
Tak ada yang menyangkal, bahwa negeri ini dihuni oleh penduduk yang mayoritas beragama Islam. Catatlah ini sebagai kesuksesan dakwah orang-orang terdahulu bagi bangsa ini, yang katanya salah satu kesuksesannya adalah karena asimilasi budaya.
Jika berbicara kuantitas, jelas tidak ada yang menandingi jumlah populasi ummat Islam di negeri ini. Namun jangan tanyakan kualitas, karena di negeri ini Islam lebih banyak dijadikan identitas saja. Jauh panggang dari api jika Islam menjadi landasan dasar bagi diri apalagi bagi bangsa yang katanya “besar” ini.
Mengatas namakan Islam namun praktiknya, ibadahnya, dan pergaulannya jauh dari nilai-nilai Islam. Ini menjadi renungan kita semua - terutama saya – bagi bangsa yang mayoritas penduduknya mengaku ummat Muhammad, namun pribadinya jauh menyimpang dari sunnahnya. Mengaku bertuhankan Allah SWT. namun dalam kesehariannya lebih banyak memilih menyekutukan Allah. Enggan percaya pada janji Allah, malahan lebih percaya syaitan dan antek-anteknya.
Coba simak! Berapa banyak masjid berdiri di negeri ini? Namun anehnya tetap kalah jumlah dengan tempat-tempat pemuja syaitan. Berapa banyak orang yang memakmurkan negeri? Yang pasti lebih banyak mendatangi kuburan, gunung-gunung, lembah-lembah, gua-gua, bukan untuk mentafakkuri kebesaran Allah, namun sebagai tempat menyekutukan Allah, mereka melakukan sesembahan dan melakukan i’tikaf dengan khusyu seakan sedang menjalankan ritual agama tingkat tinggi.
Kemusyrikan meraja lela dinegeri ini. Muncul pertanyaan, apakah mereka tidak tahu bentuk kemusyrikan? Jelas tahu, karena sejak lama para da’i menabuhkan genderang perang kepada kemusyrikan dan menjabarkan definisi dan praktik yang mengarah kepada kemusyrikan. Namun anehnya hanya karena alasan hasil dari asimilasi budaya praktik ini terus dipertahankan, bahkan disahkan oleh pemerintah sebagai cagar budaya yang harus dilindungi.
Apakah belum sampai ditelinga mereka, ketika al-Qur’an menjelaskan tentang “usaha” kemusyrikan mereka tidak akan membuahkan hasil dan hanya akan menjadi sia-sia belaka. Yang seharusnya mereka lakukan adalah hanya memohon kepada Allah dengan sekuat tenaga mereka. “lahu da’watul haqq”. “hanya kepada Allah do’a yang benar”. Tidak ada yang bisa menjamin sesuatu selain Allah, karena jika mereka meminta sesuatu kepada selain Allah maka sungguh akan sia-sia belaka. Lihat bagaimana al-Qur’an mengumpamakan mereka, “kabāsihi kafaihi ilal mā’i liyablugha lahu wamā huwa bibāligihī”. “seperti orang yang membuka kedua telapak tangannya ke dalam air, supaya sampai ke mulutnya. Padahal air itu tidak akan sampai kemulutnya”. Dan bagi mereka Allah memperingatkan “wamā du’ai al-kāfirīna illa fi dalālin”. “dan do’a orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka”.
Sesungguhnya kemusyrikan akan membawa kehancuran dan malapetaka, berapa banyak negeri-negeri yang Allah hancurkan karena kesyirikan. Dan kemusyrikan akan membawa kita kepada kesesatan yang nyata. Bagi orang-orang yang beriman dan percaya pada Allah, mereka berharap akan selalu senantiasa melangkah di jalan yang terang
Oleh: Amrullah Fikri al-Ghifari
Label:
renungan



0 komentar:
Posting Komentar