanti mengguratkan banyak hikmah bagi ummat Islam.
Pasukan Muslim hanya terdiri dari tujuh ratus orang, sedangkan kaum Quraiys tak tanggung-tanggung menerjunkan tiga ribu orang, sebuah ambisi kemenangan yang harus diraih setelah menekuk muka atas kekalahan pada perang Badar. Tentu saja perbandingan jumlah yang tidak seimbang. Apalagi setelah Abdullah bin ‘Ubay bin Salul membelot dengan sikap pengecut menghianati kesetiaan kepada Rasul dengan memotong jalan dan kembali ke Madinah membawa sepertiga dari pasungan sebelumnya. Namun hal ini tidak menggetarkan semangat tentara Islam untuk berhenti berjuang menegakkan agama Allah.
Kaum kafir secara terus menerus disemangati kaum perempuan yang dipimpin Hindun bin ‘Utbah dengan tabuhan rebana. Sementara para pasukan Islam secara simultan dan tak kenal lelah meneriakkan “ketinggian, ketinggian” tentu saja sebuah afirmasi yang mampu menguatkan mental dan menggetarkan sanubari untuk mengalahkan rasa takut demi sebuah kemuliaan.
Namun sebelum pertempuran dimulai, Rasulullah berdiri sambil memegang sebilah pedang. Beliau bertanya, “siapa yang akan mengambil pedang ini dariku?” Para sahabat mengulurkan tangan seraya berkata, “Aku….aku….aku….!” lalu Rasulullah kembali bertanya, “Siapa yang akan menunaikan hak pedang ini dariku?” Suasana hening, para sahabat diam seribu bahasa tanpa suara. Lalu dengan tiba-tiba Abu Dujanah memecah keheningan dan angkat suara, “Aku ya Rasulullah yang akan menunaikan hak pedang itu.”
Seketika itu Abu Dujanah meraih pedang dari Rasulullah, lalu dengan gagah berani melangkah ke depan barisan kaum kafir, selang kemudian ia mengeluarkan kain merah, lalu mengikatkannya dikepala. Sampai-sampai salah seorang sahabat dari kalangan Anshar berkata, “Abu Dujanah mengeluarkan ikat kepala kematian (bagi kaum kafir)”. Tak ayal seketika itu Abu Dujanah melesat secepat kilat menumpahkan darah kaum kafir untuk menunaikan hak pedang Rasulullah.
--oOo--
Itulah keberanian saudaraku, ketika ia muncul maka tak satupun keraguan menghantui jiwa kita. Keberanian akan selalu menghangatkan atau bahkan menerangi langkah kita. Ambillah pelajaran dari Abu Dujanah, yang dengan keberaniannya mengalahkan para sahabat lain untuk berbuat. Bukan karena para sahabat yang lain memiliki rasa takut. Tidak…,tentu saja mereka tidak takut akan perang, tapi yang mereka takutkan adalah menunaikan hak pedang Rasulullah untuk menghancurkan musuh-musuh Allah.
Melihat peluang amal tersebut, Abu Dujanah tanpa ragu ataupun mundur kebelakang meraih jalan amal itu dengan keberanian yang tinggi. Tidak seperti penghianatan Abdullah bin ‘Ubay bin Salul yang memelihara rasa kepengecutan dalam hati hingga berbalik menuju keterhinaan dan riwayat hidup yang kelam.
Kita tidak sedang membicarakan kekalahan sementara yang dialami kaum muslim di perang Uhud, atau kita tidak sedang membicarakan bagaimana akibat yang terjadi apabila melalaikan seruan Rasulullah, kita juga tidak sedang membicarakan bagaimana tim work sangat dibutuhkan demi pencapaian tujuan. Yang sedang kita bicarakan disini adalah keberanian. Karena sejatinya keberanian adalah tolok ukur dari perjuangan. Tak ada perjuangan tanpa didasari keberanian.
Secara personal, keberanian akan mendongkrak motivasi hingga batas akhir. Dan secara keseluruhan tentu saja akan berdampak pada pencapaian visi dan tujuan bersama. Tak ada hasil yang dicapai jika tak ada keberanian.
Keberanian muncul bukan karena by accident tapi lebih karena by design. Yang tidak secara kebetulan gegap gempita mengubah sifat seseorang dalam waktu sangat singkat. Tetapi karena proses panjang hingga membuahkan karakteristik yang ideal. Keberanian pada mulanya dimunculkan karena pemikiran yang matang. Walaupun seringkali keberanian muncul karena keterpaksaan namun efeknya tak bisa panjang, hanya sesekali dan begitu singkat. Namun jika keberanian telah mengkarakter maka jelas ia akan terintegrasi dengan tabiat. Efeknya sangat lama bahkan mungkin sampai akhir hayat.
Tak ada kejengahan hidup bagi orang-orang yang berani mengambil resiko. Seolah resiko adalah keniscayaan bagi mereka, karena dengan keberanian mereka menantang ketidak mampuan menjadi keberkahan. Hanya bagi orang-orang yang berani mengubah ketakutan menjadi kekuatan. Karena dalam setiap fase kehidupan selalu dihadapkan dalam dua pilihan, berani mengambil tindakan atau mengambil langkah seribu untuk mundur kebelakang. Berani mengamalkan Islam atau hanya sebatas identitas saja. Wallahu a’lam

Matahari masih jauh dari waktu pancarnya. Saat ini hanya ada aroma segar, embun pagi yang menyemangati dan tentu saja ada sebuah harapan bagi orang-orang yang beriman. Karena saat ini adalah subuh. Waktu yang dimuliakan Allah dengan Firman-Nya:
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Israa’: 78). Begitu mulianya waktu subuh sehingga punya caranya sendiri untuk membangkitkan harapan bagi orang-orang yang beriman.
Begitupun orang-orang yang bertakwa punya caranya sendiri untuk tidak menyia-nyiakan waktu subuh. Ketika sebagian manusia masih terlelap diempuknya tempat tidur mereka, orang-orang beriman menarik nafas yang panjang untuk bangkit dan berdiri menyembah Tuhan mereka dengan khusu’. Ketika sebagian manusia bergemul dihangatnya selimut-selimut mereka, orang-orang beriman menghangatkan ruhiyah mereka dengan mentafakkuri ayat-ayat Al-Qur’an. Dan ketika sebagian manusia masih terbuai mimpi-mimpi dalam tidur mereka, orang-orang beriman telah mengetarkan langit dengan dzikir Al-Ma’tsurat mereka.
Tak ada waktu untuk berleha-leha, karena orang-orang beriman percaya subuh adalah waktu yang tepat memulai hari dengan ketakwaan. Karena sejatinya subuh adalah nafas pertama kehidupan mereka. Kelalaian hanya akan membawa mereka terjerembab di curamnya perangkap syaitan yang siap mengintai selama satu hari penuh. Dan sebaliknya memulai hari dengan ketaatan memunculkan harapan Allah akan menjaga mereka dari berbagai tipu daya yang menyesatkan.
Simak bagaimana kaum Luth diazab oleh Allah ketika subuh. “Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.” (QS. Al-Hijr: 66). Inilah hukuman bagi orang-orang yang dengan kedengilan mereka mengubah hukum-hukum Allah, menciderai fitrah manusia dalam mencintai, dan yang jelas membuat kerusakan di muka bumi dengan kebiasaan menjijikkan mereka.
Subuh punya dua sisi yang berbeda. Memberikan harapan sekaligus mampu memberikan kehinaan bagi manusia. Bagi yang mampu menghisab diri dengan bijak, jelas sebuah harapan untuk memperbaiki diri menuju keshalihan pribadi. Dan bagi mereka yang sombong dan angkuh, jelas sebuah kehinaan akan mereka dapatkan. Simak bagaimana nasehat Hasan Al Bashri “Seorang Mukmin adalah pemimpin bagi dirinya dan selalu menghisab dirinya. Sesungguhnya Allah akan meringankan hisab di akhirat atas suatu kaum karena hisab yang mereka lakukan di dunia.”
Subuh adalah kekuatan. Kekuatan yang akan terus membangkitkan kesemangatan, percaya diri dan perjuangan. Dan kekuatan terbesar ummat ini muncul jika mereka menghidupkan subuh dengan berjamaah. Rasulullah SAW pernah mengatakan, “jikalau mereka mengetahui rahasia besar di balik sholat subuh, maka niscaya mereka akan mendatangi masjid-masjid di waktu subuh walau dengan merangkak.”
Ada kegetiran dan ada kesedihan yang wajar ketika kita melihat ummat ini menyia-nyiakan subuh. Sejarah telah membuktikan, bangsa ini mampu terus berjuang dan menghancurkan para penjajah ketika mereka bersama-sama mengatur strategi di waktu subuh. Karena subuh secara alamiah akan menyingkirkan orang-orang munafik dan antek-antek penjajah dari barisan mereka. Namun kini, masjid seolah meratap dan bersedih karena ummat Islam di Negeri ini telah meninggalkan kebiasaan para orang-orang shalih sebelum mereka.
“Sungguh, masjid-masjid di seluruh penjuru dunia ini merintih pedih dan mengeluh kepada Allah karena dijauhi oleh mayoritas kaum muslimin ketika shalat subuh dilaksanakan. Kalau bukan karena ketentuan Allah bahwa benda-benda mati itu tidak bisa bicara, tentu manusia dapat mendengar suara rintihan dan gemuruh tangis masjid-masijd itu mengadu kepada Rabbnya Yang Agung.”( Imad Ali Abdus Sami’ Husain). Wallahu a’lam

Kisah ini berawal kira-kira empat tahun yang lalu. Waktu telah lama berjalan, namun kenangannya masih terus bergelanyut terang diingatan. Tak ada yang terlupakan, semua jelas mulai dari intonasi, titik hingga koma.
Bermula dari akan diadakannya syuro’ persiapan sebuah agenda besar pelaksanaan program kerja relawan sebuah lembaga zakat. Sembari menunggu relawan yang lain, aku duduk bersandar pada jok mobil ambulance yang disulap menjadi sofa pemanis ruang tamu. Ditemani Koran lokal, waktu menunggu menjadi tak terlalu menjemukan.
Kebetulan ruang tamu tempat aku menunggu letaknya bersebelahan dengan ruangan amil yang khusus menampung uang-uang hasil kolektor yang dikumpulkan dari celengan-celengan yang disebar seantero wilayah palembang dan sekitarnya.
Karena hanya bersekat terali yang tak begitu rapat, siapa pun bisa dengan mudah melihat aktifitas di dalamnya. Kebetulan waktu itu aku melihat ada seorang amil yang sedang sibuk mengumpulkan dan mengklasifikasi jumlah nominal agar dapat dengan mudah menghitung logam-logam uang yang bertumpuk begitu banyak.
Kebetulan aku sangat mengenal amil ini. Seringkali aku berdiskusi kecil tentang berbagai hal, termasuk tentang strategi perkembangan dakwah para relawan (karena kebetulan sebelum menjadi amil, ia juga seorang relawan sepertiku, yang kemudian mendapatkan amanah sebagai amil).
Tampaknya ia begitu menikmati aktivitasnya, itu terlihat dari tangan yang terampil dan cekatan, dan senyum yang terus mengembang. Padahal bagiku itu adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Bagaimana tidak? Seharian berkutat dengan uang logam yang bertumpuk jumlahnya, disusun, kemudian dihitung nominalnya. Jika salah hitung sudah dapat dipastikan harus mengulang dari awal.
Hampir sepuluh menit aku disitu, aku melihatnya tetap dalam gerakan yang sama, memisahkan nominalnya dan menghitung. Tanpa sedikitpun beranjak dari tempatnya. Bahkan kehadiranku pun tak membuatnya bergeming. Padahal jika melihat seseorang yang datang ia akan dengan sangat sopan tersenyum lalu kemudian mengatur jarak dan dapat dipastikan ia tanpa hanya sekedar basa-basi akan menanyakan kabar. Namun kali ini tidak, aku semakin yakin ia sedang dalam kondisi mengkonsentrasikan pikiran tingkat tinggi, atau dalam bahasa asingnya setara dengan istilah the power of focus.
Tanpa sadar aktifitasnya membuatku berfikir banyak dan muncul berbagai pertanyaan yang tak bisa ku sembunyikan. Dan aku ingin manyakan beberapa pertanyaan padanya. Sambil berdehem cukup keras, dan tampaknya ia sedikit kaget mendengar suaraku itu. Namun dalam waktu yang singkat ia bisa menghilangkan kekagetannya dengan sebuah senyuman khas yang biasa ia berikan kepada siapa saja.
“ Eheeeemmm, Assalamu’alaikum, lagi ngapain mba’? kayaknya dari tadi asik banget kerjanya sampe saudara dateng dicuekin” sapaku dengan sopan
“Astaghfirullah, Wa’alaikumsalam, eh udah lama datangnya ya Dek? Mba’ sampe kaget denger suaranya. Ko ga’ negor? Biasanya kan suka ngagetin orang.” Ia kaget, sambil menoleh kearahku sebentar, lalu tersenyum kemudian kembali meneruskan pekerjaannya.
“Ini udah dikagetin kan? Hehehehe” jawabku dengan cepat.
“Iya mangkanya aneh aja ko negornya bisa telat gitu?” sambil terus melanjutkan pekerjaannya.
“Mba’, boleh Tanya ga’?”
“Ya..tanya aja, biasanya juga langsung ngerocos aja, ini ko minta izin segala dek?”
“engga, siapa tau ntar ganggu kerjaannya Mba’ kan”
“Kalo ganggu mungkin udah dari tadi Mba’ bakalan bilang, afwan ya Dek, Mba’ lagi sibuk nih. Jadi jangan diganggu dulu”
“hehehehehe..gini Mba’, Mba’ kan lulusan universitas negeri, trus punya IPK yang lebih dari cukup untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih dari sekarang. Ko malah bertahan dengan pekerjaan yang seperti ini?
“ooo mo nanya itu? Mba’ pengen nanti ketika Allah bertanya tentang apa yang Mba’ lakukan di dunia, uang-uang yang sekarang Mba’ susun ini bersaksi bahwa Mba’ pernah menorehkan catatan amal perjuangan untuk agama Allah.”
Aku diam seribu bahasa. Tak terpikirkan jika akan mendapatkan jawaban yang seperti itu. Hatiku berguncang keras, jantungku seketika berdegup kencang. Ada getaran-getaran yang membuat seluruh tubuh merinding. Aku tak bisa berkata-kata banyak hanya bisa membalas dengan ucapan lirih di dalam hati.
“Ya Rabb…berikan aku jalan kehidupan yang mengantarkan aku pada amal dan senantiasa berjuang di jalan-Mu.”
--ooOoo--
Kehidupan ternyata punya jalannya sendiri untuk membuat kita mengerti tentang hakikat hidup. Terkadang kehidupan membuat manusia lalai dari ketaatan karena manusia itu sendiri yang mengarahkan kehidupannya untuk menjauh dari ketaatan. Namun banyak juga manusia yang mampu menyetir kehidupannya untuk meraih kemuliaan yang mengantarkan mereka pada kebahagiaan hidup.
Kehidupan hanyalah sebuah cara untuk kita mengerti sesuatu. Kehidupan pula yang akhirnya mengajarkan kita arti semangat, berjuang, pantang menyerah dan istiqamah. Kehidupan hanya pemaknaan sementara atas umur yang sedikit. Kehidupan hanya sebatas realitas sempit untuk menuju kehidupan yang kekal abadi. Jika tergelincir sedikit saja maka berhati-hatilah kehidupan akan melibas kita dengan rasa penyesalan yang tak berujung. Namun jika kita mampu mentawazzunkan kehidupan ia akan berubah menjadi kedamaian dan ketenangan.
Mungkin itu juga mengapa Rasulullah mengajarkan kepada Umar untuk sabar melihat kehidupan. Kesedihan dan isakan tangis yang wajar manakala umar membayangkan dibagian bumi sana ada Kaisar dan Kisra tidur bertelekan dipan-dipan yang empuk, ditemani aksesoris ruangan yang berlapiskan emas dan permata, para istri-istri yang siap melayani kapan pun ia minta dan pengawal yang siap menjaga 24 jam hanya untuk sebuah kata “kesetiaan”. Sementara ia melihat di depan matanya seorang utusan terakhir dari Tuhannya tidur bertelekan pelepah kurma yang menimbulkan bekas yang jelas di punggung Rasululullah, disekeliling tempatnya tidur tak ada yang bisa di banggakan kecuali mangkuk yang biasa dipakai untuk makan dan cangkir yang biasa dipakai Rasulullah untuk minum. Rasulullah ingin mengajarkan pada Umar dan kepada ummatnya bahwa kehidupan ini hanyalah sebuah tempat persinggahan sementara saja.
Coba simak dengan perenungan yang mendalam firman Allah: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’aam: 32).
Ketika saudara-saudara kita di Palestina hidup dengan perjuangan yang terus membuat mereka bergerak tanpa istirahat, mempertahankan tanah kelahiran yang lambat laun mengecil karena direbut paksa oleh kaum yang dilaknat Allah karena keingkarannya dari zaman ke zaman. Para mujahidin Palestina berharap bahwa batu-batu yang mereka lemparkan, air mata yang menetes, darah yang mengucur deras, debu-debu yang berterbangan akibat perjuangan mereka atas kaum penindas Laknatullah akan menjadi saksi yang siap membela mereka ketika bertemu Rabb di yaumul hisab.
Sementara kita hanya berdiam diri dirundung kebingungan memikirkan entah apa yang bisa menjadi pembela kita di akhirat kelak? Ketika saudara-saudara kita di Palestina telah bertindak atas bangsanya untuk menghapuskan kezaliman. Kita berdiam diri menyaksikan para anak bangsa menebar kezaliman atas saudara mereka sendiri di tanah air ini.
Kuantitas yang melimpah sebagai penghuni mayoritas di bangsa ini ternyata tak cukup kuat untuk menjadikan Islam berdiri tegak di negeri ini. Kita terlihat rapuh, ringkih dan bahkan kehilangan napas seperti orang-orang yang berpenyakit asma ketika negeri ini diberondol dengan peluru-peluru penghinaan dari bangsa lain. Dan yang menyakitkan yang menghina itu adalah bangsa yang pernah belajar, pernah dididik, bahkan pernah di belaskasihani oleh bangsa Indonesia beberapa waktu yang lampau.
Tampak kita kehabisan semangat bahkan untuk mengubah nasib bangsa ini dengan tulisan-tulisan yang menggugah. Dengan kata-kata motivasi yang mampu menggerakkan nurani anak bangsa untuk bangkit. Apa mungkin karena konsep diri bangsa ini telah rusak akibat terlalu lama dibuai oleh semunya kenikmatan sementara?
Mari sejenak tundukkan hati, untuk merenungi nasihat Rasulullah pada Abu Dzar “Wahai Abu Dzar, ketahuilah bahwa kekayaan dan kefakiran itu sumbernya dari hati. Barangsiapa yang kaya di dalam hatinya maka ia tidak akan dapat dicelakakan oleh apapun yang ia alami dalam hidupnya di dunia. Dan barangsiapa yang fakir hatinya, maka ia tak dapat dijadikan kaya oleh harta apapun sepenuh dunia. Justru itulah yang akan menghancurkan dirinya.” (HR. Ibnu Hibban).
Jalan kehidupan bagi pejuang dakwah adalah mensinergikan hati dan pikiran demi sebuah amal. Mereka akan senantiasa melangkah mencari amal apa yang mampu mereka persembahkan demi tegaknya agama ini. Mereka akan senatiasa berjuang mencari jalan yang mampu mengantarkan mereka pada kemuliaan, sekaligus menghindarkan mereka pada kehinaan. Mari kita renungkan bersama saudaraku….!!!! Wallahu a’lam.

Cerita ini berawal kira-kira setahun yang lalu. Seperti biasa, hari itu jadwal mengajar mata kuliah Metode Pembelajaran Sains. Waktu perkuliahan dimulai tepat pukul 08.00 WIB. Lima belas menit sebelum perkuliahan dimulai, biasanya aku telah hadir di kampus. Ini adalah komitmen yang harus tetap dijaga agar menjadi media pembelajaran bagi Mahasiswa agar tidak telat dalam aktifitas perkuliahannya. Dan itu harus dimulai dari diri dosennya terlebih dahulu.
Memasuki ruangan dosen, meletakkan tas di atas meja, sembari menunggu waktu tepat pukul 08.00 aku mengambil gelas dan mulai menuangkan teh hangat yang memang telah disiapkan. Ada beberapa makanan ringan yang juga aku ambil, lumayan sekedar mengganjal perut untuk dua jam kedepan.
Seperti biasa ruang dosen sepi, hanya ada satu atau dua dosen yang berada di dalam ruangan. Tampaknya mereka punya jadwal perkuliahan pagi. Sambil tersenyum mereka menyapaku dan dalam waktu yang singkat mereka kembali sibuk dalam aktifitas masing-masing. Membaca Koran, atau sibuk menyiapkan materi perkuliahan.
Waktu menunjukkan pukul 07.55 menit. Ini artinya sebentar lagi aku harus sudah berada di kelas. Namun sebelum menuju ke kelas untuk mengajar, ada satu kebiasaan yang selalu aku lakukan. Masuk ke toilet, merapihkan pakaian, dan melihat tatanan rambut di cermin besar yang disediakan di dalamnya. Ini perlu, karena aku menganggap penampilan akan mempengaruhi minat Mahasiswa dalam belajar. Bayangkan jika penampilan dosennya acak-acakan maka jelas mereka pun akan malas untuk memperhatikan atau bahkan fokus mendengarkan penjelasan yang akan disampaikan.
Sambil melangkah pelan menuju toilet yang letaknya berada di ruangan belakang, aku terhenti sejenak karena aku melihat ada OB yang sedang membersihkan toilet. Merasa tak ingin mengganggu pekerjaannya aku menunggu sejenak hingga ia selesai membersihkan baru aku masuk. Dan aku pikir hanya akan memakan waktu beberapa menit saja.
Sambil tersenyum aku memandang kearahnya, ia acuh tak acuh menatapku. Aku kenal semua OB yang biasanya membersihkan ruangan dosen, ruangan kelas maupun toilet. Tapi kali ini wajahnya terasa sangat asing bagiku dan aku yakin belum pernah melihatnya. Mungkin ini adalah hari pertamanya untuk kerja. Dari pembawaannya, aku bisa menebak umurnya tak lebih dari 25 tahunan.
Aku kembali tersenyum memberikan isyarat bahwa aku ingin masuk ke dalam toilet. Namun tetap saja ia acuh tak acuh dan kali ini menatapku dengan sinis. Karena waktu terus berjalan, dan sesaat lagi jadwal untuk mengajar akan dimulai. Aku tak ingin komitmen untuk mengajar tepat waktu terhambat gara-gara kebiasaanku ini.
Aku menyapanya, “Permisi Mas saya mau ke toilet sebentar?” aku tegur ia dengan sopan, namun tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya.
“Permisi Mas, saya mau ke toilet.” Sambil menunjukkan raut muka yang mengiba, aku ulangi lagi keinginanku.
Namun betapa kagetnya aku ketika keluar sebuah jawaban kasar darinya.
“Eh kamu lihat ga’? ada orang disini lagi ngebersihin toilet. Dari tadi aku diemin ternyata masih ga’ ngerti juga ya? Kamu tau ga’ toilet Mahasiswa tuh di luar. Itu tuh di bawah tangga. Ini toilet khusus dosen. Bisa baca tulisan diatas ga’. KHUSUS DOSEN. Udah sana gangguin orang kerja aja.”
Aku kaget bukan kepalang, namun aku masih bisa tersenyum. Belum lepas rasa kaget itu aku kembali di kejutkan sebuah teriakan kasar.
“Eh ko malah masih berdiri disini?? ga’ ngerti bahasa manusia ya?? toilet Mahasiswa itu di luar.”
Wajahku merah menahan malu akibat dicaci maki, karena kebetulan disaat bersamaan seorang Mahasiswi menemuiku untuk mengingatkan bahwa waktu perkuliahan sudah bisa dimulai.
“Permisi Pak, perkuliahan sudah bisa dimulai, Mahasiswanya sudah hadir semua.”
“Iya sebentar lagi saya masuk ke kelas, tolong disiapkan aja dulu LCDnya. Nanti saya segera menyusul.”
Mungkin karena sang OB kaget ada Mahasiswi yang menegurku tepat di depannya kemudian mengingatkan bahwa perkuliahan telah bisa dimulai. Dia kaget, dan tampak wajahnya lebih merah dariku karena malu. Tampaknya ia tak bisa berkata-kata lagi.
“Permisi Mas, ini toilet khusus Dosen kan? Maaf ya, boleh saya mau masuk sebentar? Karena sebentar lagi saya ada jadwal mengajar.” Tegurku dengan sopan.
Tanpa bisa berkata-kata lagi ia mempersilahkan aku masuk. Sambil melangkah masuk ke dalam toilet aku berkata dalam hati “Apa aku belum pantas ya jadi dosen? Apa umur 23 masih aneh jadi dosen ? Apa masih terlihat kayak mahasiswa? Kalo’ mahasiswa pasca sih emang iya hehehe. Apa wajahku masih terlihat sangat muda?
Ah, ternyata memang ga’ baik memandang seseorang dari luarnya aja.”
--oOo--
Coba kita simak dengan iman sebuah firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12). Sebuah peringatan jelas dari Allah untuk orang-orang yang beriman agar menjauhi prasangka. Karena tabiatnya prasangka akan menjurus pada keburukan, memandang rendah orang lain, dan yang paling parah mengarah pada fitnah.
Berapa banyak diantara kita yang memelihara prasangka di dalam hatinya. Dan berapa banyak juga diantara kita yang akibat memelihara prasangka, mereka terjerumus di jurang kehinaan akibat kesalahan mereka sendiri. Mereka menuduh, mencaci maki dan akhirnya menyebar fitnah.
Ironis memang jika kita lebih suka memandang seseorang dari tampak luarnya saja. Karena terkadang apa yang tampak di luar belum tentu bisa mengapresiasikan yang ada di dalam hati.
Ada pepatah asing yang mengatakan don't judge a book by its cover. Ini menegaskan bahwa apa yang tampak dari tampilan luar tak selamanya mampu seimbang dengan apa yang ada di dalam isi. Terkadang kita lebih suka memunculkan dugaan sinisme bagi orang yang secara penampilan tidak menarik. Padahal dalam sejarah, tinta-tinta emas kehidupan lebih sering diwarnai oleh kisah-kisah heroic orang-orang yang bukan berasal dari kasta kesatria.
Islam pun telah banyak mencatat sejarahnya sendiri. Sejarah orang-orang dengan derajat mulia namun dengan penampilan tak seberapa. Masih ingatkah kita dengan sahabat Nabi yang ketika ayat-ayat Al-Qur’an mengalun indah dari bibirnya, seketika itu juga membuat Nabi terisak-isak hanyut dalam kesedihan.
Dialah Ibnu Mas’ud. Sahabat keenam dari enam orang pertama yang menyatakan dirinya masuk Islam dan yang luar biasanya ia dijanjikan Rasulullah dengan syurga. Ia juga yang mendapat pujian dari Rasulullah dalam haditsnya “Bacalah Al-Qur’an dari empat orang :…..dari Ibn Ummi ‘Abd (yaitu Ibn Mas’ud)” (HR. Muslim).
Dibalik prestasi luar biasa itu ia memiliki fisik yang tak seperti bangsa Arab kebanyakan. Ia tidak kekar, atau bahkan tampan dan mempesona karena ia seorang yang kurus ceking dan pendek, jika berdiri hanya setinggi orang yang duduk.
Suatu ketika Ibnu Mas’ud sedang memanjat sebuah pohon untuk mengambilkan jenis ranting yang biasa dipakai Rasulullah untuk bersiwak. Seketika itu para sahabat tak kuasa menahan tawa saat melihat kaki Ibnu Mas’ud yang begitu kurus dan kecil. Namun apa kata Rasulullah, “kaki itu lebih berat dari Gunung Uhud” (Shahih Ibn Hibban).
Kisah yang sangat menggetarkan, bagaimana ketidak sempurnaan punya caranya sendiri untuk bisa bangkit dan berbalik menjadi sebuah kemuliaan. Sekaligus mematahkan teori orang-orang yang sering menjadikan penampilan luar sebagai acuan dalam menilai sesuatu.
Penampilan seringkali hanyalah sebagai tameng untuk menampilkan ketidak sempurnaan seseorang. Ketidak sempurnaan yang dibalut dengan kemewahan yang sejatinya sering menipu. Penampilan tak ubahnya seperti kulit, yang lama kelamaan akan memunculkan sifat keasliannya berupa kekusaman, keriput atau bahkan membusuk. Oleh karena itu jangan pernah menjadikan penampilan sebagai penilaian valid terhadap sesuatu.
Kesederhanaan adalah cerminan dari kemuliaan. Kebijaksanaan merupakan nafas dari hati yang terjaga dan keangkuhan seringkali muncul dari rasa bangga akan penampilannya. Hanya orang yang sederhana dan bijaksanalah yang mampu menilai seseorang dari apa yang orang lain lakukan dan katakan tanpa memandang siapa yang berbicara. Karena orang sederhana dan bijaksana hanya mengambil hikmah dan manfaat dari sesuatu dan membuang keburukan dan kesia-siaan dari sesuatu. Wallahu a'lam.

Coba kita renungkan sejenak. Telah berapa jauh kaki kita melangkah? Kadang kita melangkah dilurusnya jalan, namun tak jarang kaki kita melangkah disesatnya jalan. Entah bagaimana perbandingannya? Lebih sering melangkah dilurusnya jalan atau di sesatnya jalan. Lebih banyak terdampar di bengkoknya jalan atau istiqamah dilurusnya jalan. Atau bahkan seimbang antara berjalan di sabilillah dan berjalan disabilusyaitan?
Perjalanan hidup akan sangat meletihkan, atau bahkan sangat melelahkan saudaraku. Ketaatan yang bercampur dengan maksiat, tak mampu kita lepaskan. Ketakwaan yang bercampur dengan ujub masih saja melintas dibenak kita. Keimanan yang arogan – merasa diri lebih baik – masih sangat terlihat dari cara kita berbicara, menatap dan bertingkah laku. Yang penting selalu ada semangat untuk mengubah diri menjadi lebih baik.
Inilah cobaan hidup bagi orang-orang yang beriman. “…tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…” (QS. Al-Maa’idah : 48). Maka jangan pernah berhenti hingga langkah kita berakhir dengan ketaatan. Selalu berharaplah untuk segera kembali jika ternyata kaki kita tergelincir dilicinnya jalan maksiat. Berbuatlah kebajikan sebagai salah satu isyarat bahwa kita selalu menginginkan berada dekat dengan-Nya. Agar dengan kemurahan-Nya kita selalu dibimbing untuk segera memperbaiki diri.
Simak dengan iman bagaimana Allah berfirman saudaraku “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. 29:2). Ujian sebuah keniscayaan yang harus kita hadapi saudaraku, ujian adalah sesuatu yang harus kita pikul. Karena dengan itulah Allah melihat kesungguhan kita sebagai hamba-Nya.
Coba kita renungkan sebuah kisah bagaimana Rasulullah bersabar atas ujian yang Allah berikan. Ketika itu bulan syawal, tepatnya tahun kesepuluh setelah kenabian. Bersama Zaid bin Haritsah beliau melakukan perjalanan ke Thaif yang tak lain tujuannya adalah untuk mendakwahkan agama mulia. Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih, bukan penerimaan yang diterima Rasulullah tapi malah pengusiran dan perilaku buruk lainnya. Sepuluh hari berada di Thaif hanya sia-sia tanpa hasil, setiap Rasulullah menemui para pemimpin mereka selalu saja kata-kata kasar yang beliau terima, “Keluar dari Negeri kami!”. Tidak sampai disitu, ketika Rasulullah hendak pergi meninggalkan Thaif, mereka berkumpul untuk melempari Rasul dengan batu-batuan. Bahkan dalam riwayat disebutkan mereka mengeluarkan kata-kata keji dan melempari tumit Rasul hingga sendalnya memerah dibasahi oleh darah. Sampai-sampai Zaid bin Haritsah bersedia menjadi tameng untuk menyelamatkan Rasulullah hingga kepalanya berdarah. Kemudian datanglah Jibril bersama malaikat Jabal yang diutus Allah untuk memnuhi apa saja permintaan dari Rasulullah. Malaikat Jabal pun berkata “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu, dan aku adalah malaikat Jabal. Aku diutus Allah supaya kamu dapat menyuruhku apa saja yang kamu mau. Jika kamu mau aku bisa menimpakan gunung-gunung di atas mereka.” Kemudian simak apa jawaban Rasulullah, “sebenarnya aku hanya memohon supaya Allah mengeluarkan keturunan mereka untuk mau menyembah Allah Yang Maha Esa dan agar tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”
Sebuah kisah yang luar biasa, bagaimana tidak? Kalau saja Rasulullah menganggap ujian itu sebagai sebuah penderitaan, maka sudah dapat dipastikan Rasulullah hanya menginginkan keselamatan dirinya saja. Tawaran dari malaikat Jabal untuk membinasakan warga Thaif ditolak Rasulullah, bahkan Rasulullah hanya meminta kepada Allah untuk mengeluarkan keturunan-keturunan mereka agar menyembah Allah semata. Kemampuan Rasulullah bertahan atas ujian inilah yang kemudian Allah menurunkan ayat: “maka dengan sebab rahmat dari Allah-lah engkau dapat bersikap lemah lembut kepada mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Begitu indahnya ketika kita mampu menjadikan ujian yang Allah berikan menjadi keberkahan karena kita mampu bertahan dan bersabar di atas ujian tersebut. Menyampingkan sifat keluh kesah, memperkokoh kesabaran, menonjolkan keimanan serta memperteguh keyakinan atas ujian-ujian yang Allah berikan kepada kita. Karena sebenarnya ketika kita mampu bertahan atas ujian-ujian tersebut, tanpa sadar kita memperkuat diri kita agar dapat menyelesaikan berbagai cobaan dan tentu saja semakin menguatkan diri kita ketika musibah datang tanpa diduga-duga.

Yang mengagumkan dari perjuangan sebenarnya bukan terletak pada hasil yang dicapai, tetapi bagaimana proses dalam mencapai hasil tersebut. Karena sejatinya tujuan akan dapat diraih bila tujuan tersebut diniatkan dengan niat yang tulus dan diupayakan sekuat tenaga dengan semangat membara, pantang menyerah, dan jauh dari berkelu kesah. Bukan saatnya berhenti di tengah jalan, yang ada hanyalah rehat sejenak untuk mengatur dan menyusun strategi kembali.
Pejuang dakwah akan berhenti dari perjuangannya ketika tidak ada yang bisa ia berikan untuk dakwah itu sendiri. Dalam arti kata, ia berhenti ketika nyawa berpisah dari jasatnya, jantung tak lagi berdetak, nadi tak lagi berdenyut, darah tak lagi mengalir, jika semua itu belum ia rasakan maka kakinya akan terus melangkah, peluh akan terus ia keluarkan, bahkan darah pun siap ia alirkan dijalan Allah.
Para pejuang dakwah akan senantiasa mengingat dengan baik apa yang difirmankan Allah “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujarat: 15).
Semakin mereka jauh melangkah di jalan dakwah maka semakin teguh semangat mereka. Membuang jauh-jauh rasa ragu demi sebuah kemuliaan yang lebih baik dari dunia dan isinya. Dan tak menyesal ketika mereka harus mengeluarkan harta atau bahkan jiwa mereka sendiri. Karena kebahagiaan bagi mereka adalah ketika bisa memberikan apa yang mereka miliki untuk Allah. Dan bagi mereka berjuang dijalan Allah merupakan sesuatu hal yang agung. Bagaimana tidak? Karena Rasulullah pernah bersabda dari Abu Zar r.a., katanya: "Saya berkata: "Ya Rasulullah, amalan apakah yang lebih utama?" Beliau s.a.w. menjawab: "Yaitu beriman kepada Allah dan berjihad fi-sabilillah." (Muttafaq'alaih).
Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w., lalu berkata: "Manusia manakah yang lebih utama?" Beliau s.a.w. menjawab: "Yaitu orang mu'min yang berjihad fi-sabilillah dengan diri dan hartanya…..” (Muttafaq 'alaih).
Sehingga wajar, ketika berbagai peperangan muncul sebagai akibat penentangan terhadap interfensi kaum kafir agar dakwah ini dihentikan. Banyak kaum muslim yang mempersiapkan diri dan hartanya tanpa kenal takut apalagi mundur kebelakang bersiap siaga dibarisan perjuangan di jalan Allah. Bisa dipahami, karena tujuan mereka jelas. Mereka mengharapkan dua berkah dari Allah “Mati syahid atau hidup mulia” sebuah afirmasi yang tak ada tandingannya dalam memompa semangat kaum muslim dalam setiap peperangan. Ditambah setiap teriakan takbir yang secara nyata menambah daya dorong untuk terus berjuang sekaligus menghembuskan rasa takut bagi para penentang dakwah.
Maka karena inilah dakwah mengembangkan sayapnya. Menghujamkan semangat dan perbaikan dalam satu waktu. Mempersiapkan diri untuk dakwah sekaligus mempersiapkan amal sebagai bekal untuk menemui Rabbnya.
Jangan heran jika Allah menghadiahkan Islam generasi sahabat, tabi’in dan tabit tabi’in adalah generasi terbaik sepanjang masa. Karena dalam zaman ini mereka punya ghirah yang luar biasa terhadap kemuliaan Islam dibanding ghirah generasi-generasi selanjutnya. Di zaman itu, kaum muslim meletakkan dasar-dasar Islam di dada mereka sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh karena mereka percaya hanya Islamlah yang mampu memberikan ketenangan nyata. Berbeda dengan zaman setelahnya, hukum berdiri di atas pemikiran manusia yang dangkal. Nilai-nilai sosial berdiri di atas konsep yang sewaktu-waktu dapat berubah sesuai perkembangan zaman. Tidak berdasar dan tidak punya hukum tetap.
Di atas kezaliman dan kejahiliaanlah sejatinya dakwah berkembang. Rasulullah diutus ketika manusia memiliki mental bobrok dan moral yang sakit. Namun, perlahan tapi pasti dakwah akhirnya mengubah kondisi menjadi lebih baik. Disaat ini ketika masalah kebobrokan mental dan degradasi moral kembali terulang. Seharusnya banyak ummat yang kembali meluruskan dan meneruskan perjuangan yang pernah disusun rapi oleh Rasulullah agar kembali berada di lurusnya jalan.
Namun perjuangan akan selalu menemui dinamikanya sendiri. Ada yang menjalankannya dengan tulus namun ada juga yang karena sebuah kepentingan. Ada yang bertahan dengan penderitaan dan resiko yang ada. Ada yang setengah-setengah atau bahkan mengundurkan diri dari jalan dakwah ini. Itulah dinamika yang senantiasa mewarnai perjuangan dakwah sesungguhnya.
Tapi percayalah, Allah telah menyiapkan generasi yang setiap saat akan setia berada di jalur dakwah yang dengan sekuat tenaga akan memperbaiki kondisi ummat menjadi lebih baik. Mereka berjuang dengan tangan mereka, dengan lisan mereka dan dengan tulisan-tulisan mereka. Akankah kita menjadi bagian dari barisan perjuangan itu saudaraku???? Jawabannya sederhana, sekuat apakah kita berharap dan mampu berada di jalan itu dan sekuat apakah doa kita agar Allah menjadikan diri kita sebagai bagian dari perjuangan menegakkan kembali kemuliaan Islam. Tanyakan itu pada hatimu..!!!!

Berawal ketika mengisi materi pada sebuah wadah dakwah yang titik fokus kegiatannya adalah sebagai ujung tombak pelaksanaan kegiatan-kegitan sebuah lembaga zakat. Ketika itu materi yang diminta adalah komunikasi efektif. Sebelumnya memang telah lama diminta untuk menyempatkan waktu agar bisa mengisi dalam pelatihan yang rutin diadakan bagi relawan. Kebetulan saya juga termasuk relawan angkatan ke-2 yang tentu saja memiliki ikatan emosional walaupun akhir-akhir ini sudah jarang atau bahkan bisa dikatakan tidak pernah lagi berhubungan dengan aktifitas kerelawanan seperti beberapa tahun yang lalu. Mungkin kesibukan mempengaruhi, namun faktor utamanya adalah sudah jarang dihubungi lagi dan jarang dimintai pendapat atas kegiatan-kegiatan kerelawanan.
Ada perasaan keterasingan ketika berada di lingkungan tersebut, ada wajah-wajah baru, hanya sedikit wajah-wajah lama yang dikenal itupun tak begitu dekat. Perasaannya malah seperti orang lain. Ruh yang muncul diawal bahwa saya akan bertemu keluarga menguap entah kemana. Ada sebuah perasaan “jarak tebal” antara saya dengan mereka, yang sebenarnya dibesarkan dalam ghirah yang sama.
Sebelum materi dimulai, sembari menunggu peserta pelatihan yang lain, saya memperhatikan dengan seksama aktifitas-aktifitas mereka. Tampaknya akan ada kegiatan lain setelah selesai materi saya, namun entah kegiatan apa itu? Ada keanehan yang muncul dalam penglihatan saya, sebuah kondisi yang berbeda dengan beberapa tahun yang lalu.
Dulu ketika intensitas pergaulan antara ikhwan dan akhwat hanya terbatas dalam kegiatan di lapangan, kini pergaulannya melebar dalam komunikasi-komunikasi tak terbatas dalam ruangan. Seakan hilang entah kemana hijab antara keduanya. Tutur bahasa yang tak teratur, sehingga banyak lelucon mengalir deras dari lisan membuat sesama mereka terpingkal-pingkal. Ada ikhwan yang secara frontal mengejek seorang akhwat lalu kemudian tanpa risih sanga akhwat membalas dengan cara yang tak bijak, lalu seketika gegap gempita disambut tawa semua yang hadir diruangan tersebut.
Berbeda ketika beberapa tahun yang lalu, ketika apapun namanya, intensitas akhwat dan ikhwan tetap terjaga dengan batas-batas yang ideal. Hijab masih dipergunakan sehingga tak heran ketika itu seorang ikhwan dan akhwat masih bisa menjaga pandangan mereka.
Yang terdengar ketika syuro dan pengisian materi rutin hanya suara, selebih itu tidak. Begitupun ketika pelaksanaan kegiatan dilapangan. Intensitas hubungan pun hanya terbatas dalam hal koordinasi selebihnya bergerak sendiri-sendiri sesuai amanah, bilapun mesti berkomunikasi dengan lawan jenis tentu saja dengan jarak dan pandangan mata yang terjaga.
Kondisi ini kini tak lagi dapat dirasakan, beberapa orang yang dulu istiqamah berjuang, satu-persatu pergi dan mendapatkan amanah dakwah di tempat yang lain. Karena memang amanah dakwah tak hanya pada satu tempat. Hingga membuat semangat yang dulu perlahan demi perlahan memudar. Kini semua terasa gersang, tak ada lagi hal-hal yang mampu menyemangati diri untuk menjadi lebih baik, yang ada hanyalah hal-hal yang bisa mengeraskan hati.
Kemana semangat dakwah yang dulu terjaga dan tertanam dalam setiap kadernya? Yang ada hanyalah menghitung sejumlah angka-angka nominal di kepala setelah berjuang – itupun jika masih ingin di katakan sebagai sebuah perjuangan – Kini nilai amal kalah dengan sejumlah uang yang tak seberapa. Tak ada lagi keihlasan, kalaupun ada yang tersisa hanyalah segelintir pasir ditangah padang sahara seluas mata memandang. Sedikit, tipis, atau bahkan tak terlihat.
--oOo--
Inilah yang seringkali ditakutkan oleh orang-orang terdahulu, tak ada yang bisa memastikan semangat yang sama bisa menular dan bertahan sekian lama pada kader-kadernya. Yang ada hanya keterkikisan nilai yang semakin lama semakin memudarkan apa yang telah lama dirumuskan.
Bayangkan jika tidak ada warisan dari Rasulullah yang masih bisa kita terima dan kita lihat dari sunnah-sunnah shahih beliau. Atau jika tidak ada para shalafus shalih yang mencatat dan membuahkan berbagai karya-karya fenomenalnya mungkin saat ini, kita menjalankan ibadah sangat jauh melenceng dari kaidah sesungguhnya. Berislam namun entah berislam cara yang mana? Mengikuti sunnah atau bahkan ingkar sunnah.
Bayangkan jika riwayat para pejuang tanah air kita tak tertulis dalam catatan tinta sejarang bangsa, mungkin saat ini para penerus bangsa mengerenyitkan dahi ketika ditanya siapa Imam Bonjol? Siapa Pangeran Diponogoro? Apa yang dilakukan Cut Nyak Dien di Aceh? Strategi perang seperti apa yang dipakai oleh Hasanuddin di Makasar? Jelasnya tak ada yang bisa menceritakan dengan pasti apa yang mereka perjuangkan.
Akan selalu ada yang tersingkir dari media dakwah. Faktornya bisa karena dua hal. Pertama, tersingkir karena tantangan dakwah yang begitu berat sehingga merasa diri tidak mampu melangkah lebih jauh di jalan dakwah. Lama-kelamaan perasaan ini menyebar mengotori hati, dan pada akhirnya mengangkat tangan dan melambai dengan pasrah sambil berkata “selamat tinggal dakwah”. Kedua, media dakwah yang tak begitu kondusif lagi dengan fikrah seseorang. Ketika ia melihat ketidak nyamanan berupa pengingkaran terhadap batas-batas risalah yang telah ada. Memudarnya ghirah, keterkikisan makna dakwah disetiap kadernya. Dan melunturkan tujuan yang telah ditetapkan di awal. Ketika ucapan dan tangan mereka tak mampu mengembalikan kembali makna sesungguhnya dalam media dakwah tersebut. seketika itu juga mereka mengepalkan tangan mereka sambil berteriak “Allahuakbar….Ya Rabbi tunjukkan padaku jalan dakwah mana yang bisa membuatku lebih mencintai-Mu dan Engkau lebih mencintaiku”.
Saudaraku ingatlah baik-baik, ”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS Fushilat ayat 33). Dakwah memang berat, dakwah tidaklah mudah, dan dakwah senantiasa dikelilingi dengan sesuatu hal yang mampu membuat mata kita menangis atau bahkan bersedih. Namun bagi orang-orang yang tetap ingin berada di jalan dakwah, mereka itulah orang-orang yang paling baik.
Dan jika engkau menemukan keterkikisan dalam media dakwah janganlah bersedih hati. Rasulullah mengingatkan kepada kita, “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya. Yang demikian itu merupakan selemah-lemah iman.”
Ingatlah dakwah akan terus berkembang, karena Allah pasti akan melindungi agamanya dengan tangan orang-orang yang mujahadah. Jika ada satu yang mundur, maka Allah pasti akan menggantikan dengan generasi yang lebih baik dari mereka.
Ya Rabbi…., jadikan kami hamba-Mu yang istiqamah dan mujahadah di jalan dakwah-Mu. Dan jangan Engkau palingkan kami dari jalan-Mu yang indah ini. Dan wafatkan kami dalam keadaan benar-benar mencintai-Mu…..

Ketahuilah, dakwah berjalan ditangan orang-orang yang mujahadah, sungguh-sungguh dalam memperjuangkan keimanan, sungguh-sungguh dalam memperjuangkan kebaikan. Karena dalam pengertian yang luas dakwah adalah perbaikan. Perbaikan menuju kondisi yang lebih baik, perbaikan harkat dan martabat ummat, perbaikan dalam setiap sendi kehidupan.
Karena ada kesulitanlah dakwah idealnya akan muncul. Ketertindasan, kemerajalelaan, kesewenang-wenangan dan kejahiliaan merupakan masalah awal mengapa Rasulullah berdakwah. Tidak sekedar mendakwahkan keyakinan sebagai penyempurna agama-agama yang lalu. Tetapi lebih jelasnya mengaplikasikan keluarbiasaan keyakinan tersebut dalam kehidupan sehari-hari ditengah kesemerawutan sikap dan prilaku manusia ketika itu.
Meskipun baik, tetap saja keyakinan ini dikucilkan dengan berbagai alasan yang diada-adakan dan terkadang dipaksakan oleh kaum kafir ketika itu untuk menyerang Rasulullah dan keyakinan tauhidnya. Namun, karena itulah akhirnya dakwah berkembang dan menunjukkan eksistensinya.
Dari sebuah halaqah kecil bernama Darul Arqam yang sempit itulah dakwah muncul, dari halaqah kecil itu jugalah manusia-manusia pilihan yang ditempa oleh bakat-bakat alam yang diperkaya dengan ilmu-ilmu iman dan ketakwaan bermunculan dan kemudian menyebar untuk meneruskan eksistensi dakwah secara meluas.
Dari halaqah ini jugalah nama-nama besar yang kelak mengisi lembaran-lembaran sejarah, tidak hanya mengisi sejarah umat Islam namun sejarah yang mendunia yang lebih luas.
Dari halaqah kecil inilah kehidupan dakwah dimulai secara terorganisir, rapi dan kemudian tersusun sebagai kekuatan baru yang patut diperhitungkan. Karena ada semangat, ada kepercayaan yang tinggi terhadap sang murobbi, memimpikan pahala yang kelak akan diterima, walau pada akhirnya siksaan, caci maki, darah yang tertumpah adalah bagian yang dianggap sebagai sebuah halangan-halangan kecil yang tak pernah dihiraukan. Bacalah bagaimana penderitaan para sahabat dimasa awal perjuangan dakwah, ada yang tertindas, ada yang terkucilkan, dan tak sedikit yang melalui masa-masa intervensi dari kaum kafir.
Namun mereka tak pernah tersingkir dari dakwah karena sejatinya, goresan luka, lebarnya derita hingga tumpahnya darah merupakan bait-bait perjuangan yang mestinya dinikmati, karena sekali lagi dakwah muncul akibat adanya kesulitan. Bersiaplah, ambillah bekal dan kemudian pelajarilah bagaimana dakwah mengiasi hati dan jiwa orang-orang yang tetap istiqamah di jalan dakwah agar ketika kita sudah menetapkan azam yang kuat untuk mengambil bagian dalam kafilah dakwah kita akan merasakan apa yang dirasakan oleh para pendahulu kita yang berjuang bersama dakwah di pundak mereka. Tujuannya tidak lain adalah agar kita tidak tersingkir dari jalan yang dimuliakan Allah ini. Dan mari rapatkan barisan, perkokoh keimanan dan sebarkan kemuliaan Islam seantero bumi ini karena “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash Shaff: 4). Semoga Allah senantiasa mempermudah setiap bait perjuangan kita Insya Allah…..

Hari itu seperti biasa, jadwal tetap untuk bimbingan tesis. Semua bahan sudah disusun rapi dalam tas, semua lengkap tanpa ada satupun yang tertinggal. Langkah sudah mantap, argumen-argumen pendukung dalam menjawab pertanyaan dosen pembimbing seputar permasalahan yang diangkat sudah tertata dengan baik dipikiran. Tekat pun sudah bulat, hari ini harus ada keputusan untuk melangkah pada bab selanjutnya.
Motor vespa hijau cedar yang selalu menemani kemanapun aku pergi sudah dipanaskan, tampaknya ia pun sudah siap mengantar kemanapun aku melangkah. Dengan langkah pasti, bismillahi tawakaltu…..,gigi satu dioper, dan gas mulai ditarik, seketika vespa jalan tanpa hambatan.
Jarak yang ditempuh cukup jauh, kurang lebih 20 menit perjalanan yang biasa dihabiskan untuk menuju kampus. Itu juga dengan kecepatan tak lebih dari 60 km/jam. Biasanya sembari merayapi jalanan, tak henti lisan terus mengulang-ulang hafalan Qur’an, hitung-hitung menguatkan hafalan. Karena kata Rasul, “hafalan itu ibarat kuda yang kencang larinya, jika tak diikat maka ia akan hilang.” Atau jika tidak mengulang-ulang hafalan, mencoba menguraikan berbagai ide-ide segar yang tertangkap penglihatan sepanjang jalanan dan nanti ketika pulang coba dirangkai dengan tulisan-tulisan sederhana.
Jarak tempuh baru setengah perjalanan, dua lampu merah telah dilalui ini artinya tak ada lagi lampu merah yang akan dilewati dan perjalanan akan mulus sampai tujuan. Setidaknya itu pikiran dalam benakku ketika itu.
Baru melantunkan beberapa ayat dari surat ar-Rahman, aku dikagetkan dengan teriakan yang keras sekali. Aku memprediksikan jarak sumber suara denganku kira-kira sepuluh meter di belakang
“JAMBRET…JAMBRET…TOLONG.…TOLONG….SAYA DIJAMBRET…”
Aku panik tak kepalang, aku coba melihat ke sepion, MasyaAllah aku lupa sepionku terlalu kecil untuk bisa melihat kebelakang. Tanpa pikir panjang aku menoleh kepala kebelakang, untuk memastikan motor mana yang dituduh sebagai penjambret? Sempat bingung karena banyak motor yang bergerak cepat, penglihatanku untuk sementara menjadi statis tanpa respon yang cepat, karena kebingungan motor mana yang menjadi terdakwah sebagai penjambret. Ketika motor korban berada persis di sampingku, sambil terus mengiba dan berteriak kencang “jambret..jambret..tolong tangkap jambretnya pak” sambil menunjuk kearah satu motor, barulah aku sadar motor mana yang telah menjambret sang ibu.
Tanpa pikir panjang, kugeber kencang vespaku hingga meraung-raung. Ternyata banyak yang ikut membantu sang ibu mengejar sang jambret. Bak arena balap, para pengemudi motor yang ikut mengejar seolah saling berlomba ingin menjadi yang terdepan. Tentu saja, sang jambret tanpa kalah menarik kencang gasnya agar terbebas dari kejaran para pengemudi lain.
Tak mau kalah, gas vespaku kutarik sampai menemui batasnya. Kaca helm bututku – yang sebenarnya tak layak lagi disebut helm – mengganggu penglihatanku, kadang tertutup, kadang terbuka mengikuti irama angin. Namun itu tak jadi masalah berarti bagiku, pandanganku tetap fokus ke arah penjambret. Materi motivasi “the power of focus” yang beberapa hari lalu sempat aku berikan pada pelatihan dan motivasi bagi pengurus LDF sebuah universitas negeri tampaknya saat ini bermanfaat bagiku. Itu semakin membuatku percaya diri. Satu persatu motor lain tersusul olehku. Dan ajaib aku menjadi yang terdepan, jarak antara aku dan penjambret hanya berjarak lima meter.
Menyadari ada motor yang mampu mengejar, sang jambret panik. Ada jalur pertigaan di depan dan naas bagi sang penjambret, ia memilih jalur sempit sebelah kiri. Aku tersenyum sinis penuh dengan kemenangan. Dalam hati aku berucap “kena kau jambret, jalur yang kau pilih adalah jalur menuju kampusku, jangan kau pikir bisa membodohi aku karena setiap inci sudut jalan aku tahu kemana arahnya..bahkan sambil memejamkan mata pun aku takkan tersesat hehehehehe”.
Prediksiku benar ia malah terus menerus mencari jalan keluar, memasuki gang demi gang, tampaknya si jambret ceroboh memilih jalur. Aku sedang di atas angin, jarak antara aku dan jambret semakin dekat kira-kira hanya berjarak tiga meter saja.
Mesin motor vespaku yang meraung-raung tak aku perdulikan. Sembari melihat kebelakang masih ada tidak motor lain yang ikut mengejar? Ternyata masih banyak yang ikut mengejar. Dengan semangat 45, kugeber vespaku sejadi-jadinya. Perasaanku saat itu mungkin beda tipis dengan perasaan Khalid Bin Walid yang sangat bersemangat mengejar dan memporak-porandakan tentara Romawi dalam perang Mu’tah.
Mesin menderu-deru, asap mengepul tak karuan dan motorku terus terbatuk-batuk karena usia. Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih, akhirnya hal yang kutakutkan terjadi, mesin motor vespaku mati karena panas. Butuh waktu lama agar ia bisa dihidupkan kembali. Tertunduk lemas menahan malu, baru tau aku rasanya bagaimana perasaan Valentino Rosi jika tak menginjak podium no 1, getir, hampa, dan hati serasa retak seribu. Pupus sudah jalan untuk membantu saudara.
Sambil tersenyum kecut aku menunjuk kearah penjambret ketika seorang bapak-bapak bertanya “nak kemana arah si jambret?”. Belum hilang rasa malu, seorang pemuda menghampiri dengan mimik wajah penuh tanda tanya, “kenapa mas? ko’ malah berhenti? Padahal sedikit lagi tuh dapet jambretnya.” Aku kembali tersenyum kecut untuk kedua kalinya sambil menjawab “motornya ga’ sanggup ngejer lagi mas, mesinnya mati.”
--oOo--
Sangat disayangkan bangsa yang katanya beradab, memegang tradisi ketimuran yang gemar menolong, pantang menyakiti orang lain, ternyata masih dihuni oleh tabiat-tabiat penyamun. Menguap entah kemana, ketika para guru mendefinisikan arti moral dan budi pekerti di dalam kelas-kelas? Memuai entah kemana, ketika guru ngaji setelah mengajarkan huruf-huruf hijaiyah kemudian dilanjutkan dengan menjabarkan dengan panjang, nikmat syurga dan dahsyatnya neraka kepada kita? Entah ketika guru mendefinisikan moral atau budi pekerti, kita tertidur dengan khusyuk Ataukah ketika guru ngaji menjabarkan syurga dan neraka serta pentingnya akhlakul karimah kita membolos bersama teman-teman lebih memilih tanah lapang untuk bercanda ria dan membasahi tubuh dengan keringat memainkan berbagai permainan tradisional.
Sadarkah ketika telah lahir di dunia, nama kita dibuat dan sebuah perayaan kecil berupa aqiqah sebagai wujud tanda kesyukuran orang tua karena telah diberi permata hati, seketika itu semua yang hadir dan menyaksikan helai demi helai rambut kita dicukur, sebuah doa terselipkan agar kita menjadi anak yang sholeh, dan anak yang berguna bagi nusa dan bangsa kita. Setidaknya bagi yang kurang mampu, dalam waktu yang panjang do’a-do’a untuk buah hati itu tetap membahana menggetarkan langit. Namun, betapa kecewanya ketika dewasa pendidikan yang ditanamkan sejak kecil menguap entah kemana.
Mentalitas bobrok sampai saat ini membayangi masa depan anak bangsa. Bagaimana tidak, berbagai kecurangan dan pemalsuan terjadi di negeri ini. Hingga wajar jika Negara ini mendapat predikat termasuk sebagai Negara pemalsu terbesar di dunia. Ironis memang, namun itulah kenyataannya.
Jika mereka masih hidup, melihat berbagai kerusakan yang terjadi pada bangsa ini jelas membuat air mata para pembangun negeri mengucur deras. Bagaimana tidak? Mereka telah bersusah payah menanamkan jati diri bangsa sebagai warisan yang seharusnya dijaga dengan baik. Namun sekali lagi, hanya menyisakan kepiluan bagi orang-orang memegang norma-norma dengan sekuat tenaga mereka dan akhirnya hanya bisa mengurut dada dan terisak-isak dalam kesedihan yang mendalam.
Pencurian, penjarahan, dan berbagai bentuk kejahatan sebenarnya muncul sejak lama. Bahkan dimulai dari anak adam yang pertama, aroma kejahatan mulai menyeruak demi memaksakan kehendak. Bahkan di zaman Rasulullah, pencurian yang apa pun bentuknya tetap mendapatkan prioritas takaran hukuman yang jelas. Bahkan Rasulullah menjadi teladan dengan tanpa pandang bulu akan menghukum siapa pun yang mencuri, termasuk jika anak kesayangannya Fatimah yang mencuri.
Namun optimisme untuk bangkit masih tetap ada. Mental bangsa ini akan kembali bangkit, seiring dengan memperkokoh karakteristik bangsa yang telah tertidur. Kuncinya harus dimulai dari diri kita, dan sebagai seorang muslim jelas tak ada nilai yang terbaik selain menjalankan al-Qur’an dan sunnah dengan sepenuh hati demi munculnya peradaban Islam yang sejak awal mewarnai karakteristik dan jati diri bangsa ini.
SEMANGAT PERUBAHAN…!!!!! ALLAHUAKBAR….!!!!!


