
Laki-laki itu hanya bertopang pada sesuatu atau bahkan hanya bisa dituntun orang lain ketempat yang ia mau. Ia memang tak sebebas dulu, kini aktifitasnya terbatas akibat kebutaannya yang ia rasakan menjelang akhir hayatnya. Namun jangan heran, jika setiap hari orang-orang mendatanginya untuk minta didoakan, karena ia termasuk orang-orang yang berlisan suci.
Setiap lisannya merapalkan doa, keajaiban muncul, seolah keberkahan menaungi setiap perkataannya. Maka tak heran jika banyak orang menjumpainya untuk didoakan. Karena setiap doanya mustajab. Lelaki buta yang rapuh itu bernama Sa’ad bin Abi Waqqas, ia bukan lelaki sembarangan, ia adalah sahabat sekaligus paman Nabi.
Jarang yang datang kepadanya memendam kekecewaan, karena setiap hajat yang diminta untuk didoakan, dengan izin Allah terkabulkan. Namun yang menarik adalah ketika suatu hari ada seorang pemuda bertanya padanya, “wahai sahabat sekaligus paman Rasulullah, tidakkah engkau berdoa agar penglihatanmu dikembalikan?”
Dengan tenang Sa’ad bin Abi Waqqas menjawab, “wahai anak saudaraku, ketentuan Allah lebih kusukai daripada penglihatanku. Pantaskah aku tidak menyukai sesuatu yang disukai Allah untukku?!”
--oOo--
Lihatlah bagaimana seorang hamba yang shaleh meletakkan ketetapan Allah lebih dari kebutuhannya. Ketika sebenarnya ia mempunyai kesempatan untuk mengubah kekurangan yang ada padanya melalui kemustajaban doanya. Namun ia tetap tenang karena merasa itu adalah keketapan Allah, maka dengan suka cita ia terima dengan sabar, tanpa mengeluh sedikitpun.
Terkadang kita begitu mempermasalahkan berbagai ketetapan Allah dalam diri kita. Bahkan ironisnya kita sering membanding-bandingkan pemberian Allah terhadap kita dengan orang lain. Seorang yang mempunyai wajah yang tak seberapa dapat dengan mudah mencela pemberian Allah ketika ia membandingkan dengan orang lain yang berwajah tampan. Seorang yang memiliki kecacatan dapat dengan arogan mempermasalahkan takdir Allah kepadanya ketika ia melihat kebagusan fisik orang lain. Itulah tabiat manusia, tak pernah merasa puas.
Simak bagaimana ketabahan Sa’ad bin Abi Waqqas, dibalik kesucian lisannya, tak pernah sedikitpun ia mempergunakannya untuk mengubah ketetapan Allah atas dirinya. Bahkan ia mensyukurinya dengan penuh suka cita hingga maut menjemputnya.
Ini masalah kesyukuran bukan masalah berpangku tangan tanpa tindakan. Takdir sejatinya digerakkan oleh tindakan, namun ketetapan Allah adalah sesuatu yang terjadi atas kehendak Allah sendiri bagi setiap hamba-Nya. Bedakan antara tindakan dan sikap statis.
Ketetapan Allah atas fisik manusia adalah keniscayaan, namun takdir hidup manusia jelas manusia itu sendiri yang mengubahnya. “Allah tidak mengubah nasib suatu kaum hingga merekalah yang mengubah nasib diri mereka sendiri.” maka tak ayal manusia harus berjuang untuk takdirnya sendiri.
Memang butuh perjuangan yang tak mudah untuk bisa menerima ketetapan Allah. karena terkadang apa yang Allah berikan itu tak selamanya menarik bagi kita. Namun bagi orang-orang yang beriman mereka percaya dan yakin atas apa yang Allah firmankan, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Terkadang apa yang baik menurut kita ternyata banyak membawa kemudharatan, dan terkadang apa yang tidak baik menurut kita sesungguhnya merupakan manfaat yang luar biasa bagi kita. Tinggal saja bagaimana kita mampu menumbuhkan kesadaran bahwa ketetapan Allah adalah kebaikan yang seharusnya disyukuri bukan untuk dicela. Wallahu a’lam…
Label:
renungan



0 komentar:
Posting Komentar