
Udara mulai menyesakkan dada, debu menyeruak masuk ke dalam bus kota yang aku tumpangi, yang dalam waktu singkat dengan cepat merusak jaringan indra penciuman. Kondisi bus yang tua menambah keadaan lebih buruk, karena bus mengepulkan asap pekat, menandakan pembakaran yang tidak sempurna akibat bus sering tidak dirawat. Batuk dan bersin mulai menyerang. Duduk di deretan bangku belakang menjadikan cuaca yang begitu gerah semakin menambah penderitaan, tak terhitung telah berapa kali tangan kananku menyeka peluh yang membanjiri muka, leher dan tengkuk. Padahal, waktu ketika itu kurang-lebih sudah menunjukkan pukul 4 sore. Logikanya, terik seharusnya meredup, cuaca semestinya tak semakin memburuk, dan udara bisa lebih bersahabat.
Begitu padat aktifitas pulang sehingga tak satupun bangku bus yang terlihat kosong. Bagi yang mengejar waktu untuk segera pulang, entah karena kangen keluarga di rumah, ada urusan mendesak atau karena rasa letih yang tak tertahankan hingga terlihat semua orang menampakkan wajah kecut, kurang bersahabat bahkan dengan tatapan tajam memandang sekitarnya dengan sinis. Lama-lama aku membayangkan kondisi social di negeri ini sebentar lagi sama dengan Negara-negara individualistis yang seakan bangga dengan budaya acuh tak acuhnya. Padahal kita menjadi bagian dari bangsa timur yang terkenal akan tata karma, sopan santun dan kesusilaan.
Satu persatu penumpang mulai memenuhi bus yang aku tumpangi. Akhirnya menjadi begitu padat hingga menambah gerahnya cuaca. Bagi yang tak mendapatkan bangku untuk duduk, berdiri adalah solusi alternatif yang bisa diambil. Dada semakin sesak, sesesak bus yang dipadati penumpang.
Tanpa sadar ada teriakan dalam hatiku “Ya Allah…segera berikan hamba oksigen”. Sementara mulut tak berhenti beristighfar, menahan sabar karena sedari tadi seorang penumpang bertubuh gempal yang berdiri disampingku bergerak-gerak semaunya tanpa etika, menggoyang-goyang tubuhnya kearahku seiring dengan perjalanan bus yang geraknya tak mantap.
Bus seketika berhenti mendadak, mataku tertuju pada sosok wanita tua renta yang mulai melangkah memasuki bus, sempat mengumpati supir dan kondektur dalam hati yang dengan tega masih mencari penumpang di tengah kondisi yang tak kondusif seperti ini. Apalagi setelah tau penumpangnya adalah seorang nenek-nenek. Disela-sela kepadatan penumpang sang nenek masuk perlahan menuju ketengah bus. Aku menunggu kira-kira siapa pahlawan yang dengan ikhlas berdiri untuk memberikan bangkunya pada sang nenek. Mataku mengintai semua penumpang yang terdekat, semua rata-rata penumpang yang duduk adalah orang tua, dan wanita. Namun mataku tertuju pada sesosok pria, yang dari hasil pantauan mataku umurnya tak lebih dari 25 tahunan. Sang nenek semakin mendekat, namun belum terlihat adanya gerakan untuk mempersilahkan sang nenek untuk duduk dibangkunya. Dan akhirnya peristiwa yang ditunggu-tunggu tak jua terjadi. Ingin rasanya memanggil sang nenek untuk duduk di bangkuku. Namun karena melihat jarak, tingkat kepadatan, dan posisi duduk yang tak begitu baik untuk sang nenek, akhirnya aku urungkan niatku. “maafkan aku nek, setidaknya malaikat telah mencatat niat baikku yang benar-benar tulus.”
----oOo----
Pikiran melayang, entah apa yang mampu membuat manusia begitu rela menjadikan rasa kemanusiaannya hilang. Mementingkan egoisme diri, keuntungan sesaat dan melupakan kebaikan. Inilah tabiat sesungguhnya manusia. Menginginkan dirinya ditolong, namun sulit untuk menolong orang lain. Butuh akan uluran tangan orang lain, namun sulit mengulurkan tangan untuk orang lain.
Padahal belum sampaikah ayat al-Qur’an kepada mereka, “mā lakum lā tana shorūn”. “mengapa kamu tidak tolong-menolong?” (QS. Ash Shaaffaat: 25). Memang berat menjadikan diri kita untuk senantiasa mampu membantu orang lain. Namun bagi orang-orang yang gemar menolong orang lain merekalah orang-orang yang disabdakan oleh Rasulullah, “alyadul ‘ulya khairun minal yadis sulfa”. “tangan di atas lebih baik dari tangan yang di bawah” (HR. Bukhari, Muslim).
Selangka itukah kebaikan di negeri ini? atau sebegitu sulitkah mencari orang yang dengan ikhlas memberi apa yang ia miliki untuk orang lain? Jika semua jawaban itu benar maka kita harus berhati-hati jangan-jangan kita termasuk juga golongan orang-orang tersebut.
Mudah-mudahan menjadi perenungan dan pembelajaran bagi kita semua. Semoga Allah menjadikan kita senantiasa berada pada jalan kebaikan. Kebaikan yang mengajarkan kepada kita untuk senantiasa memberikan kebaikan serupa pada orang lain. Kebaikan yang lekat dalam kehidupan kita. Kebaikan yang pada akhirnya membawa kita ke dalam naungan kebahagiaan abadi. InsyaAllah….
Label:
Mutiara Hati



0 komentar:
Posting Komentar