
Tampaknya negeri ini tak bisa jauh dari kontroversi. Mulai dari ranah politik, ekonomi, sosial, masyarakat, agama, hingga ranah hukum dan keadilan. Kembali masyarakat dipaksa untuk mengurut dada dan dibuat tidak percaya akan adanya keadilan dan kesetaraan di mata hukum di Negara ini. Bagaimana tidak? Baru-baru ini kita dikejutkan ada beberapa tahanan yang tersandung kasus hukum mampu tenang dan tersenyum-senyum ria menikmati fasilitas tak biasa dari sebuah penjara layaknya sedang berada di kamar hotel berbintang lima.
Salah satu tahanan terlihat sedang melakukan perawatan wajah disebuah kamar berukuran 8 x 8 meter lengkap dengan lemari pendingin, kamar mandi mewah, pendingin ruangan, TV, memiliki pembantu dan bahkan dalam ruangan tahanan lain ada fasilitas ruang karaoke.
Pertanyaan sederhana muncul, “lalu apa fungsi penjara bagi pelaku kejahatan?.” Bukankah penjara adalah tempat pembinaan mental dan sikap agar jadi lebih baik? Bukan sebaliknya, penjara menjadikan pelaku kejahatan semakin brutal dan menjadi-jadi setelah ia bebas dari penjara.
Mungkin Karena hal inilah kejahatan tak pernah pudar, karena bisa jadi ada anggapan penjara akan memanjakan mereka dengan berbagai aktifitasnya. Suap meraja lela dikalangan sipir. Lagi-lagi yang diuntungkan adalah yang berduit dan bisa menyuap. Maka wajar saja jika koruptor di negeri ini menjadikan jumlah uang sebagai prestise bagi mereka. Tak segan dan tak malu menjarah uang rakyat toh jika pun masuk penjara, kamar hotel prodeo bisa disulap menjadi kamar berkelas layaknya hotel berbintang lima. Maka tak aneh jika koruptor berlomba-lomba meninggikan nominal jarahan mereka agar lebih besar dari teman-teman koruptornya yang lain.
Tetap saja yang diuntungkan adalah orang kaya. Hingga wajar jika istilah “The rich richer, the poor poorer” yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin menjadi latar belakang sosial bagi masyarakat Indonesia. Betapa tidak? Dengan uang-uang haram, mereka bisa menyuap orang-orang bermental kerdil seperti sipir-sipir penjara agar bisa memasukkan barang-barang tak layak ke dalam penjara.
Lalu bagaimana nasip tahanan yang miskin? Mereka tergilas dalam penderitaan yang berkepanjangan. Bertumpuk-tumpuk dalam penjara kecil layaknya ikan sarden dalam kaleng. Jangankan AC, tiupan angin luar pun berubah menjadi pengap akibat berjubelnya orang-orang dalam sel yang sempit. Jangankan sofa empuk, untuk duduk di lantai tanpa alas pun diatur sedemikian rupa agar semua bisa muat. Jangankan untuk berkaraoke, menyanyikan lagu lawasnya D’loyd “Hidup di Bui” pun mungkin mereka tak sanggup.
Coba bandingkan dengan sistem keadilan dalam Islam. Dalam penerapan hukum Islam ada beberapa prinsip penting yang harus diperhatikan. Pertama, Tauhid. Kedua, Keadilan. Ketiga, Amar ma’ruf nahi munkar. Keempat, al-Hurriyah (kemerdekaan). Kelima, al-Musawwa (persamaan). Keenam, al-Ta’awun (tolong menolong) dan ketujuh, al-Tasamuh (Toleransi). Jadi, keadilan merupakan salah satu prinsip dalam hukum Islam.
Begitu perkasanya hukum Islam hingga sejarah membuktikan berabad-abad dunia diterangi dengan keadilan ketika Islam menjadi pemimpin peradaban di masa lampau. Bandingkan dengan 2 abad yang kini di pimpin oleh dunia Barat, semua menjadi kabur bahkan menjadi buram.
Disadari atau tidak keadilan menjadi tujuan mutlak dari hukum. Keadilan adalah tolok ukur keberhasilan sebuah hukum, oleh karenanya sangat aneh jika ada hukum yang tidak mampu memberikan keadilan bagi manusia. Islam sangat menekankan keadilan terhadap semua makhluk. Tidak ada yang diistimewakan dan dibeda-bedakan. Bahkan Rasulullah pun menyatakan akan memotong tangan Fatimah jika ia mencuri.
Simak bagaimana Allah menegaskan dalam Firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 5: 8). Bayangkan begitu indahnya Islam dalam mengatur keadilan walaupun kepada kaum yang kita benci sekalipun. Tak ada keadilan yang lebih indah dari keadilan yang ditampilkan oleh Islam.
Keadilan adalah keniscayaan yang kita butuhkan, dengan keadilan akan membawa kita pada sebuah peradaban baru yang lebih baik karena sejatinya keadilan melahirkan mentalitas-mentalitas baru yang memikirkan kemajuan bersama bukan kemajuan pribadi. Percayalah keadilan bisa ditegakkan jika kita bersama meyakini Islam adalah solusi terbaik bagi bangsa ini. Wallahu’alam.
Label:
renungan



0 komentar:
Posting Komentar