
Banyak peristiwa yang dianggap sebagian besar manusia musibah dan penderitaan sebenarnya adalah buah dari kebahagiaan. Coba perhatikan, bagaimana tiram dengan kesakitan dan penderitaan yang sangat ketika mengolah pasir yang masuk dalam cangkangnya agar menjadi mutiara.
Coba saksikan bagaimana larva kupu-kupu dengan kepayahan dan usaha yang tak kenal lelah melewati kepompong agar dapat menjadi kupu-kupu yang indah. Coba bayangkan pula bagaimana ikan salmon berjuang melewati penderitaan dan cobaan yang menghadang hingga ia sampai ditempat dimana ia dilahirkan demi satu tujuan kerinduan pada kampung halaman dan meneruskan generasi mereka walaupun mereka sadar mereka akan segera mati.
Apakah tiram, kupu-kupu dan ikan salmon menyerah? Apakah mereka menangisi penderitaan mereka? Apakah mereka juga mundur hanya untuk terhindar dari penderitaan? Jawabannya TIDAK. Karena kodratnya, dari penderitaan berkembang menjadi kebahagiaan, dari duka menjelma suka dan sakit menjadi sehat. Seperti itupula jalan kehidupan manusia. Yang menjadi ukuran bukan waktu kapan ia berubah dari penderitaan menjadi kebahagiaan, tetapi proses hingga sekuat apa ia berusaha mengubah duka menjadi suka. Proses yang dengan perhitungan matang agar penderitaan yang dirasakan berbalik menjadi kebahagiaan.
Setiap perubahan ada caranya sendiri, dan setiap perputaran ada jalannya sendiri. Tinggal kita ingin sekedar berpangku tangan menunggu keajaiban atau sekuat tenaga menemukan jalannya agar perputaran nasib itu segera terjadi. Bukankah Al-Qur’an telah menggambarkan pernyataan Allah “…..sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum hingga mereka sendiri yang mengubahnya….”(QS. ar-Ra’d: 11)



0 komentar:
Posting Komentar