
Pikiran melayang membayangi sejarah masa lalu, berawal ketika membaca sebuah tulisan pada majalah Tarbawi. Dalam kolom Liqo’at yang bertajuk “Lebih dekat dengan keluarga pahlawan (Almarhum Mohammad Natsir dan Bung Tomo)”, tampak kerinduan yang mendalam dari masing-masing keluarga agar bangsa yang besar ini, bangsa yang beradab ini sejenak menengok kebelakang atas apa yang telah dilakukan oleh kedua pejuang ini. Bisa dipahami jika pada akhirnya muncul kegelisahan yang mendalam terhadap nasib kedua pejuang ini. Bukan saja mendapatkan perlakuan yang tidak biasa dari penguasa ketika itu – maupun sikap diskriminatif penguasa sesudahnya – tetapi masalah yang krusial adalah bagaimana kedua pejuang ini dihadapkan pada realita sejarah yang seolah tidak mencerminkan kondisi sebenarnya, atau minimal seharusnya dapat melihat kebenaran dari sudut pandang yang berbeda.
Namun tetap ada nilai pelajaran yang bisa dipetik. Sebenarnya, bagi siapapun itu baik ia seorang pahlawan, pejuang kemerdekaan maupun pengharum nama bangsa yang mereka berjuang dengan hati nurani, sejatinya perjuangan mereka bukanah untuk sebuah identitas, bukan pula untuk sebuah pengakuan tetapi lebih kepada perjuangan untuk mengubah kondisi atas keadaan yang ada. Pejuang kemerdekaan misalnya, mereka jelas berjuang untuk mengubah nasib bangsa dari keadaan terjajah menuju kebebasan sejati berupa kemerdekaan untuk menentukan nasibnya sendiri. Para pengharum nama bangsa pun sama, mereka berjuang untuk mengubah keadaan dari minim prestasi menuju kejayaan bangsa di depan dunia internasional.
Perjuangan yang sejati muncul dari jiwa yang suci untuk bangsa dan Negara bukan untuk kebanggaan pribadi, keberhasilan milik bersama bukan milik individual. Karena sebenarnya tanda jasa, tanda penghormatan, gelar pahlawan yang diberikan hanya sekedar manifestasi dari pemerintah agar para generasi penerus memiliki nama-nama putra bangsa yang dapat dibanggakan, dapat ditulis dalam sejarah Negara, serta bisa diingat sepanjang masa karena perjuangan mereka untuk bangsa ini. Toh kalau mau jujur masih banyak manusia-manusia luar biasa yang lahir dari rahim ibu pertiwi yang berjuang dengan sungguh-sungguh namun nama mereka tidak tergores sedikitpun dalam tinta emas sejarah indah bangsa ini, bahkan oleh anak keturunan mereka sekalipun.
Maka inilah sebuah pelajaran yang berharga bagi kita yang masih bisa membaca sejarah, yang masih bisa menyaksikan satu persatu anak bangsa ini dinobatkan dengan gelar pahlawan, bahwa terkadang perjuangan yang kita lakukan lebih kepada hanya untuk sebuah prestise pribadi. Sudah sepantasnya kita belajar kepada dua pahlawan ini – Mohammad Natsir dan Bung Tomo – dan pahlawan-pahlawan yang lain tentunya baik yang diberi gelar pahlawan maupun tidak, bahwa perjuangan harus diawali dari sebuah cita-cita luhur untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik, mengubah nasib bersama melalui langkah yang kita ambil. Mau tertulis oleh tinta sejarah maupun tidak biarlah itu urusan generasi selanjutnya, yang terpenting bagaimana agar nama kita dapat dicatat oleh Allah Sang Maha Mengetahui yang tersembunyi dan yang Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati kita. Karena Allah tidak akan menyia-nyiakan perbuatan baik seseorang selagi mereka tetap istiqomah menjaga keikhlasan dalam berjuang dan beramal.
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”
QS. An-Nahl : 128)
“Barang siapa yang berbuat kebaikan dan dia beriman, maka tidak akan diingkari usahanya dan kamilah yang akan mencatat untuknya.”
(QS. )



1 komentar:
i like much read history
tentang islam tentu nya (yang di tulis muslim bukan orientalis ya)
bikin aku pengen jingkrak2 karena seneng, bangga, pengen ikut jadi bagian ah tak terkata kan dah
aku punya buku sejarah dari (alm) ayah mertua (semoga ALLAH menerima amal dan mengampuni dosa nya dan selalu menyayangi nya) isi nya kerennnn.
i love islam
Posting Komentar