Hari semakin gerah, menunjukkan geliat cuaca yang tak bersahabat. Jalanan berdebu, dan kondisi macet membuat gerak kendaraan seperti merayap tak beraturan. Ditemani vespa hijau cedar yang kondisinya sedikit mengenaskan hampir mirip denganku akibat hilir-mudik, pontang-panting, kesana-kemari menemui pembimbing demi menyelesaikan tesisku.

Dalam perjalanan pulang dari kampus menuju rumah yang jaraknya lumayan jauh, mesin motor vespaku sedikit meraung-raung di tengah geliat kendaraan yang merayap mencari celah untuk sekedar maju selangkah demi selangkah. Antrian yang lumayan panjang menunggu lampu hijau menyala, diibaratkan seperti rombongan semut yang mengantri panjang mengangkut makanan untuk dibawa pulang, kemudian ditimbun untuk persediaan logistic yang konon kabarnya tumpukan makanan itu bisa sangat banyak sehingga melebihi batas umur mereka jika dipaksakan untuk dihabiskan.

Yang membedakan antrian manusia dengan semut hanya satu hal, yaitu tingkat kedisiplinan, lebih dari itu sama saja. Letak kesamaannya jelas, berjejer panjang dalam satu kesatuan arah. Letak perbedaannya pun juga cukup jelas, kedisiplinan untuk mengatur barisan agar rapi itu yang tidak dimiliki manusia – tentu saja terkhusus bagi bangsa Indonesia, karena tulisan ini kritik bagi anak Negeri – yang katanya menjadi makhluk paling beradab dan paling cerdas. Ironis memang tapi itulah kenyataannya.

Traffic light dari kejauhan memancarkan warna hijau, ini menjadikan kendaraan-kendaraan mengoper gigi, memacu gas, meliak-liuk mencari celah agar bisa menjadi yang terdepan. Terkadang bahkan menzolimi orang lain dengan menyerobot masuk dari sisi yang tidak terduga-duga. Belum lagi asap dari hasil pembakaran yang tidak sempurna mengepulkan asap kehitam-hitaman yang jika terhirup sudah dapat dipastikan, ia akan mengendap dan akan memiliki dampak terselubung bagi kesehatan kita dimasa yang akan datang. Akupun tak ketinggalan, mengatur kopling dan menyeimbangkan gas agar mampu berjalan tanpa masalah. Traffic light masih menyalakan warna hijau, tapi aku yakin tak berapa lama lagi ia akan berganti menjadi kuning.

Seolah satu pikiran denganku, pengemudi yang lain seakan berlomba agar tak jadi bagian dari pengantri selanjutnya. Bunyi kenalpot menderu-deru bak musik rock sedang menghentakkan panggung musik. Keras, cadas, noise tinggi, bergabung menjadi satu irama yang mampu memacu jantung sehingga berdegup kencang.

Tak mau ketinggalan aku coba menggeber gas vespaku sepanjang mungkin, sampai mentok berharap tak ikut antrian selanjutnya. Namun apa yang terjadi? Oups…, gawat lampu kuning menyala, motorku berjarak kira-kira dua meter lagi dari pembatas putih jalan. Karena yakin tak bakal mampu melewatinya, sedangkan lampu merah sudah pasti akan menyala sekian detik lagi. Perlahan aku oper gigi, gas diperkecil, kopling dimainkan dan akhirnya berhenti menjadi pengantri paling depan. Namun ketika belum berhenti secara sempurna terdengar suara kkrraaakkk yang begitu besar, aku menoleh kebelakang ingin menyaksikan apa yang terjadi? ternyata dari arah belakang dua motor saling bertabrakan. Satu penumpang terjungkir dari motor menghempaskan badannya di jalan dan yang mengendarai motor tersebut meringis kesakitan terjepit motornya sendiri. Sedangkan motor yang satunya masih bisa bertahan tanpa ada kerusakan yang berarti, hanya menyisakan plat kendaraan yang sedikit bengkok. Ternyata motor tersebut lari begitu kencang, tak sadar lampu segera berganti dengan kuning, berharap masih bisa melewati lampu kuning ia tancap gas, namun naas merasa tak bisa melewati ia menginjak rem, panik karena tahu remnya sedikit blong akhirnya menabrak motor di depannya.

--oOo—

Itulah sifat manusia, entah karena diciptakan sebagai makhluk yang sempurna dengan akal pikiran yang luar biasa sehingga mampu menghadirkan berbagai intuisi yang janggal. Entah karena memiliki kualitas perhitungan yang cerdas sehingga dengan congkak melupakan pelajaran dasar matematika berupa peluang. Dalam hal ini jelas peluang dalam memperhitungkan bisa atau tidaknya sesuatu dapat dilakukan. Sebenarnya tidak perlu rumus yang panjang atau bahkan melakukan perhitungan menggunakan simbol-simbol yang rumit, cukup melihat kondisi rill di lapangan kemudian dicermati dengan kondisi kita saat ini diperkirakan hasil perhitungannya pun dapat ditemukan.

Inilah bentuk pertarungan hati, disatu sisi kita ingin hasil yang terbaik, disisi yang lain kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Dalam lingkaran pertarungan hati jelas akan ada yang dipertaruhkan. Lebih memenangkan egoisme dalam tindakan atau lebih mengutamakan nurani sebagai instrumen keseharian kita. Dampaknya beragam, jika lebih memenangkan egoisme tentu saja kepuasan batin pribadi akan ditonjolkan, namun jangan salahkan jika pada akhirnya dalam strata sosial pun berubah. Masyarakat akan mengecap kita sebagai manusia yang tak mengenal rasa persaudaraan akibat rasa egois. Namun sebaliknya, jika lebih mengutamakan nurani, maka yang terjadi secara sosial kita akan diperhitungkan sebagai manusia beradab dengan segala kebaikan di dalamnya.

Semua pilihan tentu saja tergantung darimana kita melihatnya. Dari sisi kepuasan pribadi atau demi kemaslahatan orang banyak. Yang jelas pilihan ada dalam hati kita sendiri. Silahkan menentukan ingin memenangkan egoisme dalam diri atau lebih mengutamakan nurani dalam tingkah laku kita.

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Terlahir dari keluarga Moslem yang taat dan dilahirkan dengan nama lengkap Amrullah Fikri serta memiliki nama hijrah Al-Ghifari yang mengambil nama salah satu sahabat Rasul yang Ruarrrr Biasaaa. Menjadi wali Allah didunia (InsyaAllah),Ahli Ibadah,Ahli Syukur,Ahli Sedekah,Ahli Sabar,berakhlak mulia,Ahli Ilmu,punya kerajaan di syurga yang tertinggi dan menjadi salah satu anggota majelis Rasul di Syurga menjadi tujuan hidupku.(Amin.....), Aku Makhluk yang lemah,Manusia biasa yg Bercita2,yang gemar belajar dari kesalahan+pengalaman,bersahabat dengan siapa saja(kecuali mahluk halus), menyukai tantangan, petualangan, kebebasan, resiko, perjalanan, ketidak pastian, kemandirian, keindahan, ketidaknyamanan, dll. Cinta Alloh+Rasul-Nya,Cinta Orang2 Sholeh,cinta kebenaran,cinta akhirat,cinta anak2,cinta orang tua,cinta saudara,cinta wanita+anak-anak,cinta akhwat(khusus yang menjadi istriku kelak)^_^ !! hidup berdasarkan Al-Quran danSunah2 shoheh (InsyaAllah),keinginan, impian dan cita-cita. Mengharapkan Khusnul Khatimah, mengharapkan Syurga, mengharapkan perjumpaan dgn Alloh+Rasul-Nya.

Blog apa ini?

sebuah blog yang dibuat tujuannya untuk belajar merefleksikan sebuah renungan. Kadang berupa kesedihan, kadang sebuah kesyukuran, kadang juga sekedar curhatan, tak jarang pula merefleksikan sebuah ide agar tidak hilang dan sekedar menjadi sampah di kepala. Yang jelas agar kita (saya pribadi tentunya) senantiasa menjadi Generasi Muslim Pembelajar. Yang senantiasa belajar dari banyak hal - terutama dari agama Islam yang sangat Indah - agar hidup menjadi bermakna.

Pesan Ruhiyah

"Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS. Ali-'Imran : 153)

label

Jam Berapa Ya?

Ngobrol Yuk


ShoutMix chat widget

Numpang Nebeng

Numpang Nebeng

Pengikut