Berawal ketika mengisi materi pada sebuah wadah dakwah yang titik fokus kegiatannya adalah sebagai ujung tombak pelaksanaan kegiatan-kegitan sebuah lembaga zakat. Ketika itu materi yang diminta adalah komunikasi efektif. Sebelumnya memang telah lama diminta untuk menyempatkan waktu agar bisa mengisi dalam pelatihan yang rutin diadakan bagi relawan. Kebetulan saya juga termasuk relawan angkatan ke-2 yang tentu saja memiliki ikatan emosional walaupun akhir-akhir ini sudah jarang atau bahkan bisa dikatakan tidak pernah lagi berhubungan dengan aktifitas kerelawanan seperti beberapa tahun yang lalu. Mungkin kesibukan mempengaruhi, namun faktor utamanya adalah sudah jarang dihubungi lagi dan jarang dimintai pendapat atas kegiatan-kegiatan kerelawanan.

Ada perasaan keterasingan ketika berada di lingkungan tersebut, ada wajah-wajah baru, hanya sedikit wajah-wajah lama yang dikenal itupun tak begitu dekat. Perasaannya malah seperti orang lain. Ruh yang muncul diawal bahwa saya akan bertemu keluarga menguap entah kemana. Ada sebuah perasaan “jarak tebal” antara saya dengan mereka, yang sebenarnya dibesarkan dalam ghirah yang sama.

Sebelum materi dimulai, sembari menunggu peserta pelatihan yang lain, saya memperhatikan dengan seksama aktifitas-aktifitas mereka. Tampaknya akan ada kegiatan lain setelah selesai materi saya, namun entah kegiatan apa itu? Ada keanehan yang muncul dalam penglihatan saya, sebuah kondisi yang berbeda dengan beberapa tahun yang lalu.

Dulu ketika intensitas pergaulan antara ikhwan dan akhwat hanya terbatas dalam kegiatan di lapangan, kini pergaulannya melebar dalam komunikasi-komunikasi tak terbatas dalam ruangan. Seakan hilang entah kemana hijab antara keduanya. Tutur bahasa yang tak teratur, sehingga banyak lelucon mengalir deras dari lisan membuat sesama mereka terpingkal-pingkal. Ada ikhwan yang secara frontal mengejek seorang akhwat lalu kemudian tanpa risih sanga akhwat membalas dengan cara yang tak bijak, lalu seketika gegap gempita disambut tawa semua yang hadir diruangan tersebut.

Berbeda ketika beberapa tahun yang lalu, ketika apapun namanya, intensitas akhwat dan ikhwan tetap terjaga dengan batas-batas yang ideal. Hijab masih dipergunakan sehingga tak heran ketika itu seorang ikhwan dan akhwat masih bisa menjaga pandangan mereka.

Yang terdengar ketika syuro dan pengisian materi rutin hanya suara, selebih itu tidak. Begitupun ketika pelaksanaan kegiatan dilapangan. Intensitas hubungan pun hanya terbatas dalam hal koordinasi selebihnya bergerak sendiri-sendiri sesuai amanah, bilapun mesti berkomunikasi dengan lawan jenis tentu saja dengan jarak dan pandangan mata yang terjaga.

Kondisi ini kini tak lagi dapat dirasakan, beberapa orang yang dulu istiqamah berjuang, satu-persatu pergi dan mendapatkan amanah dakwah di tempat yang lain. Karena memang amanah dakwah tak hanya pada satu tempat. Hingga membuat semangat yang dulu perlahan demi perlahan memudar. Kini semua terasa gersang, tak ada lagi hal-hal yang mampu menyemangati diri untuk menjadi lebih baik, yang ada hanyalah hal-hal yang bisa mengeraskan hati.

Kemana semangat dakwah yang dulu terjaga dan tertanam dalam setiap kadernya? Yang ada hanyalah menghitung sejumlah angka-angka nominal di kepala setelah berjuang – itupun jika masih ingin di katakan sebagai sebuah perjuangan – Kini nilai amal kalah dengan sejumlah uang yang tak seberapa. Tak ada lagi keihlasan, kalaupun ada yang tersisa hanyalah segelintir pasir ditangah padang sahara seluas mata memandang. Sedikit, tipis, atau bahkan tak terlihat.

--oOo--

Inilah yang seringkali ditakutkan oleh orang-orang terdahulu, tak ada yang bisa memastikan semangat yang sama bisa menular dan bertahan sekian lama pada kader-kadernya. Yang ada hanya keterkikisan nilai yang semakin lama semakin memudarkan apa yang telah lama dirumuskan.

Bayangkan jika tidak ada warisan dari Rasulullah yang masih bisa kita terima dan kita lihat dari sunnah-sunnah shahih beliau. Atau jika tidak ada para shalafus shalih yang mencatat dan membuahkan berbagai karya-karya fenomenalnya mungkin saat ini, kita menjalankan ibadah sangat jauh melenceng dari kaidah sesungguhnya. Berislam namun entah berislam cara yang mana? Mengikuti sunnah atau bahkan ingkar sunnah.

Bayangkan jika riwayat para pejuang tanah air kita tak tertulis dalam catatan tinta sejarang bangsa, mungkin saat ini para penerus bangsa mengerenyitkan dahi ketika ditanya siapa Imam Bonjol? Siapa Pangeran Diponogoro? Apa yang dilakukan Cut Nyak Dien di Aceh? Strategi perang seperti apa yang dipakai oleh Hasanuddin di Makasar? Jelasnya tak ada yang bisa menceritakan dengan pasti apa yang mereka perjuangkan.

Akan selalu ada yang tersingkir dari media dakwah. Faktornya bisa karena dua hal. Pertama, tersingkir karena tantangan dakwah yang begitu berat sehingga merasa diri tidak mampu melangkah lebih jauh di jalan dakwah. Lama-kelamaan perasaan ini menyebar mengotori hati, dan pada akhirnya mengangkat tangan dan melambai dengan pasrah sambil berkata “selamat tinggal dakwah”. Kedua, media dakwah yang tak begitu kondusif lagi dengan fikrah seseorang. Ketika ia melihat ketidak nyamanan berupa pengingkaran terhadap batas-batas risalah yang telah ada. Memudarnya ghirah, keterkikisan makna dakwah disetiap kadernya. Dan melunturkan tujuan yang telah ditetapkan di awal. Ketika ucapan dan tangan mereka tak mampu mengembalikan kembali makna sesungguhnya dalam media dakwah tersebut. seketika itu juga mereka mengepalkan tangan mereka sambil berteriak “Allahuakbar….Ya Rabbi tunjukkan padaku jalan dakwah mana yang bisa membuatku lebih mencintai-Mu dan Engkau lebih mencintaiku”.

Saudaraku ingatlah baik-baik, ”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS Fushilat ayat 33). Dakwah memang berat, dakwah tidaklah mudah, dan dakwah senantiasa dikelilingi dengan sesuatu hal yang mampu membuat mata kita menangis atau bahkan bersedih. Namun bagi orang-orang yang tetap ingin berada di jalan dakwah, mereka itulah orang-orang yang paling baik.

Dan jika engkau menemukan keterkikisan dalam media dakwah janganlah bersedih hati. Rasulullah mengingatkan kepada kita, “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya. Yang demikian itu merupakan selemah-lemah iman.”

Ingatlah dakwah akan terus berkembang, karena Allah pasti akan melindungi agamanya dengan tangan orang-orang yang mujahadah. Jika ada satu yang mundur, maka Allah pasti akan menggantikan dengan generasi yang lebih baik dari mereka.

Ya Rabbi…., jadikan kami hamba-Mu yang istiqamah dan mujahadah di jalan dakwah-Mu. Dan jangan Engkau palingkan kami dari jalan-Mu yang indah ini. Dan wafatkan kami dalam keadaan benar-benar mencintai-Mu…..

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Terlahir dari keluarga Moslem yang taat dan dilahirkan dengan nama lengkap Amrullah Fikri serta memiliki nama hijrah Al-Ghifari yang mengambil nama salah satu sahabat Rasul yang Ruarrrr Biasaaa. Menjadi wali Allah didunia (InsyaAllah),Ahli Ibadah,Ahli Syukur,Ahli Sedekah,Ahli Sabar,berakhlak mulia,Ahli Ilmu,punya kerajaan di syurga yang tertinggi dan menjadi salah satu anggota majelis Rasul di Syurga menjadi tujuan hidupku.(Amin.....), Aku Makhluk yang lemah,Manusia biasa yg Bercita2,yang gemar belajar dari kesalahan+pengalaman,bersahabat dengan siapa saja(kecuali mahluk halus), menyukai tantangan, petualangan, kebebasan, resiko, perjalanan, ketidak pastian, kemandirian, keindahan, ketidaknyamanan, dll. Cinta Alloh+Rasul-Nya,Cinta Orang2 Sholeh,cinta kebenaran,cinta akhirat,cinta anak2,cinta orang tua,cinta saudara,cinta wanita+anak-anak,cinta akhwat(khusus yang menjadi istriku kelak)^_^ !! hidup berdasarkan Al-Quran danSunah2 shoheh (InsyaAllah),keinginan, impian dan cita-cita. Mengharapkan Khusnul Khatimah, mengharapkan Syurga, mengharapkan perjumpaan dgn Alloh+Rasul-Nya.

Blog apa ini?

sebuah blog yang dibuat tujuannya untuk belajar merefleksikan sebuah renungan. Kadang berupa kesedihan, kadang sebuah kesyukuran, kadang juga sekedar curhatan, tak jarang pula merefleksikan sebuah ide agar tidak hilang dan sekedar menjadi sampah di kepala. Yang jelas agar kita (saya pribadi tentunya) senantiasa menjadi Generasi Muslim Pembelajar. Yang senantiasa belajar dari banyak hal - terutama dari agama Islam yang sangat Indah - agar hidup menjadi bermakna.

Pesan Ruhiyah

"Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS. Ali-'Imran : 153)

label

Jam Berapa Ya?

Ngobrol Yuk


ShoutMix chat widget

Numpang Nebeng

Numpang Nebeng

Pengikut