Perjalanan hidup kita akan selalu banyak warna, tidak senantiasa putih, terkadang hitam atau bahkan abu-abu. Orang yang beruntung adalah ketika hatinya berada di wilayah abu-abu atau bahkan hitam ia berharap dan sekuat tenaga mengupayakan hatinya untuk menjadi putih. Dalam keimanan pun manusia terkadang dihadapkan dengan dua karakter yang berbeda. Yang pertama, tentu saja karakter keimanan yang menanjak dan bertahan pada tingkat ketakwaan yang tinggi. Sedangkan yang kedua, karakter keimanan lemah yang cenderung menghantarkan manusia menjadi jumud dan statis dalam ketakwaan. Namun semua itu wajar, bahkan Rasulullah pun menegaskan bahwa perkara keimanan terkadang naik dan tak jarang juga menjadi lemah. Tergantung kepada kita ingin bersegera kembali dalam kekuatan iman ketika lemah, atau menikmati dan akhirnya tenggelam dalam likuan maksiat yang siap menghadang dan menerjang.
Berharaplah ada keringanan dan senantiasa meneguk nikmatnya hidayah ketika khilaf muncul dari arah yang tidak kita duga. Atau bahkan bersiap dengan taubat yang sungguh-sungguh ketika syaitan mampu memperdaya ketika kita lengah. Dan yakinkan diri kita bahwa Allah adalah pelindung yang akan senantiasa melindungi kita saudaraku karena sesungguhnya “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”(QS. Yunus: 62-64)




0 komentar:
Posting Komentar