
Wajah cantik itu tampak lemas tak berdaya. Air mata tumpah ruah tak tertahankan. Ada sebuah kerinduan terasa dari raut wajahnya. Kerinduan besar yang terselip untuk ibunda tercinta. Dahsyatnya gempa yang mengguncang kampung halamannya tak lagi ia rasakan. Karena kini ia merasakan sebuah penderitaan yang lebih dahsyat dari itu, kehilangan seorang ibu jauh lebih menyakitkan dibandingkan hempasan getaran gempa, berapapun besarnya.
Sesegukan disela-sela untaian kata yang menggetarkan, memohon pada pemirsa TV untuk segera menghubunginya jika menemukan atau melihat sang ibunda terkasih. Bibir mungil itu bergetar kencang akibat tak mampu menahan larut ketika seorang reporter meminta ia menyampaikan beberapa kata agar didengar oleh pemirsa TV. Setiap kata yang keluar dari lisannya seolah menggambarkan penderitaan yang begitu menyesakkan dada.
Itulah sekelumit gambaran yang terlihat jelas ketika sebuah TV swasta menayangkan berita kehilangan anggota keluarga dari salah seorang korban gempa Sumatra Barat. Ia ibarat “ambassador“ yang mewakili penderitaan korban gempa yang juga kehilangan anggota keluarganya. Entah tersesat, entah dirawat di posko-posko kesehatan, atau mungkin analisa yang paling memilukan adalah tewas tertimpa bangunan yang roboh.
Tak ada yang tau pasti keadaan korban gempa itu selain diri mereka sendiri. Bagi yang selamat ini boleh jadi sebuah teguran yang teramat indah sekaligus awal dari sebuah perbaikan diri. Bagi yang telah meninggal, semoga mereka menjadi para syuhada sebagaimana yang disampaikan Rasulullah lewat lisannya yang mulia, bahwa yang tewas akibat tertimpa bangunan termasuk buah dari kesyahidan.
Bagi orang-orang yang beriman, ujian, cobaan dan penderitaan adalah salah satu cara terbaik dari Allah untuk menguji hamba-hambaNya yang bertakwa. Simak dengan iman bagaimana sebuah ayat seharusnya mampu menyadarkan kita, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al 'Ankabuut: 2). Bahkan ditambahkan oleh Rasulullah “Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik maka ia diberi-Nya cobaan.”? (HR.Bukhari).
Belum cukupkah bagi kita menyadari bahwa ujian ini sebenarnya mampu mengeluarkan kekuatan dahsyat dalam diri kita. Kekuatan yang semakin lama akan semakin menguatkan kita bukan menterpurukkan kita. Karena sejatinya ketika kita mampu keluar dari masalah ini, maka besok jika dihadapkan lagi dengan masalah yang serupa kita akan mampu bertahan bahkan tersenyum karena punya rumus jitu untuk menyelesaikan masalah dengan cepat.
Sabarkan diri dalam menerima setiap ketetapan Allah, bukan berarti kita ingin memasrahkan diri tanpa perbuatan dan tindakan. Tapi lebih kepada menunggu hasil akhir setelah kita berusaha dengan maksimal. Dalam kaitannya dengan musibah ini, sabar menjadi untaian kata mutlak yang harus bersemayam di diri kita. Karena Rasulullah menyampaikan, “Sesungguhnya apabila Allah Ta’ala itu mencintai suatu kaum maka Ia mencobanya. Barang siapa yang rela menerimanya, ia mendapat keridhoan Allah, dan barang siapa yang murka, maka ia pun mendapat murka Allah” (H.R.Tirmidzi).
Jangan biarkan kepiluan semakin menterpurukkan kita, jadikan kesedihan sebagai langkah awal untuk mengubah keadaan agar bisa membiasakan kita menerima ketetapan Allah. Semoga Allah dengan rasa Kasih Sayang-Nya mampu mentarbiyah kita menjadi manusia-manusia unggul. Yang unggul dalam ilmu, unggul dalam amal serta unggul dalam kesabaran insya Allah……



0 komentar:
Posting Komentar