
Berawal ketika mengisi materi pada sebuah wadah dakwah yang titik fokus kegiatannya adalah sebagai ujung tombak pelaksanaan kegiatan-kegitan sebuah lembaga zakat. Ketika itu materi yang diminta adalah komunikasi efektif. Sebelumnya memang telah lama diminta untuk menyempatkan waktu agar bisa mengisi dalam pelatihan yang rutin diadakan bagi relawan. Kebetulan saya juga termasuk relawan angkatan ke-2 yang tentu saja memiliki ikatan emosional walaupun akhir-akhir ini sudah jarang atau bahkan bisa dikatakan tidak pernah lagi berhubungan dengan aktifitas kerelawanan seperti beberapa tahun yang lalu. Mungkin kesibukan mempengaruhi, namun faktor utamanya adalah sudah jarang dihubungi lagi dan jarang dimintai pendapat atas kegiatan-kegiatan kerelawanan.
Ada perasaan keterasingan ketika berada di lingkungan tersebut, ada wajah-wajah baru, hanya sedikit wajah-wajah lama yang dikenal itupun tak begitu dekat. Perasaannya malah seperti orang lain. Ruh yang muncul diawal bahwa saya akan bertemu keluarga menguap entah kemana. Ada sebuah perasaan “jarak tebal” antara saya dengan mereka, yang sebenarnya dibesarkan dalam ghirah yang sama.
Sebelum materi dimulai, sembari menunggu peserta pelatihan yang lain, saya memperhatikan dengan seksama aktifitas-aktifitas mereka. Tampaknya akan ada kegiatan lain setelah selesai materi saya, namun entah kegiatan apa itu? Ada keanehan yang muncul dalam penglihatan saya, sebuah kondisi yang berbeda dengan beberapa tahun yang lalu.
Dulu ketika intensitas pergaulan antara ikhwan dan akhwat hanya terbatas dalam kegiatan di lapangan, kini pergaulannya melebar dalam komunikasi-komunikasi tak terbatas dalam ruangan. Seakan hilang entah kemana hijab antara keduanya. Tutur bahasa yang tak teratur, sehingga banyak lelucon mengalir deras dari lisan membuat sesama mereka terpingkal-pingkal. Ada ikhwan yang secara frontal mengejek seorang akhwat lalu kemudian tanpa risih sanga akhwat membalas dengan cara yang tak bijak, lalu seketika gegap gempita disambut tawa semua yang hadir diruangan tersebut.
Berbeda ketika beberapa tahun yang lalu, ketika apapun namanya, intensitas akhwat dan ikhwan tetap terjaga dengan batas-batas yang ideal. Hijab masih dipergunakan sehingga tak heran ketika itu seorang ikhwan dan akhwat masih bisa menjaga pandangan mereka.
Yang terdengar ketika syuro dan pengisian materi rutin hanya suara, selebih itu tidak. Begitupun ketika pelaksanaan kegiatan dilapangan. Intensitas hubungan pun hanya terbatas dalam hal koordinasi selebihnya bergerak sendiri-sendiri sesuai amanah, bilapun mesti berkomunikasi dengan lawan jenis tentu saja dengan jarak dan pandangan mata yang terjaga.
Kondisi ini kini tak lagi dapat dirasakan, beberapa orang yang dulu istiqamah berjuang, satu-persatu pergi dan mendapatkan amanah dakwah di tempat yang lain. Karena memang amanah dakwah tak hanya pada satu tempat. Hingga membuat semangat yang dulu perlahan demi perlahan memudar. Kini semua terasa gersang, tak ada lagi hal-hal yang mampu menyemangati diri untuk menjadi lebih baik, yang ada hanyalah hal-hal yang bisa mengeraskan hati.
Kemana semangat dakwah yang dulu terjaga dan tertanam dalam setiap kadernya? Yang ada hanyalah menghitung sejumlah angka-angka nominal di kepala setelah berjuang – itupun jika masih ingin di katakan sebagai sebuah perjuangan – Kini nilai amal kalah dengan sejumlah uang yang tak seberapa. Tak ada lagi keihlasan, kalaupun ada yang tersisa hanyalah segelintir pasir ditangah padang sahara seluas mata memandang. Sedikit, tipis, atau bahkan tak terlihat.
--oOo--
Inilah yang seringkali ditakutkan oleh orang-orang terdahulu, tak ada yang bisa memastikan semangat yang sama bisa menular dan bertahan sekian lama pada kader-kadernya. Yang ada hanya keterkikisan nilai yang semakin lama semakin memudarkan apa yang telah lama dirumuskan.
Bayangkan jika tidak ada warisan dari Rasulullah yang masih bisa kita terima dan kita lihat dari sunnah-sunnah shahih beliau. Atau jika tidak ada para shalafus shalih yang mencatat dan membuahkan berbagai karya-karya fenomenalnya mungkin saat ini, kita menjalankan ibadah sangat jauh melenceng dari kaidah sesungguhnya. Berislam namun entah berislam cara yang mana? Mengikuti sunnah atau bahkan ingkar sunnah.
Bayangkan jika riwayat para pejuang tanah air kita tak tertulis dalam catatan tinta sejarang bangsa, mungkin saat ini para penerus bangsa mengerenyitkan dahi ketika ditanya siapa Imam Bonjol? Siapa Pangeran Diponogoro? Apa yang dilakukan Cut Nyak Dien di Aceh? Strategi perang seperti apa yang dipakai oleh Hasanuddin di Makasar? Jelasnya tak ada yang bisa menceritakan dengan pasti apa yang mereka perjuangkan.
Akan selalu ada yang tersingkir dari media dakwah. Faktornya bisa karena dua hal. Pertama, tersingkir karena tantangan dakwah yang begitu berat sehingga merasa diri tidak mampu melangkah lebih jauh di jalan dakwah. Lama-kelamaan perasaan ini menyebar mengotori hati, dan pada akhirnya mengangkat tangan dan melambai dengan pasrah sambil berkata “selamat tinggal dakwah”. Kedua, media dakwah yang tak begitu kondusif lagi dengan fikrah seseorang. Ketika ia melihat ketidak nyamanan berupa pengingkaran terhadap batas-batas risalah yang telah ada. Memudarnya ghirah, keterkikisan makna dakwah disetiap kadernya. Dan melunturkan tujuan yang telah ditetapkan di awal. Ketika ucapan dan tangan mereka tak mampu mengembalikan kembali makna sesungguhnya dalam media dakwah tersebut. seketika itu juga mereka mengepalkan tangan mereka sambil berteriak “Allahuakbar….Ya Rabbi tunjukkan padaku jalan dakwah mana yang bisa membuatku lebih mencintai-Mu dan Engkau lebih mencintaiku”.
Saudaraku ingatlah baik-baik, ”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS Fushilat ayat 33). Dakwah memang berat, dakwah tidaklah mudah, dan dakwah senantiasa dikelilingi dengan sesuatu hal yang mampu membuat mata kita menangis atau bahkan bersedih. Namun bagi orang-orang yang tetap ingin berada di jalan dakwah, mereka itulah orang-orang yang paling baik.
Dan jika engkau menemukan keterkikisan dalam media dakwah janganlah bersedih hati. Rasulullah mengingatkan kepada kita, “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya. Yang demikian itu merupakan selemah-lemah iman.”
Ingatlah dakwah akan terus berkembang, karena Allah pasti akan melindungi agamanya dengan tangan orang-orang yang mujahadah. Jika ada satu yang mundur, maka Allah pasti akan menggantikan dengan generasi yang lebih baik dari mereka.
Ya Rabbi…., jadikan kami hamba-Mu yang istiqamah dan mujahadah di jalan dakwah-Mu. Dan jangan Engkau palingkan kami dari jalan-Mu yang indah ini. Dan wafatkan kami dalam keadaan benar-benar mencintai-Mu…..

Ketahuilah, dakwah berjalan ditangan orang-orang yang mujahadah, sungguh-sungguh dalam memperjuangkan keimanan, sungguh-sungguh dalam memperjuangkan kebaikan. Karena dalam pengertian yang luas dakwah adalah perbaikan. Perbaikan menuju kondisi yang lebih baik, perbaikan harkat dan martabat ummat, perbaikan dalam setiap sendi kehidupan.
Karena ada kesulitanlah dakwah idealnya akan muncul. Ketertindasan, kemerajalelaan, kesewenang-wenangan dan kejahiliaan merupakan masalah awal mengapa Rasulullah berdakwah. Tidak sekedar mendakwahkan keyakinan sebagai penyempurna agama-agama yang lalu. Tetapi lebih jelasnya mengaplikasikan keluarbiasaan keyakinan tersebut dalam kehidupan sehari-hari ditengah kesemerawutan sikap dan prilaku manusia ketika itu.
Meskipun baik, tetap saja keyakinan ini dikucilkan dengan berbagai alasan yang diada-adakan dan terkadang dipaksakan oleh kaum kafir ketika itu untuk menyerang Rasulullah dan keyakinan tauhidnya. Namun, karena itulah akhirnya dakwah berkembang dan menunjukkan eksistensinya.
Dari sebuah halaqah kecil bernama Darul Arqam yang sempit itulah dakwah muncul, dari halaqah kecil itu jugalah manusia-manusia pilihan yang ditempa oleh bakat-bakat alam yang diperkaya dengan ilmu-ilmu iman dan ketakwaan bermunculan dan kemudian menyebar untuk meneruskan eksistensi dakwah secara meluas.
Dari halaqah ini jugalah nama-nama besar yang kelak mengisi lembaran-lembaran sejarah, tidak hanya mengisi sejarah umat Islam namun sejarah yang mendunia yang lebih luas.
Dari halaqah kecil inilah kehidupan dakwah dimulai secara terorganisir, rapi dan kemudian tersusun sebagai kekuatan baru yang patut diperhitungkan. Karena ada semangat, ada kepercayaan yang tinggi terhadap sang murobbi, memimpikan pahala yang kelak akan diterima, walau pada akhirnya siksaan, caci maki, darah yang tertumpah adalah bagian yang dianggap sebagai sebuah halangan-halangan kecil yang tak pernah dihiraukan. Bacalah bagaimana penderitaan para sahabat dimasa awal perjuangan dakwah, ada yang tertindas, ada yang terkucilkan, dan tak sedikit yang melalui masa-masa intervensi dari kaum kafir.
Namun mereka tak pernah tersingkir dari dakwah karena sejatinya, goresan luka, lebarnya derita hingga tumpahnya darah merupakan bait-bait perjuangan yang mestinya dinikmati, karena sekali lagi dakwah muncul akibat adanya kesulitan. Bersiaplah, ambillah bekal dan kemudian pelajarilah bagaimana dakwah mengiasi hati dan jiwa orang-orang yang tetap istiqamah di jalan dakwah agar ketika kita sudah menetapkan azam yang kuat untuk mengambil bagian dalam kafilah dakwah kita akan merasakan apa yang dirasakan oleh para pendahulu kita yang berjuang bersama dakwah di pundak mereka. Tujuannya tidak lain adalah agar kita tidak tersingkir dari jalan yang dimuliakan Allah ini. Dan mari rapatkan barisan, perkokoh keimanan dan sebarkan kemuliaan Islam seantero bumi ini karena “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash Shaff: 4). Semoga Allah senantiasa mempermudah setiap bait perjuangan kita Insya Allah…..

Hari itu seperti biasa, jadwal tetap untuk bimbingan tesis. Semua bahan sudah disusun rapi dalam tas, semua lengkap tanpa ada satupun yang tertinggal. Langkah sudah mantap, argumen-argumen pendukung dalam menjawab pertanyaan dosen pembimbing seputar permasalahan yang diangkat sudah tertata dengan baik dipikiran. Tekat pun sudah bulat, hari ini harus ada keputusan untuk melangkah pada bab selanjutnya.
Motor vespa hijau cedar yang selalu menemani kemanapun aku pergi sudah dipanaskan, tampaknya ia pun sudah siap mengantar kemanapun aku melangkah. Dengan langkah pasti, bismillahi tawakaltu…..,gigi satu dioper, dan gas mulai ditarik, seketika vespa jalan tanpa hambatan.
Jarak yang ditempuh cukup jauh, kurang lebih 20 menit perjalanan yang biasa dihabiskan untuk menuju kampus. Itu juga dengan kecepatan tak lebih dari 60 km/jam. Biasanya sembari merayapi jalanan, tak henti lisan terus mengulang-ulang hafalan Qur’an, hitung-hitung menguatkan hafalan. Karena kata Rasul, “hafalan itu ibarat kuda yang kencang larinya, jika tak diikat maka ia akan hilang.” Atau jika tidak mengulang-ulang hafalan, mencoba menguraikan berbagai ide-ide segar yang tertangkap penglihatan sepanjang jalanan dan nanti ketika pulang coba dirangkai dengan tulisan-tulisan sederhana.
Jarak tempuh baru setengah perjalanan, dua lampu merah telah dilalui ini artinya tak ada lagi lampu merah yang akan dilewati dan perjalanan akan mulus sampai tujuan. Setidaknya itu pikiran dalam benakku ketika itu.
Baru melantunkan beberapa ayat dari surat ar-Rahman, aku dikagetkan dengan teriakan yang keras sekali. Aku memprediksikan jarak sumber suara denganku kira-kira sepuluh meter di belakang
“JAMBRET…JAMBRET…TOLONG.…TOLONG….SAYA DIJAMBRET…”
Aku panik tak kepalang, aku coba melihat ke sepion, MasyaAllah aku lupa sepionku terlalu kecil untuk bisa melihat kebelakang. Tanpa pikir panjang aku menoleh kepala kebelakang, untuk memastikan motor mana yang dituduh sebagai penjambret? Sempat bingung karena banyak motor yang bergerak cepat, penglihatanku untuk sementara menjadi statis tanpa respon yang cepat, karena kebingungan motor mana yang menjadi terdakwah sebagai penjambret. Ketika motor korban berada persis di sampingku, sambil terus mengiba dan berteriak kencang “jambret..jambret..tolong tangkap jambretnya pak” sambil menunjuk kearah satu motor, barulah aku sadar motor mana yang telah menjambret sang ibu.
Tanpa pikir panjang, kugeber kencang vespaku hingga meraung-raung. Ternyata banyak yang ikut membantu sang ibu mengejar sang jambret. Bak arena balap, para pengemudi motor yang ikut mengejar seolah saling berlomba ingin menjadi yang terdepan. Tentu saja, sang jambret tanpa kalah menarik kencang gasnya agar terbebas dari kejaran para pengemudi lain.
Tak mau kalah, gas vespaku kutarik sampai menemui batasnya. Kaca helm bututku – yang sebenarnya tak layak lagi disebut helm – mengganggu penglihatanku, kadang tertutup, kadang terbuka mengikuti irama angin. Namun itu tak jadi masalah berarti bagiku, pandanganku tetap fokus ke arah penjambret. Materi motivasi “the power of focus” yang beberapa hari lalu sempat aku berikan pada pelatihan dan motivasi bagi pengurus LDF sebuah universitas negeri tampaknya saat ini bermanfaat bagiku. Itu semakin membuatku percaya diri. Satu persatu motor lain tersusul olehku. Dan ajaib aku menjadi yang terdepan, jarak antara aku dan penjambret hanya berjarak lima meter.
Menyadari ada motor yang mampu mengejar, sang jambret panik. Ada jalur pertigaan di depan dan naas bagi sang penjambret, ia memilih jalur sempit sebelah kiri. Aku tersenyum sinis penuh dengan kemenangan. Dalam hati aku berucap “kena kau jambret, jalur yang kau pilih adalah jalur menuju kampusku, jangan kau pikir bisa membodohi aku karena setiap inci sudut jalan aku tahu kemana arahnya..bahkan sambil memejamkan mata pun aku takkan tersesat hehehehehe”.
Prediksiku benar ia malah terus menerus mencari jalan keluar, memasuki gang demi gang, tampaknya si jambret ceroboh memilih jalur. Aku sedang di atas angin, jarak antara aku dan jambret semakin dekat kira-kira hanya berjarak tiga meter saja.
Mesin motor vespaku yang meraung-raung tak aku perdulikan. Sembari melihat kebelakang masih ada tidak motor lain yang ikut mengejar? Ternyata masih banyak yang ikut mengejar. Dengan semangat 45, kugeber vespaku sejadi-jadinya. Perasaanku saat itu mungkin beda tipis dengan perasaan Khalid Bin Walid yang sangat bersemangat mengejar dan memporak-porandakan tentara Romawi dalam perang Mu’tah.
Mesin menderu-deru, asap mengepul tak karuan dan motorku terus terbatuk-batuk karena usia. Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih, akhirnya hal yang kutakutkan terjadi, mesin motor vespaku mati karena panas. Butuh waktu lama agar ia bisa dihidupkan kembali. Tertunduk lemas menahan malu, baru tau aku rasanya bagaimana perasaan Valentino Rosi jika tak menginjak podium no 1, getir, hampa, dan hati serasa retak seribu. Pupus sudah jalan untuk membantu saudara.
Sambil tersenyum kecut aku menunjuk kearah penjambret ketika seorang bapak-bapak bertanya “nak kemana arah si jambret?”. Belum hilang rasa malu, seorang pemuda menghampiri dengan mimik wajah penuh tanda tanya, “kenapa mas? ko’ malah berhenti? Padahal sedikit lagi tuh dapet jambretnya.” Aku kembali tersenyum kecut untuk kedua kalinya sambil menjawab “motornya ga’ sanggup ngejer lagi mas, mesinnya mati.”
--oOo--
Sangat disayangkan bangsa yang katanya beradab, memegang tradisi ketimuran yang gemar menolong, pantang menyakiti orang lain, ternyata masih dihuni oleh tabiat-tabiat penyamun. Menguap entah kemana, ketika para guru mendefinisikan arti moral dan budi pekerti di dalam kelas-kelas? Memuai entah kemana, ketika guru ngaji setelah mengajarkan huruf-huruf hijaiyah kemudian dilanjutkan dengan menjabarkan dengan panjang, nikmat syurga dan dahsyatnya neraka kepada kita? Entah ketika guru mendefinisikan moral atau budi pekerti, kita tertidur dengan khusyuk Ataukah ketika guru ngaji menjabarkan syurga dan neraka serta pentingnya akhlakul karimah kita membolos bersama teman-teman lebih memilih tanah lapang untuk bercanda ria dan membasahi tubuh dengan keringat memainkan berbagai permainan tradisional.
Sadarkah ketika telah lahir di dunia, nama kita dibuat dan sebuah perayaan kecil berupa aqiqah sebagai wujud tanda kesyukuran orang tua karena telah diberi permata hati, seketika itu semua yang hadir dan menyaksikan helai demi helai rambut kita dicukur, sebuah doa terselipkan agar kita menjadi anak yang sholeh, dan anak yang berguna bagi nusa dan bangsa kita. Setidaknya bagi yang kurang mampu, dalam waktu yang panjang do’a-do’a untuk buah hati itu tetap membahana menggetarkan langit. Namun, betapa kecewanya ketika dewasa pendidikan yang ditanamkan sejak kecil menguap entah kemana.
Mentalitas bobrok sampai saat ini membayangi masa depan anak bangsa. Bagaimana tidak, berbagai kecurangan dan pemalsuan terjadi di negeri ini. Hingga wajar jika Negara ini mendapat predikat termasuk sebagai Negara pemalsu terbesar di dunia. Ironis memang, namun itulah kenyataannya.
Jika mereka masih hidup, melihat berbagai kerusakan yang terjadi pada bangsa ini jelas membuat air mata para pembangun negeri mengucur deras. Bagaimana tidak? Mereka telah bersusah payah menanamkan jati diri bangsa sebagai warisan yang seharusnya dijaga dengan baik. Namun sekali lagi, hanya menyisakan kepiluan bagi orang-orang memegang norma-norma dengan sekuat tenaga mereka dan akhirnya hanya bisa mengurut dada dan terisak-isak dalam kesedihan yang mendalam.
Pencurian, penjarahan, dan berbagai bentuk kejahatan sebenarnya muncul sejak lama. Bahkan dimulai dari anak adam yang pertama, aroma kejahatan mulai menyeruak demi memaksakan kehendak. Bahkan di zaman Rasulullah, pencurian yang apa pun bentuknya tetap mendapatkan prioritas takaran hukuman yang jelas. Bahkan Rasulullah menjadi teladan dengan tanpa pandang bulu akan menghukum siapa pun yang mencuri, termasuk jika anak kesayangannya Fatimah yang mencuri.
Namun optimisme untuk bangkit masih tetap ada. Mental bangsa ini akan kembali bangkit, seiring dengan memperkokoh karakteristik bangsa yang telah tertidur. Kuncinya harus dimulai dari diri kita, dan sebagai seorang muslim jelas tak ada nilai yang terbaik selain menjalankan al-Qur’an dan sunnah dengan sepenuh hati demi munculnya peradaban Islam yang sejak awal mewarnai karakteristik dan jati diri bangsa ini.
SEMANGAT PERUBAHAN…!!!!! ALLAHUAKBAR….!!!!!

Hari itu jadwal kuliah kosong, waktu menunjukkan kurang lebih pukul 10.00 WIB, kira-kira 2 jam lagi akan masuk waktu zhuhur. Sembari menunggu azan bergema dari masjid sekitar kampus, cukup banyak waktu untuk ngobrol bersama temen-teman seputar isu-isu pendidikan sekaligus melanjutkan diskusi mata kuliah seminar pendidikan Islam yang baru saja selesai.
Diskusi ringan sampai debat kusir berlangsung, mulai dari membicarakan posisi pendidikan Islam, permasalahan madrasah, posisi pesantren hingga mengomentari pendidikan Nasional secara umum, dari fenomena tim sukses dalam ujian nasional, pro kontra ujian nasional, kekerasan guru terhadap murid, hingga pelecehan seksual yang dilakukan oknum guru terhadap peserta didik menjadi isu menarik untuk diperbincangkan.
Menit demi menit berjalan, tanpa sadar pembicaraan berlanjut pada isu dakwah, berawal dari curhatan seorang teman yang menganggap saat sudah semakin sulit mencari kader dakwah yang siap berdakwah tanpa melihat obyek dakwahnya. Kebetulan waktu itu ia sedang mencari pengganti untuk menggantikan dirinya memberikan materi dakwah pada sebuah LDK di Universitas Negeri, kebetulan disaat bersamaan ia diminta keluarga untuk segera pulang kampung karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Beberapa teman mulai dihubungi, namun semua jawaban tetap sama intinya sedikit menolak kalau mengisi acara LDK dan berbau kegiatan kerohanian Mahasiswa, kecuali kegiatan berupa seminar atau pelatihan komersial lainnya. Tentu saja sangat bisa dipahami mengisi di kampus-kampus apalagi dalam kaitan kegiatan dakwah kampus memang membutuhkan tingkat keikhlasan yang tinggi. Jarang yang bisa memberikan uang transport, syukur-syukur kalau mendapat kado berupa buku, bahkan tak jarang pulang dengan tangan hampa bonusnya hanya senyuman manis dan ucapan terima kasih saja.
Akhirnya terpaksa ia mengundur jadwal kepulangannya demi mengisi materi dakwah di kampus tersebut. Dan berharap mendapat keberkahan dari Allah atas apa yang diberikannya di jalan dakwah. InsyaAllah….
--oOo--
Tak ada yang menyalahkan seseorang atas niat dalam hatinya, termasuk di jalan dakwah. Karena sejatinya seseorang melakukan sesuatu berdasarkan niatnya masing-masing. Seorang ayah membanting tulang, memeras keringat mencari nafkah tak lain niatnya agar Istri dan anak-anaknya dapat memenuhi hajat rumah tangga berupa sandang, pangan, papan dan pendidikan. Seorang ibu membesarkan anak-anaknya tak lain niatnya agar anak-anaknya menjadi orang yang luar biasa baik bagi agama, negara, dan bagi kehidupannya kelak di dunia dan akhirat. Termasuk yang mendeklarasikan dirinya sebagai pengemban dakwah, ada yang niatnya benar-benar ikhlas namun tak sedikit yang mencari nafkah dari dakwah.
Niat menjadi sebuah keniscayaan dalam bertindak, karena sejatinya niat adalah ruh dalam berbagai tindakannya. Sukses atau tidaknya bergerak dan bertindak adalah niatnya. Karena sesungguhnya bangunan amal berdiri kokoh juga atas landasan niat. Tak heran jika Rasulullah bersabda “sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niat dan apa yang didapatkan oleh setiap orang tergantung pada niatnya.” (HR. Abu Daud, an-Nasa’i). Maka jelas, antara amal dan niat seperti sebuah garis lurus yang seimbang, menyatu dan tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Apalagi dalam konteks untuk mendapatkan keridhoan Allah.
Simak dengan iman bagaimana Allah berfirman: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali (bisikan-bisikan) orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mendamaikan diantara manusia. Dan siapa yang berbuat demikian dengan maksud mencari keridhoan Allah, tentulah Kami akan memberi kepadanya pahala yang sangat besar.” (QS. An-Nisa:114)
Maka sangat sulit membedakan antara keikhlasan dan penyakit hati (ujub, riya, sum’ah). Karena keduanya tersembunyi dalam hati dan tak bisa dideteksi melalui panca indra. Sehingga wajar bila ada orang shalih menyebutkan, "seandainya dosa itu bisa berupa aroma busuk yang menempel di jasad pelakunya, maka mungkin diriku akan berdiam diri di rumah, karena takut aroma busuk yang keluar dari jasadku akibat dosa-dosa yang aku lakukan mengganggu penciuman orang-orang disekitarku”.
Ironisnya, jalan dakwahpun masih sangat rentan terhadap niat-niat yang tidak sepatutnya membayangi setiap gerak dakwah. Karena sesungguhnya dakwah akan bermanfaat jika niatnya ikhlas untuk Allah dan hanya untuk kemaslahatan ummat dan mewujudkan peradaban Islam yang indah, lebih dari itu tidak.
Bayangkan jika yang ada di kepala para pelaku dakwah hanya nominal sejumlah angka-angka. Maka dakwahnya tak lebih berarti dari lembaran uang. Maka tak heran jika objek dakwahnya akan sulit menerima apa yang disampaikannya dan bahkan ketika detik terakhir salam untuk menyelesaikan dakwahnya, materi yang dipaparkan menguap entah kemana. Karena keberkahan ilmu salah satunya terletak dari niat yang terhujam tulus.
Jangan pernah khawatir atas niat ikhlas, karena Allah tak pernah menyia-nyiakan perbuatan baik seseorang. Bacalah sejarah tentang Ummu Sulaim, bagaimana keihlasan yang ia miliki atas kepergian seorang anak yang ia cintai mampu menggetarkan pintu langit dan berbalik mendapatkan keberkahan dari Allah berupa seratus anak dan cucu, tak tanggung-tanggung kesemuanya hafal al-Qur’an sejak usia belia.
Belum sampaikah kepada kita atau belum masuk daftar hafalan kitakah ayat Allah: “Barang siapa berbuat kebaikan maka Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik” (QS.An-Naml: 89) dan di ayat yang lain Allah berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Ya Rabbi, teguhkan keikhlasan pada kami, dalam berbuat, bertindak dan berjuang di jalan-Mu karena sesungguhnya yang paling baik adalah keberkahan dari Mu.
Ya Rabbi, jika tanpa sadar kami memunculkan niat yang ingkar, maka sucikan niat kami kembali, dan ingatkanlah kami akan balasan dari Mu, serta ampuni kami.

Malam itu seperti biasa, waktunya makan malam dan semua berkumpul bersama di ruang makan. Suasana kebahagian sebagai suatu keluarga terpancar dari keakraban di meja makan. Biasanya setelah selesai santap malam bersama tak lantas bubar melanjutkan kembali kegiatan masing-masing, namun masih terlibat obrolan-obrolan santai seputar aktifitas selama satu hari. Termasuk malam itu yang diawali obrolan singkat mengenai mengapa akhir-akhir ini PLN sering memadamkan lampu? Pompa air yang sedikit rusak sehingga lebih sering mengandalkan PDAM untuk mensuplai kebutuhan air keluarga, hingga berbagai obrolan mengenai aktifitas di sekolah tempat bunda mengajar, ada beberapa harga kebutuhan pokok yang mulai naik, yang kemudian dihubung-hubungkan dengan pilpres, sampai memprediksi capres dan cawapres mana yang akan berhasil menuju istana Negara.
Namun sedikit aneh memang, obrolan malam itu berubah menjadi perdebatan alot dan sedikit bersitegang. Temanya tentu saja bukan seputar politik yang sedang memanas menjelang pilpres 2009. Tetapi seputar politik di mana aku tinggal, buntut dari dilengserkannya pejabat public yang katanya didesak dan dijatuhkan warga dengan berbagai intrik akibat kesombongan dan kesewenang-wenangannya pada amanah yang diberikan warga kepadanya.
Berbagai fakta dilapangan mulai dibeberkan ayah dan bundaku dengan sangat lugas, bak jaksa penuntut umum yang sedang meyakinkan hakim yang terhormat untuk menuntut terdakwah dengan hukuman penjara seumur hidup. Berbagai bukti ditunjukkan, diperkuat beberapa statemen para saksi ahli tentang ketidak beresan terdakwah selama menjalankan amanahnya. Ekspresi muka dibuat sedemikian meyakinkan sehingga sulit membedakan antara seperti jaksa penuntut atau artis terkenal sekelas Luna Maya atau bahkan Dian Sastro. Aku diam seribu bahasa mendengarkan berbagai penjelasan, hati seakan mau berontak, namun masih bisa tertahankan. Namun ternyata hasrat ingin berpendapat tak mampu terpendam lagi, apalagi aroma fitnah mulai menyebar seantero ruangan makan sederhana ini. Dengan khitmat aku mulai bersuara.
“Bolehlah kalau ayah dengan tujuan amar ma’ruf nahi mungkar, menjalankan sunnah Rasul untuk membetulkan saudara seiman dan seagama, masihlah aku terima. Namun jika sudah ada gelagat ghibah, namimah atau bahkan fitnah, tampaknya aku yang mesti membetulkan perkataan ayah.” Sindirku dengan kata halus dan sangat pelan.
“Bukan maksud ayah dan bunda untuk ghibah, tapi itulah fakta dilapangan. Hidup ini bermasyarakat, oleh karena itu ikutlah aturan masyarakat.” Ayahku berkelit membela diri.
“Iya kak, tidak ada maksud Ayah untuk memfitnah. Semua itukan memang benar.” Tambah bundaku sambil membereskan meja makan.
“Nah itu, menjelek-jelekkan saudara, melebih-lebihkan kejadian sebenarnya, pake mengutip perkataan seseorang, yang kita tahu belum tentu benar, apakah bukan fitnah namanya. Kata Rasul aja engga boleh menceritakan aib seseorang biarpun itu benar apalagi yang belum tentu benar. Makan bangkai saudara kata Rasul itu yah.”
“Jadi kau bilang ayahmu ini makan bangkai saudara?” Tanya ayahku dengan sedikit emosi.
“Bukan begitu yah, itukan kata Rasul.”
“Inikan fakta dilapangan?” kelit ayahku
“Iya aku tau ini sebuah fakta yah, tapi kita juga harus obyektif memandang sesuatu, seolah kita hanya membicarakan keburukannya tanpa sedikitpun memandang kebaikan dan kebenaran yang pernah dilakukannya.”
“Ayah tahu itu, tapi bagaimana kalau kejadiannya memang begitu?”
“Sudah-sudah, ini kok malah ayah dan anak yang jadi bertengkar.” Potong bundaku sambil mengedipkan mata kearahku untuk mengalah dan segera menjauh dari meja makan.
--oOo--
Terkadang inilah yang terjadi, kita lebih banyak memandang keburukan orang lain tanpa menghiraukkan kebaikan seseorang walaupun itu sedikit. Kita lebih senang membicarakan aib orang lain daripada dengan kebesaran hati memandang kebenaran walau kadarnya sedikit. Tak mengherankan jika Rasullah menjadikan para penggunjing dan pengghibah seperti memakan bangkai saudara sendiri walaupun aib yang dibeberkan itu adalah benar. Bukan kebenaran ucapan yang dipermasalahkan Rasulullah sebenarnya, tetapi pembunuhan karakter seseorang yang lebih ditakutkan Rasulullah.
Dampak sesungguhnya yang terjadi adalah tersingkirnya orang yang digunjingkan dari aktifitas sosial, yang tentu saja akan memudarkan semangatnya untuk bermasyarakat, yang lebih parah adalah menurunnya ghirah seseorang untuk beribadah karena rasa malu yang tak tertahankan akibat perlakuan masyarakat.
Jika hal itu sudah terjadi, maka akan ada banyak peristiwa penggunjingan dimasyarakat, bayangkan jika itu membudaya, akan ada berapa banyak orang yang tersingkir dalam masyarakat, jika jumlahnya telah menjamur, lalu membentuk komunitas “orang-orang terbuang”, dan akhirnya merealisasikan dendam pada masyarakat, maka sudah dapat dipastikan akan lahirnya aktifitas-aktifitas “sampah masyarakat” yang berakibat fatal bagi stabilitas keamanan sosial masyarakat itu sendiri.
Memang butuh perenungan dan pemikiran yang mendalam tentang suatu hal, termasuk dalam kaitannya persaudaraan. Bukan tanpa alasan ketika Rasulullah mengikat persaudaraan antara kaum muhajirin dan anshar. Jelas untuk menghindari “konflik status” antara kaum muslim agar tetap dalam ukhuwah Islamiyah, karena Rasulullah menyadari di tengah-tengah mereka ada “kaum sampah” yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay yang memimpin kaum munafik dan bersekutu dengan “bangsa kera” dari suku Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir yang ada di Madinah untuk meporak-porandakan kesatuan ummat.
Maka simaklah apa yang disabdakan Rasulullah: “tidaklah beriman seseorang, sebelum ia mencintai saudaranya sebelum ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari Muslim). Dalam konteks ini jelas, seseorang tidak akan mungkin menghina atau bahkan mencaci maki dirinya, karena tabiatnya manusia mencintai dirinya sendiri. Sehingga Rasulullah menjelaskan dalam hadits ini bahwa mencintai saudara lebih utama dari mencintai diri sendiri. Karena dengan mencintai orang lain sangat erat dalam kaitannya membangun peradaban Islam atas dasar persaudaraan. Dan persaudaraan merupakan landasan keimanan, sebab banyak ritual ibadah wajib dilakukan secara bersama-sama.
Akhirnya, mampu mengakui kebaikan dan kebenaran seseorang walau sedikit memang tidaklah mudah. Butuh perenungan yang benar dan cerminan yang nyata dalam merealisasikannya. Namun, sangat mudah bagi orang-orang yang yakin bahwa dalam dirinya pun masih terdapat banyak kekurangan. Karena sejatinya bagi orang-orang yang tahu kekurangan dirinya, ia akan senantiasa sibuk memperbaiki diri tanpa ada waktu untuk mencari-cari kesalahan orang lain.

Hari semakin gerah, menunjukkan geliat cuaca yang tak bersahabat. Jalanan berdebu, dan kondisi macet membuat gerak kendaraan seperti merayap tak beraturan. Ditemani vespa hijau cedar yang kondisinya sedikit mengenaskan hampir mirip denganku akibat hilir-mudik, pontang-panting, kesana-kemari menemui pembimbing demi menyelesaikan tesisku.
Dalam perjalanan pulang dari kampus menuju rumah yang jaraknya lumayan jauh, mesin motor vespaku sedikit meraung-raung di tengah geliat kendaraan yang merayap mencari celah untuk sekedar maju selangkah demi selangkah. Antrian yang lumayan panjang menunggu lampu hijau menyala, diibaratkan seperti rombongan semut yang mengantri panjang mengangkut makanan untuk dibawa pulang, kemudian ditimbun untuk persediaan logistic yang konon kabarnya tumpukan makanan itu bisa sangat banyak sehingga melebihi batas umur mereka jika dipaksakan untuk dihabiskan.
Yang membedakan antrian manusia dengan semut hanya satu hal, yaitu tingkat kedisiplinan, lebih dari itu sama saja. Letak kesamaannya jelas, berjejer panjang dalam satu kesatuan arah. Letak perbedaannya pun juga cukup jelas, kedisiplinan untuk mengatur barisan agar rapi itu yang tidak dimiliki manusia – tentu saja terkhusus bagi bangsa Indonesia, karena tulisan ini kritik bagi anak Negeri – yang katanya menjadi makhluk paling beradab dan paling cerdas. Ironis memang tapi itulah kenyataannya.
Traffic light dari kejauhan memancarkan warna hijau, ini menjadikan kendaraan-kendaraan mengoper gigi, memacu gas, meliak-liuk mencari celah agar bisa menjadi yang terdepan. Terkadang bahkan menzolimi orang lain dengan menyerobot masuk dari sisi yang tidak terduga-duga. Belum lagi asap dari hasil pembakaran yang tidak sempurna mengepulkan asap kehitam-hitaman yang jika terhirup sudah dapat dipastikan, ia akan mengendap dan akan memiliki dampak terselubung bagi kesehatan kita dimasa yang akan datang. Akupun tak ketinggalan, mengatur kopling dan menyeimbangkan gas agar mampu berjalan tanpa masalah. Traffic light masih menyalakan warna hijau, tapi aku yakin tak berapa lama lagi ia akan berganti menjadi kuning.
Seolah satu pikiran denganku, pengemudi yang lain seakan berlomba agar tak jadi bagian dari pengantri selanjutnya. Bunyi kenalpot menderu-deru bak musik rock sedang menghentakkan panggung musik. Keras, cadas, noise tinggi, bergabung menjadi satu irama yang mampu memacu jantung sehingga berdegup kencang.
Tak mau ketinggalan aku coba menggeber gas vespaku sepanjang mungkin, sampai mentok berharap tak ikut antrian selanjutnya. Namun apa yang terjadi? Oups…, gawat lampu kuning menyala, motorku berjarak kira-kira dua meter lagi dari pembatas putih jalan. Karena yakin tak bakal mampu melewatinya, sedangkan lampu merah sudah pasti akan menyala sekian detik lagi. Perlahan aku oper gigi, gas diperkecil, kopling dimainkan dan akhirnya berhenti menjadi pengantri paling depan. Namun ketika belum berhenti secara sempurna terdengar suara kkrraaakkk yang begitu besar, aku menoleh kebelakang ingin menyaksikan apa yang terjadi? ternyata dari arah belakang dua motor saling bertabrakan. Satu penumpang terjungkir dari motor menghempaskan badannya di jalan dan yang mengendarai motor tersebut meringis kesakitan terjepit motornya sendiri. Sedangkan motor yang satunya masih bisa bertahan tanpa ada kerusakan yang berarti, hanya menyisakan plat kendaraan yang sedikit bengkok. Ternyata motor tersebut lari begitu kencang, tak sadar lampu segera berganti dengan kuning, berharap masih bisa melewati lampu kuning ia tancap gas, namun naas merasa tak bisa melewati ia menginjak rem, panik karena tahu remnya sedikit blong akhirnya menabrak motor di depannya.
--oOo—
Itulah sifat manusia, entah karena diciptakan sebagai makhluk yang sempurna dengan akal pikiran yang luar biasa sehingga mampu menghadirkan berbagai intuisi yang janggal. Entah karena memiliki kualitas perhitungan yang cerdas sehingga dengan congkak melupakan pelajaran dasar matematika berupa peluang. Dalam hal ini jelas peluang dalam memperhitungkan bisa atau tidaknya sesuatu dapat dilakukan. Sebenarnya tidak perlu rumus yang panjang atau bahkan melakukan perhitungan menggunakan simbol-simbol yang rumit, cukup melihat kondisi rill di lapangan kemudian dicermati dengan kondisi kita saat ini diperkirakan hasil perhitungannya pun dapat ditemukan.
Inilah bentuk pertarungan hati, disatu sisi kita ingin hasil yang terbaik, disisi yang lain kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Dalam lingkaran pertarungan hati jelas akan ada yang dipertaruhkan. Lebih memenangkan egoisme dalam tindakan atau lebih mengutamakan nurani sebagai instrumen keseharian kita. Dampaknya beragam, jika lebih memenangkan egoisme tentu saja kepuasan batin pribadi akan ditonjolkan, namun jangan salahkan jika pada akhirnya dalam strata sosial pun berubah. Masyarakat akan mengecap kita sebagai manusia yang tak mengenal rasa persaudaraan akibat rasa egois. Namun sebaliknya, jika lebih mengutamakan nurani, maka yang terjadi secara sosial kita akan diperhitungkan sebagai manusia beradab dengan segala kebaikan di dalamnya.
Semua pilihan tentu saja tergantung darimana kita melihatnya. Dari sisi kepuasan pribadi atau demi kemaslahatan orang banyak. Yang jelas pilihan ada dalam hati kita sendiri. Silahkan menentukan ingin memenangkan egoisme dalam diri atau lebih mengutamakan nurani dalam tingkah laku kita.

Banyak peristiwa yang dianggap sebagian besar manusia musibah dan penderitaan sebenarnya adalah buah dari kebahagiaan. Coba perhatikan, bagaimana tiram dengan kesakitan dan penderitaan yang sangat ketika mengolah pasir yang masuk dalam cangkangnya agar menjadi mutiara.
Coba saksikan bagaimana larva kupu-kupu dengan kepayahan dan usaha yang tak kenal lelah melewati kepompong agar dapat menjadi kupu-kupu yang indah. Coba bayangkan pula bagaimana ikan salmon berjuang melewati penderitaan dan cobaan yang menghadang hingga ia sampai ditempat dimana ia dilahirkan demi satu tujuan kerinduan pada kampung halaman dan meneruskan generasi mereka walaupun mereka sadar mereka akan segera mati.
Apakah tiram, kupu-kupu dan ikan salmon menyerah? Apakah mereka menangisi penderitaan mereka? Apakah mereka juga mundur hanya untuk terhindar dari penderitaan? Jawabannya TIDAK. Karena kodratnya, dari penderitaan berkembang menjadi kebahagiaan, dari duka menjelma suka dan sakit menjadi sehat. Seperti itupula jalan kehidupan manusia. Yang menjadi ukuran bukan waktu kapan ia berubah dari penderitaan menjadi kebahagiaan, tetapi proses hingga sekuat apa ia berusaha mengubah duka menjadi suka. Proses yang dengan perhitungan matang agar penderitaan yang dirasakan berbalik menjadi kebahagiaan.
Setiap perubahan ada caranya sendiri, dan setiap perputaran ada jalannya sendiri. Tinggal kita ingin sekedar berpangku tangan menunggu keajaiban atau sekuat tenaga menemukan jalannya agar perputaran nasib itu segera terjadi. Bukankah Al-Qur’an telah menggambarkan pernyataan Allah “…..sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum hingga mereka sendiri yang mengubahnya….”(QS. ar-Ra’d: 11)

Bermula dari keisengan sahabat lama yang mengirim pesan singkat, menanyakan kabar, kemudian berlanjut dengan agenda silaturrahim untuk bertemu dengan sahabat-sahabat yang lain. Bingung menentukan tempat yang pas untuk bertemu, akhirnya diputuskan untuk bertemu di rumah teman yang pernah sebangku denganku saat kelas tiga SMA. Awalnya biasa saja, lama-kelamaan mulai terbayang kisah lama di pelupuk mata, ada kisah yang menuai banyak pelajaran, ada kisah yang mendewasakan, ada kisah yang menyenangkan, namun tetap ada pula kisah-kisah kepiluan.
Ternyata, waktu mampu membalikkan semua persepsi, bagaimana tidak? Bayangkan saja betapa kagetnya ketika mengetahui teman yang pernah sebangku denganku saat ini di anugrahi Allah seorang bayi perempuan yang cantik berumur 2 bulan. Seorang sahabat yang dulu duduknya persis di depanku ternyata beberapa minggu yang lalu baru melahirkan seorang bayi laki-laki yang terlihat perkasa dengan berat badan yang menurutku luar biasa. Seorang sahabat yang dulu selalu berkeluh kesah denganku ternyata sedang mengagendakan sebuah pernikahan yang telah dipersiapkan secara matang. Belum lagi ada sahabatku yang berapa minggu nanti akan melangsungkan walimah di sebuah gedung mewah. Ada sahabat yang sedang mengandung anak pertama. Ada juga yang sedang menunggu kelahiran buah hatinya. Ada juga sahabatku yang sedang cemas menghitung hari karena istrinya diprediksi akan melahirkan dalam waktu dekat ini. Sedangkan aku, masih bergelanyut dengan kesibukan mengejar-ngejar dosen dan mencari-cari formulasi kata yang tepat untuk segera menyelesaikan tesisku dari bab ke bab. Ternyata waktu perlahan demi perlahan akan membuka tabir misteri perjalanan hidup setiap manusia.
-- oOo --
Waktu adalah nafas-nafas kehidupan yang dengan menjalaninya kita mengetahui seberapa jauh kita berjalan, seberapa banyak kita bernafas, seberapa luas kita menebar kebaikan.
Waktu adalah kesedihan bagi orang-orang yang menyia-nyiakannya, membenamkan diri dalam maksiat dan tak mempersiapkan diri untuk segera bertaubat meratapi kesalahan masa lalu, maka bagi mereka al-Qur’an menuliskan “…dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri…”. Namun waktu adalah kebahagiaan bagi orang-orang yang mentawaddhu’kan dirinya dalam ketaatan “….Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri.” (QS. Al Israa': 15).
Saudaraku, sadarkah kita bahwa Allah menciptakan waktu agar kita senantiasa berfikir, merenungi dan berhati-hati dalam menjalani waktu demi waktu agar kita tidak terjebak dalam kelamnya hari-hari kita.
Saudaraku, sadarkah bahwa kita lebih sering mengutamakan waktu yang sebentar dibanding waktu yang kekal. Kita lebih mempersiapkan diri untuk mulia di waktu yang sebentar dibanding menjadi mulia di waktu yang kekal. Menyibukkan diri di dalam waktu yang sementara di banding mempersiapkan diri untuk waktu yang panjang. Padahal Rasul pernah mengibaratkan kehidupan di dunia dan akhirat seperti perjalanan panjang, kemudian kita berteduh di bawah pohon, setelah itu bersiap kembali untuk memulai perjalanan. Tahukah kita bahwa dunia hanya sebatas rehat sejenak itu saudaraku, sedangkan akhirat adalah waktu-waktu yang panjang ketika kita berjalan. Waktu di dunia sangat singkat, hanya berapa nafas saja, hanya berapa langkah saja, bahkan waktu kita di dunia tak lebih dari impian kita yang terpendam, singkat sekali saudaraku.
Simaklah bagaimana waktu mampu menghadirkan sesuatu yang berbeda-beda kepada kita, terkadang ia ramah, namun tak jarang ia menjadi beringas. Ia ramah tatkala kita berada dalam jalur ketaatan, karena di saat itulah kita mampu bersabar. Namun waktu berubah menjadi beringas tatkala kita terjebak dalam kemaksiatan, karena disitulah saat kita rentan akan berbagai penyakit kedurhakaan.
Entah berapa banyak waktu yang telah kita habiskan dalam maksiat? Entah berapa banyak waktu yang kita gadaikan demi untuk sebuah kesenangan yang sebentar? Entah berapa banyak waktu yang kita lakukan untuk sebuah kedurhakaan? Sepertinya hanya dengan merenunginya kita akan tahu saudaraku di jalur mana kita sedang melangkah.(Ya Allah…, berikan keberkahan waktu pada kami).

Udara mulai menyesakkan dada, debu menyeruak masuk ke dalam bus kota yang aku tumpangi, yang dalam waktu singkat dengan cepat merusak jaringan indra penciuman. Kondisi bus yang tua menambah keadaan lebih buruk, karena bus mengepulkan asap pekat, menandakan pembakaran yang tidak sempurna akibat bus sering tidak dirawat. Batuk dan bersin mulai menyerang. Duduk di deretan bangku belakang menjadikan cuaca yang begitu gerah semakin menambah penderitaan, tak terhitung telah berapa kali tangan kananku menyeka peluh yang membanjiri muka, leher dan tengkuk. Padahal, waktu ketika itu kurang-lebih sudah menunjukkan pukul 4 sore. Logikanya, terik seharusnya meredup, cuaca semestinya tak semakin memburuk, dan udara bisa lebih bersahabat.
Begitu padat aktifitas pulang sehingga tak satupun bangku bus yang terlihat kosong. Bagi yang mengejar waktu untuk segera pulang, entah karena kangen keluarga di rumah, ada urusan mendesak atau karena rasa letih yang tak tertahankan hingga terlihat semua orang menampakkan wajah kecut, kurang bersahabat bahkan dengan tatapan tajam memandang sekitarnya dengan sinis. Lama-lama aku membayangkan kondisi social di negeri ini sebentar lagi sama dengan Negara-negara individualistis yang seakan bangga dengan budaya acuh tak acuhnya. Padahal kita menjadi bagian dari bangsa timur yang terkenal akan tata karma, sopan santun dan kesusilaan.
Satu persatu penumpang mulai memenuhi bus yang aku tumpangi. Akhirnya menjadi begitu padat hingga menambah gerahnya cuaca. Bagi yang tak mendapatkan bangku untuk duduk, berdiri adalah solusi alternatif yang bisa diambil. Dada semakin sesak, sesesak bus yang dipadati penumpang.
Tanpa sadar ada teriakan dalam hatiku “Ya Allah…segera berikan hamba oksigen”. Sementara mulut tak berhenti beristighfar, menahan sabar karena sedari tadi seorang penumpang bertubuh gempal yang berdiri disampingku bergerak-gerak semaunya tanpa etika, menggoyang-goyang tubuhnya kearahku seiring dengan perjalanan bus yang geraknya tak mantap.
Bus seketika berhenti mendadak, mataku tertuju pada sosok wanita tua renta yang mulai melangkah memasuki bus, sempat mengumpati supir dan kondektur dalam hati yang dengan tega masih mencari penumpang di tengah kondisi yang tak kondusif seperti ini. Apalagi setelah tau penumpangnya adalah seorang nenek-nenek. Disela-sela kepadatan penumpang sang nenek masuk perlahan menuju ketengah bus. Aku menunggu kira-kira siapa pahlawan yang dengan ikhlas berdiri untuk memberikan bangkunya pada sang nenek. Mataku mengintai semua penumpang yang terdekat, semua rata-rata penumpang yang duduk adalah orang tua, dan wanita. Namun mataku tertuju pada sesosok pria, yang dari hasil pantauan mataku umurnya tak lebih dari 25 tahunan. Sang nenek semakin mendekat, namun belum terlihat adanya gerakan untuk mempersilahkan sang nenek untuk duduk dibangkunya. Dan akhirnya peristiwa yang ditunggu-tunggu tak jua terjadi. Ingin rasanya memanggil sang nenek untuk duduk di bangkuku. Namun karena melihat jarak, tingkat kepadatan, dan posisi duduk yang tak begitu baik untuk sang nenek, akhirnya aku urungkan niatku. “maafkan aku nek, setidaknya malaikat telah mencatat niat baikku yang benar-benar tulus.”
----oOo----
Pikiran melayang, entah apa yang mampu membuat manusia begitu rela menjadikan rasa kemanusiaannya hilang. Mementingkan egoisme diri, keuntungan sesaat dan melupakan kebaikan. Inilah tabiat sesungguhnya manusia. Menginginkan dirinya ditolong, namun sulit untuk menolong orang lain. Butuh akan uluran tangan orang lain, namun sulit mengulurkan tangan untuk orang lain.
Padahal belum sampaikah ayat al-Qur’an kepada mereka, “mā lakum lā tana shorūn”. “mengapa kamu tidak tolong-menolong?” (QS. Ash Shaaffaat: 25). Memang berat menjadikan diri kita untuk senantiasa mampu membantu orang lain. Namun bagi orang-orang yang gemar menolong orang lain merekalah orang-orang yang disabdakan oleh Rasulullah, “alyadul ‘ulya khairun minal yadis sulfa”. “tangan di atas lebih baik dari tangan yang di bawah” (HR. Bukhari, Muslim).
Selangka itukah kebaikan di negeri ini? atau sebegitu sulitkah mencari orang yang dengan ikhlas memberi apa yang ia miliki untuk orang lain? Jika semua jawaban itu benar maka kita harus berhati-hati jangan-jangan kita termasuk juga golongan orang-orang tersebut.
Mudah-mudahan menjadi perenungan dan pembelajaran bagi kita semua. Semoga Allah menjadikan kita senantiasa berada pada jalan kebaikan. Kebaikan yang mengajarkan kepada kita untuk senantiasa memberikan kebaikan serupa pada orang lain. Kebaikan yang lekat dalam kehidupan kita. Kebaikan yang pada akhirnya membawa kita ke dalam naungan kebahagiaan abadi. InsyaAllah….

Tak ada yang menyangkal, bahwa negeri ini dihuni oleh penduduk yang mayoritas beragama Islam. Catatlah ini sebagai kesuksesan dakwah orang-orang terdahulu bagi bangsa ini, yang katanya salah satu kesuksesannya adalah karena asimilasi budaya.
Jika berbicara kuantitas, jelas tidak ada yang menandingi jumlah populasi ummat Islam di negeri ini. Namun jangan tanyakan kualitas, karena di negeri ini Islam lebih banyak dijadikan identitas saja. Jauh panggang dari api jika Islam menjadi landasan dasar bagi diri apalagi bagi bangsa yang katanya “besar” ini.
Mengatas namakan Islam namun praktiknya, ibadahnya, dan pergaulannya jauh dari nilai-nilai Islam. Ini menjadi renungan kita semua - terutama saya – bagi bangsa yang mayoritas penduduknya mengaku ummat Muhammad, namun pribadinya jauh menyimpang dari sunnahnya. Mengaku bertuhankan Allah SWT. namun dalam kesehariannya lebih banyak memilih menyekutukan Allah. Enggan percaya pada janji Allah, malahan lebih percaya syaitan dan antek-anteknya.
Coba simak! Berapa banyak masjid berdiri di negeri ini? Namun anehnya tetap kalah jumlah dengan tempat-tempat pemuja syaitan. Berapa banyak orang yang memakmurkan negeri? Yang pasti lebih banyak mendatangi kuburan, gunung-gunung, lembah-lembah, gua-gua, bukan untuk mentafakkuri kebesaran Allah, namun sebagai tempat menyekutukan Allah, mereka melakukan sesembahan dan melakukan i’tikaf dengan khusyu seakan sedang menjalankan ritual agama tingkat tinggi.
Kemusyrikan meraja lela dinegeri ini. Muncul pertanyaan, apakah mereka tidak tahu bentuk kemusyrikan? Jelas tahu, karena sejak lama para da’i menabuhkan genderang perang kepada kemusyrikan dan menjabarkan definisi dan praktik yang mengarah kepada kemusyrikan. Namun anehnya hanya karena alasan hasil dari asimilasi budaya praktik ini terus dipertahankan, bahkan disahkan oleh pemerintah sebagai cagar budaya yang harus dilindungi.
Apakah belum sampai ditelinga mereka, ketika al-Qur’an menjelaskan tentang “usaha” kemusyrikan mereka tidak akan membuahkan hasil dan hanya akan menjadi sia-sia belaka. Yang seharusnya mereka lakukan adalah hanya memohon kepada Allah dengan sekuat tenaga mereka. “lahu da’watul haqq”. “hanya kepada Allah do’a yang benar”. Tidak ada yang bisa menjamin sesuatu selain Allah, karena jika mereka meminta sesuatu kepada selain Allah maka sungguh akan sia-sia belaka. Lihat bagaimana al-Qur’an mengumpamakan mereka, “kabāsihi kafaihi ilal mā’i liyablugha lahu wamā huwa bibāligihī”. “seperti orang yang membuka kedua telapak tangannya ke dalam air, supaya sampai ke mulutnya. Padahal air itu tidak akan sampai kemulutnya”. Dan bagi mereka Allah memperingatkan “wamā du’ai al-kāfirīna illa fi dalālin”. “dan do’a orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka”.
Sesungguhnya kemusyrikan akan membawa kehancuran dan malapetaka, berapa banyak negeri-negeri yang Allah hancurkan karena kesyirikan. Dan kemusyrikan akan membawa kita kepada kesesatan yang nyata. Bagi orang-orang yang beriman dan percaya pada Allah, mereka berharap akan selalu senantiasa melangkah di jalan yang terang
Oleh: Amrullah Fikri al-Ghifari

Pikiran melayang membayangi sejarah masa lalu, berawal ketika membaca sebuah tulisan pada majalah Tarbawi. Dalam kolom Liqo’at yang bertajuk “Lebih dekat dengan keluarga pahlawan (Almarhum Mohammad Natsir dan Bung Tomo)”, tampak kerinduan yang mendalam dari masing-masing keluarga agar bangsa yang besar ini, bangsa yang beradab ini sejenak menengok kebelakang atas apa yang telah dilakukan oleh kedua pejuang ini. Bisa dipahami jika pada akhirnya muncul kegelisahan yang mendalam terhadap nasib kedua pejuang ini. Bukan saja mendapatkan perlakuan yang tidak biasa dari penguasa ketika itu – maupun sikap diskriminatif penguasa sesudahnya – tetapi masalah yang krusial adalah bagaimana kedua pejuang ini dihadapkan pada realita sejarah yang seolah tidak mencerminkan kondisi sebenarnya, atau minimal seharusnya dapat melihat kebenaran dari sudut pandang yang berbeda.
Namun tetap ada nilai pelajaran yang bisa dipetik. Sebenarnya, bagi siapapun itu baik ia seorang pahlawan, pejuang kemerdekaan maupun pengharum nama bangsa yang mereka berjuang dengan hati nurani, sejatinya perjuangan mereka bukanah untuk sebuah identitas, bukan pula untuk sebuah pengakuan tetapi lebih kepada perjuangan untuk mengubah kondisi atas keadaan yang ada. Pejuang kemerdekaan misalnya, mereka jelas berjuang untuk mengubah nasib bangsa dari keadaan terjajah menuju kebebasan sejati berupa kemerdekaan untuk menentukan nasibnya sendiri. Para pengharum nama bangsa pun sama, mereka berjuang untuk mengubah keadaan dari minim prestasi menuju kejayaan bangsa di depan dunia internasional.
Perjuangan yang sejati muncul dari jiwa yang suci untuk bangsa dan Negara bukan untuk kebanggaan pribadi, keberhasilan milik bersama bukan milik individual. Karena sebenarnya tanda jasa, tanda penghormatan, gelar pahlawan yang diberikan hanya sekedar manifestasi dari pemerintah agar para generasi penerus memiliki nama-nama putra bangsa yang dapat dibanggakan, dapat ditulis dalam sejarah Negara, serta bisa diingat sepanjang masa karena perjuangan mereka untuk bangsa ini. Toh kalau mau jujur masih banyak manusia-manusia luar biasa yang lahir dari rahim ibu pertiwi yang berjuang dengan sungguh-sungguh namun nama mereka tidak tergores sedikitpun dalam tinta emas sejarah indah bangsa ini, bahkan oleh anak keturunan mereka sekalipun.
Maka inilah sebuah pelajaran yang berharga bagi kita yang masih bisa membaca sejarah, yang masih bisa menyaksikan satu persatu anak bangsa ini dinobatkan dengan gelar pahlawan, bahwa terkadang perjuangan yang kita lakukan lebih kepada hanya untuk sebuah prestise pribadi. Sudah sepantasnya kita belajar kepada dua pahlawan ini – Mohammad Natsir dan Bung Tomo – dan pahlawan-pahlawan yang lain tentunya baik yang diberi gelar pahlawan maupun tidak, bahwa perjuangan harus diawali dari sebuah cita-cita luhur untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik, mengubah nasib bersama melalui langkah yang kita ambil. Mau tertulis oleh tinta sejarah maupun tidak biarlah itu urusan generasi selanjutnya, yang terpenting bagaimana agar nama kita dapat dicatat oleh Allah Sang Maha Mengetahui yang tersembunyi dan yang Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati kita. Karena Allah tidak akan menyia-nyiakan perbuatan baik seseorang selagi mereka tetap istiqomah menjaga keikhlasan dalam berjuang dan beramal.
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”
QS. An-Nahl : 128)
“Barang siapa yang berbuat kebaikan dan dia beriman, maka tidak akan diingkari usahanya dan kamilah yang akan mencatat untuknya.”
(QS. )

Banyak peristiwa yang dianggap sebagian besar manusia musibah dan penderitaan sebenarnya adalah cikal bakal dari kebahagiaan. Karena kodratnya, dari penderitaan berkembang menjadi kebahagiaan, dari duka menjelma suka, dari sakit menjadi sehat. Seperti itulah jalan kehidupan manusia. Yang menjadi ukuran bukan waktu kapan ia mampu mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan, tetapi proses sekuat apa ia berusaha mengubah duka menjadi suka. Setiap perubahan ada caranya sendiri, dan setiap perputaran ada jalannya sendiri. Tinggal kita ingin hanya sekedar berpangku tangan menunggu keajaiban datang atau berusaha sekuat tenaga menemukan jalan agar perputaran itu segera terjadi. Bukankah Allah menenangkan kita dengan ayat “Fainna ma’al‘usri yusraa.” “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,” (QS. Alam Nasyrah: 5). Dan bagi orang-orang yang bertakwa “maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.”(QS. Al-Lail: 7). Serta ingatlah baik-baik apa yang pernah disampaikan Rasulullah, “sungguh mengagumkan orang yang beriman itu, jika mendapat musibah mereka bersabar dan ketika mendapat nikmat mereka bersyukur”. Jadikan itu sebagai indikasi bahwa kita siap mengalami setiap perputaran kehidupan yang akan terjadi pada kita saudaraku.
Perjalanan hidup kita akan selalu banyak warna, tidak senantiasa putih, terkadang hitam atau bahkan abu-abu. Orang yang beruntung adalah ketika hatinya berada di wilayah abu-abu atau bahkan hitam ia berharap dan sekuat tenaga mengupayakan hatinya untuk menjadi putih. Dalam keimanan pun manusia terkadang dihadapkan dengan dua karakter yang berbeda. Yang pertama, tentu saja karakter keimanan yang menanjak dan bertahan pada tingkat ketakwaan yang tinggi. Sedangkan yang kedua, karakter keimanan lemah yang cenderung menghantarkan manusia menjadi jumud dan statis dalam ketakwaan. Namun semua itu wajar, bahkan Rasulullah pun menegaskan bahwa perkara keimanan terkadang naik dan tak jarang juga menjadi lemah. Tergantung kepada kita ingin bersegera kembali dalam kekuatan iman ketika lemah, atau menikmati dan akhirnya tenggelam dalam likuan maksiat yang siap menghadang dan menerjang.
Berharaplah ada keringanan dan senantiasa meneguk nikmatnya hidayah ketika khilaf muncul dari arah yang tidak kita duga. Atau bahkan bersiap dengan taubat yang sungguh-sungguh ketika syaitan mampu memperdaya ketika kita lengah. Dan yakinkan diri kita bahwa Allah adalah pelindung yang akan senantiasa melindungi kita saudaraku karena sesungguhnya “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”(QS. Yunus: 62-64)



