
Coba kita renungkan sejenak. Telah berapa jauh kaki kita melangkah? Kadang kita melangkah dilurusnya jalan, namun tak jarang kaki kita melangkah disesatnya jalan. Entah bagaimana perbandingannya? Lebih sering melangkah dilurusnya jalan atau di sesatnya jalan. Lebih banyak terdampar di bengkoknya jalan atau istiqamah dilurusnya jalan. Atau bahkan seimbang antara berjalan di sabilillah dan berjalan disabilusyaitan?
Perjalanan hidup akan sangat meletihkan, atau bahkan sangat melelahkan saudaraku. Ketaatan yang bercampur dengan maksiat, tak mampu kita lepaskan. Ketakwaan yang bercampur dengan ujub masih saja melintas dibenak kita. Keimanan yang arogan – merasa diri lebih baik – masih sangat terlihat dari cara kita berbicara, menatap dan bertingkah laku. Yang penting selalu ada semangat untuk mengubah diri menjadi lebih baik.
Inilah cobaan hidup bagi orang-orang yang beriman. “…tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…” (QS. Al-Maa’idah : 48). Maka jangan pernah berhenti hingga langkah kita berakhir dengan ketaatan. Selalu berharaplah untuk segera kembali jika ternyata kaki kita tergelincir dilicinnya jalan maksiat. Berbuatlah kebajikan sebagai salah satu isyarat bahwa kita selalu menginginkan berada dekat dengan-Nya. Agar dengan kemurahan-Nya kita selalu dibimbing untuk segera memperbaiki diri.
Simak dengan iman bagaimana Allah berfirman saudaraku “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. 29:2). Ujian sebuah keniscayaan yang harus kita hadapi saudaraku, ujian adalah sesuatu yang harus kita pikul. Karena dengan itulah Allah melihat kesungguhan kita sebagai hamba-Nya.
Coba kita renungkan sebuah kisah bagaimana Rasulullah bersabar atas ujian yang Allah berikan. Ketika itu bulan syawal, tepatnya tahun kesepuluh setelah kenabian. Bersama Zaid bin Haritsah beliau melakukan perjalanan ke Thaif yang tak lain tujuannya adalah untuk mendakwahkan agama mulia. Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih, bukan penerimaan yang diterima Rasulullah tapi malah pengusiran dan perilaku buruk lainnya. Sepuluh hari berada di Thaif hanya sia-sia tanpa hasil, setiap Rasulullah menemui para pemimpin mereka selalu saja kata-kata kasar yang beliau terima, “Keluar dari Negeri kami!”. Tidak sampai disitu, ketika Rasulullah hendak pergi meninggalkan Thaif, mereka berkumpul untuk melempari Rasul dengan batu-batuan. Bahkan dalam riwayat disebutkan mereka mengeluarkan kata-kata keji dan melempari tumit Rasul hingga sendalnya memerah dibasahi oleh darah. Sampai-sampai Zaid bin Haritsah bersedia menjadi tameng untuk menyelamatkan Rasulullah hingga kepalanya berdarah. Kemudian datanglah Jibril bersama malaikat Jabal yang diutus Allah untuk memnuhi apa saja permintaan dari Rasulullah. Malaikat Jabal pun berkata “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu, dan aku adalah malaikat Jabal. Aku diutus Allah supaya kamu dapat menyuruhku apa saja yang kamu mau. Jika kamu mau aku bisa menimpakan gunung-gunung di atas mereka.” Kemudian simak apa jawaban Rasulullah, “sebenarnya aku hanya memohon supaya Allah mengeluarkan keturunan mereka untuk mau menyembah Allah Yang Maha Esa dan agar tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”
Sebuah kisah yang luar biasa, bagaimana tidak? Kalau saja Rasulullah menganggap ujian itu sebagai sebuah penderitaan, maka sudah dapat dipastikan Rasulullah hanya menginginkan keselamatan dirinya saja. Tawaran dari malaikat Jabal untuk membinasakan warga Thaif ditolak Rasulullah, bahkan Rasulullah hanya meminta kepada Allah untuk mengeluarkan keturunan-keturunan mereka agar menyembah Allah semata. Kemampuan Rasulullah bertahan atas ujian inilah yang kemudian Allah menurunkan ayat: “maka dengan sebab rahmat dari Allah-lah engkau dapat bersikap lemah lembut kepada mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Begitu indahnya ketika kita mampu menjadikan ujian yang Allah berikan menjadi keberkahan karena kita mampu bertahan dan bersabar di atas ujian tersebut. Menyampingkan sifat keluh kesah, memperkokoh kesabaran, menonjolkan keimanan serta memperteguh keyakinan atas ujian-ujian yang Allah berikan kepada kita. Karena sebenarnya ketika kita mampu bertahan atas ujian-ujian tersebut, tanpa sadar kita memperkuat diri kita agar dapat menyelesaikan berbagai cobaan dan tentu saja semakin menguatkan diri kita ketika musibah datang tanpa diduga-duga.
Label:
renungan



0 komentar:
Posting Komentar