
Dunia adalah tempat yang licin nan menggelincirkan,
Rumah yang hina, bangunan-bangunannya akan runtuh,
Penghuninya akan beralih ke kuburan,
Perpisahan dengannya adalah keniscayaan,
Kekayaan di dunia sewaktu-waktu bisa berubah menjadi kemisinan
Jangan terpesona dengan kehidupanmu di dunia sehingga meninggalkan kehidupan akhirat.
Ketahuilah sesungguhnya hidupmu di dunia akan sirna,
Dindingnya juga miring dan hancur,
Maka perbanyaklah perbuatan baik
Dan jangan terlalu banyak berangan-angan.
(Imam Syafi’i)
Simak apa yang dilantunkan Imam Syafi’i dalam untaian sajak yang bisa mengingatkan kita atas jebakan dunia. Karena sebenarnya dunia dengan jebakannya siap merobohkan dan mendangkalkan hati nurani dan kejernihan pikiran kita saudaraku. Inilah tabiat dunia, mempesona orang-orang yang tak berfikir panjang, membuai orang-orang yang haus akan kenikmatan sesaat. Dan ironisnya ini menjadi penyakit kronis yang menyerang kebanyakan manusia, termasuk di negeri ini.
Akhir-akhir ini banyak polemik menghampiri bangsa kita, terasa terbis, buram bahkan memalukan. Inilah jejak langkah yang lambat laun akan terkuak. Ketika kezaliman menampakkan wujudnya, yang berkuasa adalah orang-orang yang ditangannya memegang berlembar-lembar uang yang dengan mudahnya membeli harga diri manusia. Yang dibeli pun seolah tak malu manunjukkan bobroknya moral mereka dengan menggadaikan hukum negara, menjual keadilan dan menyebarkan busuknya bau fitnah.
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka…...” (QS. Ar-Ruum : 41)
Inikah yang membanggakan seseorang ketika seragam lengkap dengan pangkat membalut tubuh yang sejatinya ringkih? Atau ini pulalah yang membuat orang-orang berebut untuk mendapatkan sebuah kursi jabatan yang sejatinya penuh pertanggung jawaban? Hanya untuk sebuah alasan sederhana, “agar harta melimpah dan dipuji banyak orang”. Jika itu alasannya maka tunggu saja, diakhir hidupmu akan merasakan hinanya dimaki, dicaci oleh orang yang dulu menjilat-jilatmu dengan muka manis.
Jangan harap dengan harta haram bisa bahagia. Karena mau atau tidak mau kita terhina dengan harta itu sendiri. Hancur karena kejahatan akibat tangan kita sendiri. Ibarat boomerang yang siap berbalik menekuk tuannya sendiri jika tak siaga.
“Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat).” (QS. Asy-Syuura: 48)
Kehidupan ibarat sebuah lorong yang sempit, pengap dan mampu memburamkan penglihatan mata. Jika tak hati-hati dapat dengan mudah menjerembabkan kita pada kehinaan, karena begitu banyaknya jebakan-jebakan yang tak terlihat mata. Belum sampai pada tujuan akhir, namun telah banyak menyerah karena terlena. Karena sejatinya jebakan itu sungguh melenakan saudaraku.
Coba simak sebuah kisah hidup yang menggadaikan kehidupan dunia demi kemuliaan. Ia mendapatkan pujian sekaligus mendapatkan doa dari Rasulullah. Kisah ini diriwayatkan oleh ‘Abd al-Jabbar ibn al-‘Ala dari Yusuf ibn ‘Athiyyah, dari Anas ibn Malik r.a.
Suatu ketika ada seorang pemuda dari kalangan Anshar menghampiri Rasulullah yang sedang berjalan-jalan. Melihat pemuda tersebut mendekatinya, Rasulullah tak segan menyapa terlebih dahulu, “wahai Haritsah, bagaimana engkau menyambut harimu?”.
Sang pemuda menjawab, “Aku menyambut hariku dalam keadaan beriman kepada Allah dengan benar.”
“Jelaskanlah apa yang kuucapkan, sebab setiap ucapan memiliki makna.” Ujar Rasulullah.
“wahai Rasulullah, aku menjauhkan jiwaku dari dunia. Aku menghabiskan malam dengan beribadah dan siang dengan berpuasa. Aku pun melihat Arsy Tuhan tampak nyata, para penduduk surga saling mangunjungi, dan penghuni neraka melolong minta tolong.”
“Kamu sudah tahu, kukuhkan tekadmu! Kamu adalah hamba yang Allah terangi hatinya dengan cahaya iman.”
“Rasulullah, doakanlah agar aku mati syahid.”
Rasulullah mengabulkan permintaan Haritsah dan mendoakannya agar mati Syahid. Lalu apa yang terjadi kemudian? Dalam sebuah peperangan Haritsah wafat dengan kemuliaan yang tinggi. Hingga Rasulullah meyakinkan ibunda Haritsah dengan pujian, “Haritsah saat ini sedang berada di surga yang tertinggi yakni surga Firdaus.”
Hanya orang-orang yang tak mudah tertipu silaunya dunia yang mampu bertahan dikerasnya ujian ini saudaraku. Haritsah mengajarkan kepada kita bahwa dunia tak lebih dari sekedar barang tanpa nilai. Hanya sebuah fase untuk menggapai kebahagiaan hakiki. Bukan berarti dunia tak mesti kita nikmati, tapi bagaimana kita menikmati dunia hanya sebatas bagaimana ia mampu mengantarkan kita pada kebahagiaan yang sejati. Perhatikan nasihat imam Syafi’i berikut ini agar kita terhindar dari jebakan lorong kehidupan yang melenakan.
“Maka perbanyaklah perbuatan baik…..
Dan jangan terlalu banyak berangan-angan……”
Wallahu a’lam…
Hujan mengguyur kota Palembang tercinta…
28 Muharram 1431 H/ 14 Januari 2010 M
Sebuah tulisan yang mudah-mudahan menjadi renungan untuk negeri….



0 komentar:
Posting Komentar