
“Ya Allah perbaikilah bagiku agamaku yang merupakan pelindung perkaraku, perbaikilah duniaku yang merupakan tempat kehidupanku, perbaikilah akhiratku yang disana tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini sebagai sarana bagiku untuk menambah kebaikan, dan kematianku sebagai tempat istirahat dari segala keburukan” (HR. Muslim)
Simak sebuah doa yang dilantunkan Rasulullah itu saudaraku, sungguh luar biasa, karena di dalamnya ada pengharapan, ada munajat dan tentu saja ada keinginan untuk menggapai keberkahan hidup.
Sikap yang mentawazzunkan dua kehidupan yang akan kita lewati bersama. Keberkahan hidup di dunia dan kemuliaan di akhirat. Sebuah keinginan yang wajar, namun tentu saja tidak serta merta diraih hanya dengan berpangku tangan saurdaraku. Harus ada ikhtiar, mesti ada usaha dan tentu saja harus terealisasi dengan tindakan, agar semua bisa jadi kenyataan.
Dunia dengan segala keindahannya seringkali menggoda kita untuk tanpa batas menikmati keindahannya, hingga terkadang membuat kita lalai saudaraku. Dunia dengan kemegahannya membuat kita tak sadarkan diri, membuang waktu kita yang berharga hanya untuk memikirkan bagaimana meraih kemegahan yang abadi. Dunia yang sebentar ini dengan sangat gampang melenakan kita untuk meraih kehidupan yang lebih kekal keindahannya.
Kekekalan itu hanya di akhirat saudaraku, itulah kesenangan yang nyata sekaligus penderitaan yang sangat jelas bagi kita. Tolok ukur kesenangan dan penderitaannya hanya dilihat dari bagaimana kita menjalani kehidupan dunia. Akan berbuah kesenangan, jika setiap waktu di dunia digunakan sebagai tempat untuk menambah pundi-pundi amal dengan wujud ketaatan, atau bahkan menjadi sangat menderita di akhirat jika kita menjadikan setiap jengkal nafas dunia hanya kemirisan langkah akibat senantiasa membiarkan diri terjerembab berkali-kali dalam kubangan maksiat.
Lihatlah bagaimana Allah menjelaskan kepada kita dengan sejelas-jelasnya, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (QS. Al-An’aam: 32). Begitulah saudaraku, dunia tak lebih dari sekedar permainan dan senda gurau. Lantas mengapa kita begitu menginginannya? Bukankah sejatinya permainan itu tak kekal? Sewaktu-waktu bisa rusak, atau bahkan merusak kita!
Ada sebuah tujuan yang semestinya lebih kita harapkan. Tujuan itu adalah akhirat saudaraku. Tempat dimana kita nanti berkumpul dengan orang-orang yang shalih, meneguk nikmatnya air telaga bersama Rasulullah. Bercerita tentang perjananan masa lalu bersama orang-orang yang diberkahi Allah. dan tentu saja ada berjuta kesenangan yang telah dipersiapkan Allah untuk kita disana.
Saudaraku…,jangan salahkan diri kita jika terkadang masih saja kita terjerembab dalam maksiat. Karena itu merupakan bagian dari sifat kemanusiawian kita. Yang harus kita lakukan adalah senantiasa bertaubat dan memohon ampunan. Karena rahmat Allah begitu luas saudaraku.
Saudaraku….,Simak baik-baik sebuah hadits Rasulullah ini, Dari Anas r.a. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Demi Zat yang jiwaku dalam genggaman tangan-Nya, andaikata kalian membuat kesalahan hingga memenuhi langit dan bumi, lalu kalian memohon ampunan kepada Allah, niscaya Dia akan mengampuni kalian. Dan, demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman tangan-Nya, andaikata kalian tidak membuat kesalahan, niscaya Allah akan mendatangkan kaum yang berbuat kesalahan, lalu mereka memohon ampunan kepada Allah, dan Dia pun akan mengampuni mereka.”(HR. Ahmad).
Masihkah kita ragu atas ampunan Allah saudaraku? Tanamkan dalam benak kita bahwa setiap saat Allah akan senantiasa mengampuni setiap kesalahan-kesalahan yang kita lakukan jika kita dengan sepenuh hati dan bersungguh-sungguh bertaubat atas dosa kita serta dengan azam yang kuat berusaha untuk tidak kembali mengulangi kesalahan yang telah kita perbuat.
Saudaraku…..,mari bersama kita menghisab diri kita, mari kita bersama menghitung kesalahan dan dosa-dosa kita. Karena dengan mengintropeksi diri, kita telah berada selangkah dalam jalan kebaikan. Jangan pernah berhenti berharap Allah akan memberkahi setiap langkah kita untuk mentawazzunkan dunia dan akhirat kita. Wallahu a’lam.

Laki-laki itu hanya bertopang pada sesuatu atau bahkan hanya bisa dituntun orang lain ketempat yang ia mau. Ia memang tak sebebas dulu, kini aktifitasnya terbatas akibat kebutaannya yang ia rasakan menjelang akhir hayatnya. Namun jangan heran, jika setiap hari orang-orang mendatanginya untuk minta didoakan, karena ia termasuk orang-orang yang berlisan suci.
Setiap lisannya merapalkan doa, keajaiban muncul, seolah keberkahan menaungi setiap perkataannya. Maka tak heran jika banyak orang menjumpainya untuk didoakan. Karena setiap doanya mustajab. Lelaki buta yang rapuh itu bernama Sa’ad bin Abi Waqqas, ia bukan lelaki sembarangan, ia adalah sahabat sekaligus paman Nabi.
Jarang yang datang kepadanya memendam kekecewaan, karena setiap hajat yang diminta untuk didoakan, dengan izin Allah terkabulkan. Namun yang menarik adalah ketika suatu hari ada seorang pemuda bertanya padanya, “wahai sahabat sekaligus paman Rasulullah, tidakkah engkau berdoa agar penglihatanmu dikembalikan?”
Dengan tenang Sa’ad bin Abi Waqqas menjawab, “wahai anak saudaraku, ketentuan Allah lebih kusukai daripada penglihatanku. Pantaskah aku tidak menyukai sesuatu yang disukai Allah untukku?!”
--oOo--
Lihatlah bagaimana seorang hamba yang shaleh meletakkan ketetapan Allah lebih dari kebutuhannya. Ketika sebenarnya ia mempunyai kesempatan untuk mengubah kekurangan yang ada padanya melalui kemustajaban doanya. Namun ia tetap tenang karena merasa itu adalah keketapan Allah, maka dengan suka cita ia terima dengan sabar, tanpa mengeluh sedikitpun.
Terkadang kita begitu mempermasalahkan berbagai ketetapan Allah dalam diri kita. Bahkan ironisnya kita sering membanding-bandingkan pemberian Allah terhadap kita dengan orang lain. Seorang yang mempunyai wajah yang tak seberapa dapat dengan mudah mencela pemberian Allah ketika ia membandingkan dengan orang lain yang berwajah tampan. Seorang yang memiliki kecacatan dapat dengan arogan mempermasalahkan takdir Allah kepadanya ketika ia melihat kebagusan fisik orang lain. Itulah tabiat manusia, tak pernah merasa puas.
Simak bagaimana ketabahan Sa’ad bin Abi Waqqas, dibalik kesucian lisannya, tak pernah sedikitpun ia mempergunakannya untuk mengubah ketetapan Allah atas dirinya. Bahkan ia mensyukurinya dengan penuh suka cita hingga maut menjemputnya.
Ini masalah kesyukuran bukan masalah berpangku tangan tanpa tindakan. Takdir sejatinya digerakkan oleh tindakan, namun ketetapan Allah adalah sesuatu yang terjadi atas kehendak Allah sendiri bagi setiap hamba-Nya. Bedakan antara tindakan dan sikap statis.
Ketetapan Allah atas fisik manusia adalah keniscayaan, namun takdir hidup manusia jelas manusia itu sendiri yang mengubahnya. “Allah tidak mengubah nasib suatu kaum hingga merekalah yang mengubah nasib diri mereka sendiri.” maka tak ayal manusia harus berjuang untuk takdirnya sendiri.
Memang butuh perjuangan yang tak mudah untuk bisa menerima ketetapan Allah. karena terkadang apa yang Allah berikan itu tak selamanya menarik bagi kita. Namun bagi orang-orang yang beriman mereka percaya dan yakin atas apa yang Allah firmankan, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Terkadang apa yang baik menurut kita ternyata banyak membawa kemudharatan, dan terkadang apa yang tidak baik menurut kita sesungguhnya merupakan manfaat yang luar biasa bagi kita. Tinggal saja bagaimana kita mampu menumbuhkan kesadaran bahwa ketetapan Allah adalah kebaikan yang seharusnya disyukuri bukan untuk dicela. Wallahu a’lam…

Ketika itu dua pasukan telah bertemu di dekat gunung Uhud. 15 Syawal 3 Hijriyah tepatnya hari sabtu, kedua pasukan itu bertemu. Tentu saja dengan strategi dan kekuatan yang telah dipersiapkan secara matang. Perang ini adalah tindak lanjut dari kekalahan kaum Quraiys atas perang Badar. Dan perang inilah yang nanti mengguratkan banyak hikmah bagi ummat Islam.
Pasukan Muslim hanya terdiri dari tujuh ratus orang, sedangkan kaum Quraiys tak tanggung-tanggung menerjunkan tiga ribu orang, sebuah ambisi kemenangan yang harus diraih setelah menekuk muka atas kekalahan pada perang Badar. Tentu saja perbandingan jumlah yang tidak seimbang. Apalagi setelah Abdullah bin ‘Ubay bin Salul membelot dengan sikap pengecut menghianati kesetiaan kepada Rasul dengan memotong jalan dan kembali ke Madinah membawa sepertiga dari pasungan sebelumnya. Namun hal ini tidak menggetarkan semangat tentara Islam untuk berhenti berjuang menegakkan agama Allah.
Kaum kafir secara terus menerus disemangati kaum perempuan yang dipimpin Hindun bin ‘Utbah dengan tabuhan rebana. Sementara para pasukan Islam secara simultan dan tak kenal lelah meneriakkan “ketinggian, ketinggian” tentu saja sebuah afirmasi yang mampu menguatkan mental dan menggetarkan sanubari untuk mengalahkan rasa takut demi sebuah kemuliaan.
Namun sebelum pertempuran dimulai, Rasulullah berdiri sambil memegang sebilah pedang. Beliau bertanya, “siapa yang akan mengambil pedang ini dariku?” Para sahabat mengulurkan tangan seraya berkata, “Aku….aku….aku….!” lalu Rasulullah kembali bertanya, “Siapa yang akan menunaikan hak pedang ini dariku?” Suasana hening, para sahabat diam seribu bahasa tanpa suara. Lalu dengan tiba-tiba Abu Dujanah memecah keheningan dan angkat suara, “Aku ya Rasulullah yang akan menunaikan hak pedang itu.”
Seketika itu Abu Dujanah meraih pedang dari Rasulullah, lalu dengan gagah berani melangkah ke depan barisan kaum kafir, selang kemudian ia mengeluarkan kain merah, lalu mengikatkannya dikepala. Sampai-sampai salah seorang sahabat dari kalangan Anshar berkata, “Abu Dujanah mengeluarkan ikat kepala kematian (bagi kaum kafir)”. Tak ayal seketika itu Abu Dujanah melesat secepat kilat menumpahkan darah kaum kafir untuk menunaikan hak pedang Rasulullah.
--oOo--
Itulah keberanian saudaraku, ketika ia muncul maka tak satupun keraguan menghantui jiwa kita. Keberanian akan selalu menghangatkan atau bahkan menerangi langkah kita. Ambillah pelajaran dari Abu Dujanah, yang dengan keberaniannya mengalahkan para sahabat lain untuk berbuat. Bukan karena para sahabat yang lain memiliki rasa takut. Tidak…,tentu saja mereka tidak takut akan perang, tapi yang mereka takutkan adalah menunaikan hak pedang Rasulullah untuk menghancurkan musuh-musuh Allah.
Melihat peluang amal tersebut, Abu Dujanah tanpa ragu ataupun mundur kebelakang meraih jalan amal itu dengan keberanian yang tinggi. Tidak seperti penghianatan Abdullah bin ‘Ubay bin Salul yang memelihara rasa kepengecutan dalam hati hingga berbalik menuju keterhinaan dan riwayat hidup yang kelam.
Kita tidak sedang membicarakan kekalahan sementara yang dialami kaum muslim di perang Uhud, atau kita tidak sedang membicarakan bagaimana akibat yang terjadi apabila melalaikan seruan Rasulullah, kita juga tidak sedang membicarakan bagaimana tim work sangat dibutuhkan demi pencapaian tujuan. Yang sedang kita bicarakan disini adalah keberanian. Karena sejatinya keberanian adalah tolok ukur dari perjuangan. Tak ada perjuangan tanpa didasari keberanian.
Secara personal, keberanian akan mendongkrak motivasi hingga batas akhir. Dan secara keseluruhan tentu saja akan berdampak pada pencapaian visi dan tujuan bersama. Tak ada hasil yang dicapai jika tak ada keberanian.
Keberanian muncul bukan karena by accident tapi lebih karena by design. Yang tidak secara kebetulan gegap gempita mengubah sifat seseorang dalam waktu sangat singkat. Tetapi karena proses panjang hingga membuahkan karakteristik yang ideal. Keberanian pada mulanya dimunculkan karena pemikiran yang matang. Walaupun seringkali keberanian muncul karena keterpaksaan namun efeknya tak bisa panjang, hanya sesekali dan begitu singkat. Namun jika keberanian telah mengkarakter maka jelas ia akan terintegrasi dengan tabiat. Efeknya sangat lama bahkan mungkin sampai akhir hayat.
Tak ada kejengahan hidup bagi orang-orang yang berani mengambil resiko. Seolah resiko adalah keniscayaan bagi mereka, karena dengan keberanian mereka menantang ketidak mampuan menjadi keberkahan. Hanya bagi orang-orang yang berani mengubah ketakutan menjadi kekuatan. Karena dalam setiap fase kehidupan selalu dihadapkan dalam dua pilihan, berani mengambil tindakan atau mengambil langkah seribu untuk mundur kebelakang. Berani mengamalkan Islam atau hanya sebatas identitas saja. Wallahu a’lam

Matahari masih jauh dari waktu pancarnya. Saat ini hanya ada aroma segar, embun pagi yang menyemangati dan tentu saja ada sebuah harapan bagi orang-orang yang beriman. Karena saat ini adalah subuh. Waktu yang dimuliakan Allah dengan Firman-Nya:
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Israa’: 78). Begitu mulianya waktu subuh sehingga punya caranya sendiri untuk membangkitkan harapan bagi orang-orang yang beriman.
Begitupun orang-orang yang bertakwa punya caranya sendiri untuk tidak menyia-nyiakan waktu subuh. Ketika sebagian manusia masih terlelap diempuknya tempat tidur mereka, orang-orang beriman menarik nafas yang panjang untuk bangkit dan berdiri menyembah Tuhan mereka dengan khusu’. Ketika sebagian manusia bergemul dihangatnya selimut-selimut mereka, orang-orang beriman menghangatkan ruhiyah mereka dengan mentafakkuri ayat-ayat Al-Qur’an. Dan ketika sebagian manusia masih terbuai mimpi-mimpi dalam tidur mereka, orang-orang beriman telah mengetarkan langit dengan dzikir Al-Ma’tsurat mereka.
Tak ada waktu untuk berleha-leha, karena orang-orang beriman percaya subuh adalah waktu yang tepat memulai hari dengan ketakwaan. Karena sejatinya subuh adalah nafas pertama kehidupan mereka. Kelalaian hanya akan membawa mereka terjerembab di curamnya perangkap syaitan yang siap mengintai selama satu hari penuh. Dan sebaliknya memulai hari dengan ketaatan memunculkan harapan Allah akan menjaga mereka dari berbagai tipu daya yang menyesatkan.
Simak bagaimana kaum Luth diazab oleh Allah ketika subuh. “Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.” (QS. Al-Hijr: 66). Inilah hukuman bagi orang-orang yang dengan kedengilan mereka mengubah hukum-hukum Allah, menciderai fitrah manusia dalam mencintai, dan yang jelas membuat kerusakan di muka bumi dengan kebiasaan menjijikkan mereka.
Subuh punya dua sisi yang berbeda. Memberikan harapan sekaligus mampu memberikan kehinaan bagi manusia. Bagi yang mampu menghisab diri dengan bijak, jelas sebuah harapan untuk memperbaiki diri menuju keshalihan pribadi. Dan bagi mereka yang sombong dan angkuh, jelas sebuah kehinaan akan mereka dapatkan. Simak bagaimana nasehat Hasan Al Bashri “Seorang Mukmin adalah pemimpin bagi dirinya dan selalu menghisab dirinya. Sesungguhnya Allah akan meringankan hisab di akhirat atas suatu kaum karena hisab yang mereka lakukan di dunia.”
Subuh adalah kekuatan. Kekuatan yang akan terus membangkitkan kesemangatan, percaya diri dan perjuangan. Dan kekuatan terbesar ummat ini muncul jika mereka menghidupkan subuh dengan berjamaah. Rasulullah SAW pernah mengatakan, “jikalau mereka mengetahui rahasia besar di balik sholat subuh, maka niscaya mereka akan mendatangi masjid-masjid di waktu subuh walau dengan merangkak.”
Ada kegetiran dan ada kesedihan yang wajar ketika kita melihat ummat ini menyia-nyiakan subuh. Sejarah telah membuktikan, bangsa ini mampu terus berjuang dan menghancurkan para penjajah ketika mereka bersama-sama mengatur strategi di waktu subuh. Karena subuh secara alamiah akan menyingkirkan orang-orang munafik dan antek-antek penjajah dari barisan mereka. Namun kini, masjid seolah meratap dan bersedih karena ummat Islam di Negeri ini telah meninggalkan kebiasaan para orang-orang shalih sebelum mereka.
“Sungguh, masjid-masjid di seluruh penjuru dunia ini merintih pedih dan mengeluh kepada Allah karena dijauhi oleh mayoritas kaum muslimin ketika shalat subuh dilaksanakan. Kalau bukan karena ketentuan Allah bahwa benda-benda mati itu tidak bisa bicara, tentu manusia dapat mendengar suara rintihan dan gemuruh tangis masjid-masijd itu mengadu kepada Rabbnya Yang Agung.”( Imad Ali Abdus Sami’ Husain). Wallahu a’lam

Kisah ini berawal kira-kira empat tahun yang lalu. Waktu telah lama berjalan, namun kenangannya masih terus bergelanyut terang diingatan. Tak ada yang terlupakan, semua jelas mulai dari intonasi, titik hingga koma.
Bermula dari akan diadakannya syuro’ persiapan sebuah agenda besar pelaksanaan program kerja relawan sebuah lembaga zakat. Sembari menunggu relawan yang lain, aku duduk bersandar pada jok mobil ambulance yang disulap menjadi sofa pemanis ruang tamu. Ditemani Koran lokal, waktu menunggu menjadi tak terlalu menjemukan.
Kebetulan ruang tamu tempat aku menunggu letaknya bersebelahan dengan ruangan amil yang khusus menampung uang-uang hasil kolektor yang dikumpulkan dari celengan-celengan yang disebar seantero wilayah palembang dan sekitarnya.
Karena hanya bersekat terali yang tak begitu rapat, siapa pun bisa dengan mudah melihat aktifitas di dalamnya. Kebetulan waktu itu aku melihat ada seorang amil yang sedang sibuk mengumpulkan dan mengklasifikasi jumlah nominal agar dapat dengan mudah menghitung logam-logam uang yang bertumpuk begitu banyak.
Kebetulan aku sangat mengenal amil ini. Seringkali aku berdiskusi kecil tentang berbagai hal, termasuk tentang strategi perkembangan dakwah para relawan (karena kebetulan sebelum menjadi amil, ia juga seorang relawan sepertiku, yang kemudian mendapatkan amanah sebagai amil).
Tampaknya ia begitu menikmati aktivitasnya, itu terlihat dari tangan yang terampil dan cekatan, dan senyum yang terus mengembang. Padahal bagiku itu adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Bagaimana tidak? Seharian berkutat dengan uang logam yang bertumpuk jumlahnya, disusun, kemudian dihitung nominalnya. Jika salah hitung sudah dapat dipastikan harus mengulang dari awal.
Hampir sepuluh menit aku disitu, aku melihatnya tetap dalam gerakan yang sama, memisahkan nominalnya dan menghitung. Tanpa sedikitpun beranjak dari tempatnya. Bahkan kehadiranku pun tak membuatnya bergeming. Padahal jika melihat seseorang yang datang ia akan dengan sangat sopan tersenyum lalu kemudian mengatur jarak dan dapat dipastikan ia tanpa hanya sekedar basa-basi akan menanyakan kabar. Namun kali ini tidak, aku semakin yakin ia sedang dalam kondisi mengkonsentrasikan pikiran tingkat tinggi, atau dalam bahasa asingnya setara dengan istilah the power of focus.
Tanpa sadar aktifitasnya membuatku berfikir banyak dan muncul berbagai pertanyaan yang tak bisa ku sembunyikan. Dan aku ingin manyakan beberapa pertanyaan padanya. Sambil berdehem cukup keras, dan tampaknya ia sedikit kaget mendengar suaraku itu. Namun dalam waktu yang singkat ia bisa menghilangkan kekagetannya dengan sebuah senyuman khas yang biasa ia berikan kepada siapa saja.
“ Eheeeemmm, Assalamu’alaikum, lagi ngapain mba’? kayaknya dari tadi asik banget kerjanya sampe saudara dateng dicuekin” sapaku dengan sopan
“Astaghfirullah, Wa’alaikumsalam, eh udah lama datangnya ya Dek? Mba’ sampe kaget denger suaranya. Ko ga’ negor? Biasanya kan suka ngagetin orang.” Ia kaget, sambil menoleh kearahku sebentar, lalu tersenyum kemudian kembali meneruskan pekerjaannya.
“Ini udah dikagetin kan? Hehehehe” jawabku dengan cepat.
“Iya mangkanya aneh aja ko negornya bisa telat gitu?” sambil terus melanjutkan pekerjaannya.
“Mba’, boleh Tanya ga’?”
“Ya..tanya aja, biasanya juga langsung ngerocos aja, ini ko minta izin segala dek?”
“engga, siapa tau ntar ganggu kerjaannya Mba’ kan”
“Kalo ganggu mungkin udah dari tadi Mba’ bakalan bilang, afwan ya Dek, Mba’ lagi sibuk nih. Jadi jangan diganggu dulu”
“hehehehehe..gini Mba’, Mba’ kan lulusan universitas negeri, trus punya IPK yang lebih dari cukup untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih dari sekarang. Ko malah bertahan dengan pekerjaan yang seperti ini?
“ooo mo nanya itu? Mba’ pengen nanti ketika Allah bertanya tentang apa yang Mba’ lakukan di dunia, uang-uang yang sekarang Mba’ susun ini bersaksi bahwa Mba’ pernah menorehkan catatan amal perjuangan untuk agama Allah.”
Aku diam seribu bahasa. Tak terpikirkan jika akan mendapatkan jawaban yang seperti itu. Hatiku berguncang keras, jantungku seketika berdegup kencang. Ada getaran-getaran yang membuat seluruh tubuh merinding. Aku tak bisa berkata-kata banyak hanya bisa membalas dengan ucapan lirih di dalam hati.
“Ya Rabb…berikan aku jalan kehidupan yang mengantarkan aku pada amal dan senantiasa berjuang di jalan-Mu.”
--ooOoo--
Kehidupan ternyata punya jalannya sendiri untuk membuat kita mengerti tentang hakikat hidup. Terkadang kehidupan membuat manusia lalai dari ketaatan karena manusia itu sendiri yang mengarahkan kehidupannya untuk menjauh dari ketaatan. Namun banyak juga manusia yang mampu menyetir kehidupannya untuk meraih kemuliaan yang mengantarkan mereka pada kebahagiaan hidup.
Kehidupan hanyalah sebuah cara untuk kita mengerti sesuatu. Kehidupan pula yang akhirnya mengajarkan kita arti semangat, berjuang, pantang menyerah dan istiqamah. Kehidupan hanya pemaknaan sementara atas umur yang sedikit. Kehidupan hanya sebatas realitas sempit untuk menuju kehidupan yang kekal abadi. Jika tergelincir sedikit saja maka berhati-hatilah kehidupan akan melibas kita dengan rasa penyesalan yang tak berujung. Namun jika kita mampu mentawazzunkan kehidupan ia akan berubah menjadi kedamaian dan ketenangan.
Mungkin itu juga mengapa Rasulullah mengajarkan kepada Umar untuk sabar melihat kehidupan. Kesedihan dan isakan tangis yang wajar manakala umar membayangkan dibagian bumi sana ada Kaisar dan Kisra tidur bertelekan dipan-dipan yang empuk, ditemani aksesoris ruangan yang berlapiskan emas dan permata, para istri-istri yang siap melayani kapan pun ia minta dan pengawal yang siap menjaga 24 jam hanya untuk sebuah kata “kesetiaan”. Sementara ia melihat di depan matanya seorang utusan terakhir dari Tuhannya tidur bertelekan pelepah kurma yang menimbulkan bekas yang jelas di punggung Rasululullah, disekeliling tempatnya tidur tak ada yang bisa di banggakan kecuali mangkuk yang biasa dipakai untuk makan dan cangkir yang biasa dipakai Rasulullah untuk minum. Rasulullah ingin mengajarkan pada Umar dan kepada ummatnya bahwa kehidupan ini hanyalah sebuah tempat persinggahan sementara saja.
Coba simak dengan perenungan yang mendalam firman Allah: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’aam: 32).
Ketika saudara-saudara kita di Palestina hidup dengan perjuangan yang terus membuat mereka bergerak tanpa istirahat, mempertahankan tanah kelahiran yang lambat laun mengecil karena direbut paksa oleh kaum yang dilaknat Allah karena keingkarannya dari zaman ke zaman. Para mujahidin Palestina berharap bahwa batu-batu yang mereka lemparkan, air mata yang menetes, darah yang mengucur deras, debu-debu yang berterbangan akibat perjuangan mereka atas kaum penindas Laknatullah akan menjadi saksi yang siap membela mereka ketika bertemu Rabb di yaumul hisab.
Sementara kita hanya berdiam diri dirundung kebingungan memikirkan entah apa yang bisa menjadi pembela kita di akhirat kelak? Ketika saudara-saudara kita di Palestina telah bertindak atas bangsanya untuk menghapuskan kezaliman. Kita berdiam diri menyaksikan para anak bangsa menebar kezaliman atas saudara mereka sendiri di tanah air ini.
Kuantitas yang melimpah sebagai penghuni mayoritas di bangsa ini ternyata tak cukup kuat untuk menjadikan Islam berdiri tegak di negeri ini. Kita terlihat rapuh, ringkih dan bahkan kehilangan napas seperti orang-orang yang berpenyakit asma ketika negeri ini diberondol dengan peluru-peluru penghinaan dari bangsa lain. Dan yang menyakitkan yang menghina itu adalah bangsa yang pernah belajar, pernah dididik, bahkan pernah di belaskasihani oleh bangsa Indonesia beberapa waktu yang lampau.
Tampak kita kehabisan semangat bahkan untuk mengubah nasib bangsa ini dengan tulisan-tulisan yang menggugah. Dengan kata-kata motivasi yang mampu menggerakkan nurani anak bangsa untuk bangkit. Apa mungkin karena konsep diri bangsa ini telah rusak akibat terlalu lama dibuai oleh semunya kenikmatan sementara?
Mari sejenak tundukkan hati, untuk merenungi nasihat Rasulullah pada Abu Dzar “Wahai Abu Dzar, ketahuilah bahwa kekayaan dan kefakiran itu sumbernya dari hati. Barangsiapa yang kaya di dalam hatinya maka ia tidak akan dapat dicelakakan oleh apapun yang ia alami dalam hidupnya di dunia. Dan barangsiapa yang fakir hatinya, maka ia tak dapat dijadikan kaya oleh harta apapun sepenuh dunia. Justru itulah yang akan menghancurkan dirinya.” (HR. Ibnu Hibban).
Jalan kehidupan bagi pejuang dakwah adalah mensinergikan hati dan pikiran demi sebuah amal. Mereka akan senantiasa melangkah mencari amal apa yang mampu mereka persembahkan demi tegaknya agama ini. Mereka akan senatiasa berjuang mencari jalan yang mampu mengantarkan mereka pada kemuliaan, sekaligus menghindarkan mereka pada kehinaan. Mari kita renungkan bersama saudaraku….!!!! Wallahu a’lam.

Cerita ini berawal kira-kira setahun yang lalu. Seperti biasa, hari itu jadwal mengajar mata kuliah Metode Pembelajaran Sains. Waktu perkuliahan dimulai tepat pukul 08.00 WIB. Lima belas menit sebelum perkuliahan dimulai, biasanya aku telah hadir di kampus. Ini adalah komitmen yang harus tetap dijaga agar menjadi media pembelajaran bagi Mahasiswa agar tidak telat dalam aktifitas perkuliahannya. Dan itu harus dimulai dari diri dosennya terlebih dahulu.
Memasuki ruangan dosen, meletakkan tas di atas meja, sembari menunggu waktu tepat pukul 08.00 aku mengambil gelas dan mulai menuangkan teh hangat yang memang telah disiapkan. Ada beberapa makanan ringan yang juga aku ambil, lumayan sekedar mengganjal perut untuk dua jam kedepan.
Seperti biasa ruang dosen sepi, hanya ada satu atau dua dosen yang berada di dalam ruangan. Tampaknya mereka punya jadwal perkuliahan pagi. Sambil tersenyum mereka menyapaku dan dalam waktu yang singkat mereka kembali sibuk dalam aktifitas masing-masing. Membaca Koran, atau sibuk menyiapkan materi perkuliahan.
Waktu menunjukkan pukul 07.55 menit. Ini artinya sebentar lagi aku harus sudah berada di kelas. Namun sebelum menuju ke kelas untuk mengajar, ada satu kebiasaan yang selalu aku lakukan. Masuk ke toilet, merapihkan pakaian, dan melihat tatanan rambut di cermin besar yang disediakan di dalamnya. Ini perlu, karena aku menganggap penampilan akan mempengaruhi minat Mahasiswa dalam belajar. Bayangkan jika penampilan dosennya acak-acakan maka jelas mereka pun akan malas untuk memperhatikan atau bahkan fokus mendengarkan penjelasan yang akan disampaikan.
Sambil melangkah pelan menuju toilet yang letaknya berada di ruangan belakang, aku terhenti sejenak karena aku melihat ada OB yang sedang membersihkan toilet. Merasa tak ingin mengganggu pekerjaannya aku menunggu sejenak hingga ia selesai membersihkan baru aku masuk. Dan aku pikir hanya akan memakan waktu beberapa menit saja.
Sambil tersenyum aku memandang kearahnya, ia acuh tak acuh menatapku. Aku kenal semua OB yang biasanya membersihkan ruangan dosen, ruangan kelas maupun toilet. Tapi kali ini wajahnya terasa sangat asing bagiku dan aku yakin belum pernah melihatnya. Mungkin ini adalah hari pertamanya untuk kerja. Dari pembawaannya, aku bisa menebak umurnya tak lebih dari 25 tahunan.
Aku kembali tersenyum memberikan isyarat bahwa aku ingin masuk ke dalam toilet. Namun tetap saja ia acuh tak acuh dan kali ini menatapku dengan sinis. Karena waktu terus berjalan, dan sesaat lagi jadwal untuk mengajar akan dimulai. Aku tak ingin komitmen untuk mengajar tepat waktu terhambat gara-gara kebiasaanku ini.
Aku menyapanya, “Permisi Mas saya mau ke toilet sebentar?” aku tegur ia dengan sopan, namun tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya.
“Permisi Mas, saya mau ke toilet.” Sambil menunjukkan raut muka yang mengiba, aku ulangi lagi keinginanku.
Namun betapa kagetnya aku ketika keluar sebuah jawaban kasar darinya.
“Eh kamu lihat ga’? ada orang disini lagi ngebersihin toilet. Dari tadi aku diemin ternyata masih ga’ ngerti juga ya? Kamu tau ga’ toilet Mahasiswa tuh di luar. Itu tuh di bawah tangga. Ini toilet khusus dosen. Bisa baca tulisan diatas ga’. KHUSUS DOSEN. Udah sana gangguin orang kerja aja.”
Aku kaget bukan kepalang, namun aku masih bisa tersenyum. Belum lepas rasa kaget itu aku kembali di kejutkan sebuah teriakan kasar.
“Eh ko malah masih berdiri disini?? ga’ ngerti bahasa manusia ya?? toilet Mahasiswa itu di luar.”
Wajahku merah menahan malu akibat dicaci maki, karena kebetulan disaat bersamaan seorang Mahasiswi menemuiku untuk mengingatkan bahwa waktu perkuliahan sudah bisa dimulai.
“Permisi Pak, perkuliahan sudah bisa dimulai, Mahasiswanya sudah hadir semua.”
“Iya sebentar lagi saya masuk ke kelas, tolong disiapkan aja dulu LCDnya. Nanti saya segera menyusul.”
Mungkin karena sang OB kaget ada Mahasiswi yang menegurku tepat di depannya kemudian mengingatkan bahwa perkuliahan telah bisa dimulai. Dia kaget, dan tampak wajahnya lebih merah dariku karena malu. Tampaknya ia tak bisa berkata-kata lagi.
“Permisi Mas, ini toilet khusus Dosen kan? Maaf ya, boleh saya mau masuk sebentar? Karena sebentar lagi saya ada jadwal mengajar.” Tegurku dengan sopan.
Tanpa bisa berkata-kata lagi ia mempersilahkan aku masuk. Sambil melangkah masuk ke dalam toilet aku berkata dalam hati “Apa aku belum pantas ya jadi dosen? Apa umur 23 masih aneh jadi dosen ? Apa masih terlihat kayak mahasiswa? Kalo’ mahasiswa pasca sih emang iya hehehe. Apa wajahku masih terlihat sangat muda?
Ah, ternyata memang ga’ baik memandang seseorang dari luarnya aja.”
--oOo--
Coba kita simak dengan iman sebuah firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12). Sebuah peringatan jelas dari Allah untuk orang-orang yang beriman agar menjauhi prasangka. Karena tabiatnya prasangka akan menjurus pada keburukan, memandang rendah orang lain, dan yang paling parah mengarah pada fitnah.
Berapa banyak diantara kita yang memelihara prasangka di dalam hatinya. Dan berapa banyak juga diantara kita yang akibat memelihara prasangka, mereka terjerumus di jurang kehinaan akibat kesalahan mereka sendiri. Mereka menuduh, mencaci maki dan akhirnya menyebar fitnah.
Ironis memang jika kita lebih suka memandang seseorang dari tampak luarnya saja. Karena terkadang apa yang tampak di luar belum tentu bisa mengapresiasikan yang ada di dalam hati.
Ada pepatah asing yang mengatakan don't judge a book by its cover. Ini menegaskan bahwa apa yang tampak dari tampilan luar tak selamanya mampu seimbang dengan apa yang ada di dalam isi. Terkadang kita lebih suka memunculkan dugaan sinisme bagi orang yang secara penampilan tidak menarik. Padahal dalam sejarah, tinta-tinta emas kehidupan lebih sering diwarnai oleh kisah-kisah heroic orang-orang yang bukan berasal dari kasta kesatria.
Islam pun telah banyak mencatat sejarahnya sendiri. Sejarah orang-orang dengan derajat mulia namun dengan penampilan tak seberapa. Masih ingatkah kita dengan sahabat Nabi yang ketika ayat-ayat Al-Qur’an mengalun indah dari bibirnya, seketika itu juga membuat Nabi terisak-isak hanyut dalam kesedihan.
Dialah Ibnu Mas’ud. Sahabat keenam dari enam orang pertama yang menyatakan dirinya masuk Islam dan yang luar biasanya ia dijanjikan Rasulullah dengan syurga. Ia juga yang mendapat pujian dari Rasulullah dalam haditsnya “Bacalah Al-Qur’an dari empat orang :…..dari Ibn Ummi ‘Abd (yaitu Ibn Mas’ud)” (HR. Muslim).
Dibalik prestasi luar biasa itu ia memiliki fisik yang tak seperti bangsa Arab kebanyakan. Ia tidak kekar, atau bahkan tampan dan mempesona karena ia seorang yang kurus ceking dan pendek, jika berdiri hanya setinggi orang yang duduk.
Suatu ketika Ibnu Mas’ud sedang memanjat sebuah pohon untuk mengambilkan jenis ranting yang biasa dipakai Rasulullah untuk bersiwak. Seketika itu para sahabat tak kuasa menahan tawa saat melihat kaki Ibnu Mas’ud yang begitu kurus dan kecil. Namun apa kata Rasulullah, “kaki itu lebih berat dari Gunung Uhud” (Shahih Ibn Hibban).
Kisah yang sangat menggetarkan, bagaimana ketidak sempurnaan punya caranya sendiri untuk bisa bangkit dan berbalik menjadi sebuah kemuliaan. Sekaligus mematahkan teori orang-orang yang sering menjadikan penampilan luar sebagai acuan dalam menilai sesuatu.
Penampilan seringkali hanyalah sebagai tameng untuk menampilkan ketidak sempurnaan seseorang. Ketidak sempurnaan yang dibalut dengan kemewahan yang sejatinya sering menipu. Penampilan tak ubahnya seperti kulit, yang lama kelamaan akan memunculkan sifat keasliannya berupa kekusaman, keriput atau bahkan membusuk. Oleh karena itu jangan pernah menjadikan penampilan sebagai penilaian valid terhadap sesuatu.
Kesederhanaan adalah cerminan dari kemuliaan. Kebijaksanaan merupakan nafas dari hati yang terjaga dan keangkuhan seringkali muncul dari rasa bangga akan penampilannya. Hanya orang yang sederhana dan bijaksanalah yang mampu menilai seseorang dari apa yang orang lain lakukan dan katakan tanpa memandang siapa yang berbicara. Karena orang sederhana dan bijaksana hanya mengambil hikmah dan manfaat dari sesuatu dan membuang keburukan dan kesia-siaan dari sesuatu. Wallahu a'lam.

Coba kita renungkan sejenak. Telah berapa jauh kaki kita melangkah? Kadang kita melangkah dilurusnya jalan, namun tak jarang kaki kita melangkah disesatnya jalan. Entah bagaimana perbandingannya? Lebih sering melangkah dilurusnya jalan atau di sesatnya jalan. Lebih banyak terdampar di bengkoknya jalan atau istiqamah dilurusnya jalan. Atau bahkan seimbang antara berjalan di sabilillah dan berjalan disabilusyaitan?
Perjalanan hidup akan sangat meletihkan, atau bahkan sangat melelahkan saudaraku. Ketaatan yang bercampur dengan maksiat, tak mampu kita lepaskan. Ketakwaan yang bercampur dengan ujub masih saja melintas dibenak kita. Keimanan yang arogan – merasa diri lebih baik – masih sangat terlihat dari cara kita berbicara, menatap dan bertingkah laku. Yang penting selalu ada semangat untuk mengubah diri menjadi lebih baik.
Inilah cobaan hidup bagi orang-orang yang beriman. “…tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…” (QS. Al-Maa’idah : 48). Maka jangan pernah berhenti hingga langkah kita berakhir dengan ketaatan. Selalu berharaplah untuk segera kembali jika ternyata kaki kita tergelincir dilicinnya jalan maksiat. Berbuatlah kebajikan sebagai salah satu isyarat bahwa kita selalu menginginkan berada dekat dengan-Nya. Agar dengan kemurahan-Nya kita selalu dibimbing untuk segera memperbaiki diri.
Simak dengan iman bagaimana Allah berfirman saudaraku “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. 29:2). Ujian sebuah keniscayaan yang harus kita hadapi saudaraku, ujian adalah sesuatu yang harus kita pikul. Karena dengan itulah Allah melihat kesungguhan kita sebagai hamba-Nya.
Coba kita renungkan sebuah kisah bagaimana Rasulullah bersabar atas ujian yang Allah berikan. Ketika itu bulan syawal, tepatnya tahun kesepuluh setelah kenabian. Bersama Zaid bin Haritsah beliau melakukan perjalanan ke Thaif yang tak lain tujuannya adalah untuk mendakwahkan agama mulia. Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih, bukan penerimaan yang diterima Rasulullah tapi malah pengusiran dan perilaku buruk lainnya. Sepuluh hari berada di Thaif hanya sia-sia tanpa hasil, setiap Rasulullah menemui para pemimpin mereka selalu saja kata-kata kasar yang beliau terima, “Keluar dari Negeri kami!”. Tidak sampai disitu, ketika Rasulullah hendak pergi meninggalkan Thaif, mereka berkumpul untuk melempari Rasul dengan batu-batuan. Bahkan dalam riwayat disebutkan mereka mengeluarkan kata-kata keji dan melempari tumit Rasul hingga sendalnya memerah dibasahi oleh darah. Sampai-sampai Zaid bin Haritsah bersedia menjadi tameng untuk menyelamatkan Rasulullah hingga kepalanya berdarah. Kemudian datanglah Jibril bersama malaikat Jabal yang diutus Allah untuk memnuhi apa saja permintaan dari Rasulullah. Malaikat Jabal pun berkata “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu, dan aku adalah malaikat Jabal. Aku diutus Allah supaya kamu dapat menyuruhku apa saja yang kamu mau. Jika kamu mau aku bisa menimpakan gunung-gunung di atas mereka.” Kemudian simak apa jawaban Rasulullah, “sebenarnya aku hanya memohon supaya Allah mengeluarkan keturunan mereka untuk mau menyembah Allah Yang Maha Esa dan agar tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”
Sebuah kisah yang luar biasa, bagaimana tidak? Kalau saja Rasulullah menganggap ujian itu sebagai sebuah penderitaan, maka sudah dapat dipastikan Rasulullah hanya menginginkan keselamatan dirinya saja. Tawaran dari malaikat Jabal untuk membinasakan warga Thaif ditolak Rasulullah, bahkan Rasulullah hanya meminta kepada Allah untuk mengeluarkan keturunan-keturunan mereka agar menyembah Allah semata. Kemampuan Rasulullah bertahan atas ujian inilah yang kemudian Allah menurunkan ayat: “maka dengan sebab rahmat dari Allah-lah engkau dapat bersikap lemah lembut kepada mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Begitu indahnya ketika kita mampu menjadikan ujian yang Allah berikan menjadi keberkahan karena kita mampu bertahan dan bersabar di atas ujian tersebut. Menyampingkan sifat keluh kesah, memperkokoh kesabaran, menonjolkan keimanan serta memperteguh keyakinan atas ujian-ujian yang Allah berikan kepada kita. Karena sebenarnya ketika kita mampu bertahan atas ujian-ujian tersebut, tanpa sadar kita memperkuat diri kita agar dapat menyelesaikan berbagai cobaan dan tentu saja semakin menguatkan diri kita ketika musibah datang tanpa diduga-duga.

Yang mengagumkan dari perjuangan sebenarnya bukan terletak pada hasil yang dicapai, tetapi bagaimana proses dalam mencapai hasil tersebut. Karena sejatinya tujuan akan dapat diraih bila tujuan tersebut diniatkan dengan niat yang tulus dan diupayakan sekuat tenaga dengan semangat membara, pantang menyerah, dan jauh dari berkelu kesah. Bukan saatnya berhenti di tengah jalan, yang ada hanyalah rehat sejenak untuk mengatur dan menyusun strategi kembali.
Pejuang dakwah akan berhenti dari perjuangannya ketika tidak ada yang bisa ia berikan untuk dakwah itu sendiri. Dalam arti kata, ia berhenti ketika nyawa berpisah dari jasatnya, jantung tak lagi berdetak, nadi tak lagi berdenyut, darah tak lagi mengalir, jika semua itu belum ia rasakan maka kakinya akan terus melangkah, peluh akan terus ia keluarkan, bahkan darah pun siap ia alirkan dijalan Allah.
Para pejuang dakwah akan senantiasa mengingat dengan baik apa yang difirmankan Allah “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujarat: 15).
Semakin mereka jauh melangkah di jalan dakwah maka semakin teguh semangat mereka. Membuang jauh-jauh rasa ragu demi sebuah kemuliaan yang lebih baik dari dunia dan isinya. Dan tak menyesal ketika mereka harus mengeluarkan harta atau bahkan jiwa mereka sendiri. Karena kebahagiaan bagi mereka adalah ketika bisa memberikan apa yang mereka miliki untuk Allah. Dan bagi mereka berjuang dijalan Allah merupakan sesuatu hal yang agung. Bagaimana tidak? Karena Rasulullah pernah bersabda dari Abu Zar r.a., katanya: "Saya berkata: "Ya Rasulullah, amalan apakah yang lebih utama?" Beliau s.a.w. menjawab: "Yaitu beriman kepada Allah dan berjihad fi-sabilillah." (Muttafaq'alaih).
Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w., lalu berkata: "Manusia manakah yang lebih utama?" Beliau s.a.w. menjawab: "Yaitu orang mu'min yang berjihad fi-sabilillah dengan diri dan hartanya…..” (Muttafaq 'alaih).
Sehingga wajar, ketika berbagai peperangan muncul sebagai akibat penentangan terhadap interfensi kaum kafir agar dakwah ini dihentikan. Banyak kaum muslim yang mempersiapkan diri dan hartanya tanpa kenal takut apalagi mundur kebelakang bersiap siaga dibarisan perjuangan di jalan Allah. Bisa dipahami, karena tujuan mereka jelas. Mereka mengharapkan dua berkah dari Allah “Mati syahid atau hidup mulia” sebuah afirmasi yang tak ada tandingannya dalam memompa semangat kaum muslim dalam setiap peperangan. Ditambah setiap teriakan takbir yang secara nyata menambah daya dorong untuk terus berjuang sekaligus menghembuskan rasa takut bagi para penentang dakwah.
Maka karena inilah dakwah mengembangkan sayapnya. Menghujamkan semangat dan perbaikan dalam satu waktu. Mempersiapkan diri untuk dakwah sekaligus mempersiapkan amal sebagai bekal untuk menemui Rabbnya.
Jangan heran jika Allah menghadiahkan Islam generasi sahabat, tabi’in dan tabit tabi’in adalah generasi terbaik sepanjang masa. Karena dalam zaman ini mereka punya ghirah yang luar biasa terhadap kemuliaan Islam dibanding ghirah generasi-generasi selanjutnya. Di zaman itu, kaum muslim meletakkan dasar-dasar Islam di dada mereka sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh karena mereka percaya hanya Islamlah yang mampu memberikan ketenangan nyata. Berbeda dengan zaman setelahnya, hukum berdiri di atas pemikiran manusia yang dangkal. Nilai-nilai sosial berdiri di atas konsep yang sewaktu-waktu dapat berubah sesuai perkembangan zaman. Tidak berdasar dan tidak punya hukum tetap.
Di atas kezaliman dan kejahiliaanlah sejatinya dakwah berkembang. Rasulullah diutus ketika manusia memiliki mental bobrok dan moral yang sakit. Namun, perlahan tapi pasti dakwah akhirnya mengubah kondisi menjadi lebih baik. Disaat ini ketika masalah kebobrokan mental dan degradasi moral kembali terulang. Seharusnya banyak ummat yang kembali meluruskan dan meneruskan perjuangan yang pernah disusun rapi oleh Rasulullah agar kembali berada di lurusnya jalan.
Namun perjuangan akan selalu menemui dinamikanya sendiri. Ada yang menjalankannya dengan tulus namun ada juga yang karena sebuah kepentingan. Ada yang bertahan dengan penderitaan dan resiko yang ada. Ada yang setengah-setengah atau bahkan mengundurkan diri dari jalan dakwah ini. Itulah dinamika yang senantiasa mewarnai perjuangan dakwah sesungguhnya.
Tapi percayalah, Allah telah menyiapkan generasi yang setiap saat akan setia berada di jalur dakwah yang dengan sekuat tenaga akan memperbaiki kondisi ummat menjadi lebih baik. Mereka berjuang dengan tangan mereka, dengan lisan mereka dan dengan tulisan-tulisan mereka. Akankah kita menjadi bagian dari barisan perjuangan itu saudaraku???? Jawabannya sederhana, sekuat apakah kita berharap dan mampu berada di jalan itu dan sekuat apakah doa kita agar Allah menjadikan diri kita sebagai bagian dari perjuangan menegakkan kembali kemuliaan Islam. Tanyakan itu pada hatimu..!!!!


