
Matahari masih jauh dari waktu pancarnya. Saat ini hanya ada aroma segar, embun pagi yang menyemangati dan tentu saja ada sebuah harapan bagi orang-orang yang beriman. Karena saat ini adalah subuh. Waktu yang dimuliakan Allah dengan Firman-Nya:
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Israa’: 78). Begitu mulianya waktu subuh sehingga punya caranya sendiri untuk membangkitkan harapan bagi orang-orang yang beriman.
Begitupun orang-orang yang bertakwa punya caranya sendiri untuk tidak menyia-nyiakan waktu subuh. Ketika sebagian manusia masih terlelap diempuknya tempat tidur mereka, orang-orang beriman menarik nafas yang panjang untuk bangkit dan berdiri menyembah Tuhan mereka dengan khusu’. Ketika sebagian manusia bergemul dihangatnya selimut-selimut mereka, orang-orang beriman menghangatkan ruhiyah mereka dengan mentafakkuri ayat-ayat Al-Qur’an. Dan ketika sebagian manusia masih terbuai mimpi-mimpi dalam tidur mereka, orang-orang beriman telah mengetarkan langit dengan dzikir Al-Ma’tsurat mereka.
Tak ada waktu untuk berleha-leha, karena orang-orang beriman percaya subuh adalah waktu yang tepat memulai hari dengan ketakwaan. Karena sejatinya subuh adalah nafas pertama kehidupan mereka. Kelalaian hanya akan membawa mereka terjerembab di curamnya perangkap syaitan yang siap mengintai selama satu hari penuh. Dan sebaliknya memulai hari dengan ketaatan memunculkan harapan Allah akan menjaga mereka dari berbagai tipu daya yang menyesatkan.
Simak bagaimana kaum Luth diazab oleh Allah ketika subuh. “Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.” (QS. Al-Hijr: 66). Inilah hukuman bagi orang-orang yang dengan kedengilan mereka mengubah hukum-hukum Allah, menciderai fitrah manusia dalam mencintai, dan yang jelas membuat kerusakan di muka bumi dengan kebiasaan menjijikkan mereka.
Subuh punya dua sisi yang berbeda. Memberikan harapan sekaligus mampu memberikan kehinaan bagi manusia. Bagi yang mampu menghisab diri dengan bijak, jelas sebuah harapan untuk memperbaiki diri menuju keshalihan pribadi. Dan bagi mereka yang sombong dan angkuh, jelas sebuah kehinaan akan mereka dapatkan. Simak bagaimana nasehat Hasan Al Bashri “Seorang Mukmin adalah pemimpin bagi dirinya dan selalu menghisab dirinya. Sesungguhnya Allah akan meringankan hisab di akhirat atas suatu kaum karena hisab yang mereka lakukan di dunia.”
Subuh adalah kekuatan. Kekuatan yang akan terus membangkitkan kesemangatan, percaya diri dan perjuangan. Dan kekuatan terbesar ummat ini muncul jika mereka menghidupkan subuh dengan berjamaah. Rasulullah SAW pernah mengatakan, “jikalau mereka mengetahui rahasia besar di balik sholat subuh, maka niscaya mereka akan mendatangi masjid-masjid di waktu subuh walau dengan merangkak.”
Ada kegetiran dan ada kesedihan yang wajar ketika kita melihat ummat ini menyia-nyiakan subuh. Sejarah telah membuktikan, bangsa ini mampu terus berjuang dan menghancurkan para penjajah ketika mereka bersama-sama mengatur strategi di waktu subuh. Karena subuh secara alamiah akan menyingkirkan orang-orang munafik dan antek-antek penjajah dari barisan mereka. Namun kini, masjid seolah meratap dan bersedih karena ummat Islam di Negeri ini telah meninggalkan kebiasaan para orang-orang shalih sebelum mereka.
“Sungguh, masjid-masjid di seluruh penjuru dunia ini merintih pedih dan mengeluh kepada Allah karena dijauhi oleh mayoritas kaum muslimin ketika shalat subuh dilaksanakan. Kalau bukan karena ketentuan Allah bahwa benda-benda mati itu tidak bisa bicara, tentu manusia dapat mendengar suara rintihan dan gemuruh tangis masjid-masijd itu mengadu kepada Rabbnya Yang Agung.”( Imad Ali Abdus Sami’ Husain). Wallahu a’lam
Label:
renungan



0 komentar:
Posting Komentar