Ketika itu dua pasukan telah bertemu di dekat gunung Uhud. 15 Syawal 3 Hijriyah tepatnya hari sabtu, kedua pasukan itu bertemu. Tentu saja dengan strategi dan kekuatan yang telah dipersiapkan secara matang. Perang ini adalah tindak lanjut dari kekalahan kaum Quraiys atas perang Badar. Dan perang inilah yang nanti mengguratkan banyak hikmah bagi ummat Islam.

Pasukan Muslim hanya terdiri dari tujuh ratus orang, sedangkan kaum Quraiys tak tanggung-tanggung menerjunkan tiga ribu orang, sebuah ambisi kemenangan yang harus diraih setelah menekuk muka atas kekalahan pada perang Badar. Tentu saja perbandingan jumlah yang tidak seimbang. Apalagi setelah Abdullah bin ‘Ubay bin Salul membelot dengan sikap pengecut menghianati kesetiaan kepada Rasul dengan memotong jalan dan kembali ke Madinah membawa sepertiga dari pasungan sebelumnya. Namun hal ini tidak menggetarkan semangat tentara Islam untuk berhenti berjuang menegakkan agama Allah.

Kaum kafir secara terus menerus disemangati kaum perempuan yang dipimpin Hindun bin ‘Utbah dengan tabuhan rebana. Sementara para pasukan Islam secara simultan dan tak kenal lelah meneriakkan “ketinggian, ketinggian” tentu saja sebuah afirmasi yang mampu menguatkan mental dan menggetarkan sanubari untuk mengalahkan rasa takut demi sebuah kemuliaan.

Namun sebelum pertempuran dimulai, Rasulullah berdiri sambil memegang sebilah pedang. Beliau bertanya, “siapa yang akan mengambil pedang ini dariku?” Para sahabat mengulurkan tangan seraya berkata, “Aku….aku….aku….!” lalu Rasulullah kembali bertanya, “Siapa yang akan menunaikan hak pedang ini dariku?” Suasana hening, para sahabat diam seribu bahasa tanpa suara. Lalu dengan tiba-tiba Abu Dujanah memecah keheningan dan angkat suara, “Aku ya Rasulullah yang akan menunaikan hak pedang itu.”

Seketika itu Abu Dujanah meraih pedang dari Rasulullah, lalu dengan gagah berani melangkah ke depan barisan kaum kafir, selang kemudian ia mengeluarkan kain merah, lalu mengikatkannya dikepala. Sampai-sampai salah seorang sahabat dari kalangan Anshar berkata, “Abu Dujanah mengeluarkan ikat kepala kematian (bagi kaum kafir)”. Tak ayal seketika itu Abu Dujanah melesat secepat kilat menumpahkan darah kaum kafir untuk menunaikan hak pedang Rasulullah.

--oOo--

Itulah keberanian saudaraku, ketika ia muncul maka tak satupun keraguan menghantui jiwa kita. Keberanian akan selalu menghangatkan atau bahkan menerangi langkah kita. Ambillah pelajaran dari Abu Dujanah, yang dengan keberaniannya mengalahkan para sahabat lain untuk berbuat. Bukan karena para sahabat yang lain memiliki rasa takut. Tidak…,tentu saja mereka tidak takut akan perang, tapi yang mereka takutkan adalah menunaikan hak pedang Rasulullah untuk menghancurkan musuh-musuh Allah.

Melihat peluang amal tersebut, Abu Dujanah tanpa ragu ataupun mundur kebelakang meraih jalan amal itu dengan keberanian yang tinggi. Tidak seperti penghianatan Abdullah bin ‘Ubay bin Salul yang memelihara rasa kepengecutan dalam hati hingga berbalik menuju keterhinaan dan riwayat hidup yang kelam.

Kita tidak sedang membicarakan kekalahan sementara yang dialami kaum muslim di perang Uhud, atau kita tidak sedang membicarakan bagaimana akibat yang terjadi apabila melalaikan seruan Rasulullah, kita juga tidak sedang membicarakan bagaimana tim work sangat dibutuhkan demi pencapaian tujuan. Yang sedang kita bicarakan disini adalah keberanian. Karena sejatinya keberanian adalah tolok ukur dari perjuangan. Tak ada perjuangan tanpa didasari keberanian.

Secara personal, keberanian akan mendongkrak motivasi hingga batas akhir. Dan secara keseluruhan tentu saja akan berdampak pada pencapaian visi dan tujuan bersama. Tak ada hasil yang dicapai jika tak ada keberanian.

Keberanian muncul bukan karena by accident tapi lebih karena by design. Yang tidak secara kebetulan gegap gempita mengubah sifat seseorang dalam waktu sangat singkat. Tetapi karena proses panjang hingga membuahkan karakteristik yang ideal. Keberanian pada mulanya dimunculkan karena pemikiran yang matang. Walaupun seringkali keberanian muncul karena keterpaksaan namun efeknya tak bisa panjang, hanya sesekali dan begitu singkat. Namun jika keberanian telah mengkarakter maka jelas ia akan terintegrasi dengan tabiat. Efeknya sangat lama bahkan mungkin sampai akhir hayat.

Tak ada kejengahan hidup bagi orang-orang yang berani mengambil resiko. Seolah resiko adalah keniscayaan bagi mereka, karena dengan keberanian mereka menantang ketidak mampuan menjadi keberkahan. Hanya bagi orang-orang yang berani mengubah ketakutan menjadi kekuatan. Karena dalam setiap fase kehidupan selalu dihadapkan dalam dua pilihan, berani mengambil tindakan atau mengambil langkah seribu untuk mundur kebelakang. Berani mengamalkan Islam atau hanya sebatas identitas saja. Wallahu a’lam

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Terlahir dari keluarga Moslem yang taat dan dilahirkan dengan nama lengkap Amrullah Fikri serta memiliki nama hijrah Al-Ghifari yang mengambil nama salah satu sahabat Rasul yang Ruarrrr Biasaaa. Menjadi wali Allah didunia (InsyaAllah),Ahli Ibadah,Ahli Syukur,Ahli Sedekah,Ahli Sabar,berakhlak mulia,Ahli Ilmu,punya kerajaan di syurga yang tertinggi dan menjadi salah satu anggota majelis Rasul di Syurga menjadi tujuan hidupku.(Amin.....), Aku Makhluk yang lemah,Manusia biasa yg Bercita2,yang gemar belajar dari kesalahan+pengalaman,bersahabat dengan siapa saja(kecuali mahluk halus), menyukai tantangan, petualangan, kebebasan, resiko, perjalanan, ketidak pastian, kemandirian, keindahan, ketidaknyamanan, dll. Cinta Alloh+Rasul-Nya,Cinta Orang2 Sholeh,cinta kebenaran,cinta akhirat,cinta anak2,cinta orang tua,cinta saudara,cinta wanita+anak-anak,cinta akhwat(khusus yang menjadi istriku kelak)^_^ !! hidup berdasarkan Al-Quran danSunah2 shoheh (InsyaAllah),keinginan, impian dan cita-cita. Mengharapkan Khusnul Khatimah, mengharapkan Syurga, mengharapkan perjumpaan dgn Alloh+Rasul-Nya.

Blog apa ini?

sebuah blog yang dibuat tujuannya untuk belajar merefleksikan sebuah renungan. Kadang berupa kesedihan, kadang sebuah kesyukuran, kadang juga sekedar curhatan, tak jarang pula merefleksikan sebuah ide agar tidak hilang dan sekedar menjadi sampah di kepala. Yang jelas agar kita (saya pribadi tentunya) senantiasa menjadi Generasi Muslim Pembelajar. Yang senantiasa belajar dari banyak hal - terutama dari agama Islam yang sangat Indah - agar hidup menjadi bermakna.

Pesan Ruhiyah

"Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS. Ali-'Imran : 153)

label

Jam Berapa Ya?

Ngobrol Yuk


ShoutMix chat widget

Numpang Nebeng

Numpang Nebeng

Pengikut